Home / Travel / Tengu: Setan Jepang yang Sombong dan Sakti Mandraguna Bagaikan Dewa Kecil

Tengu: Setan Jepang yang Sombong dan Sakti Mandraguna Bagaikan Dewa Kecil

header 640x 28

Mengenal Tengu, Roh Gunung Legendaris dalam Mitologi Jepang

Dalam cerita rakyat Jepang, terdapat banyak sekali kisah tentang roh, makhluk supranatural, dan iblis yang dikenal sebagai yokai. Di antara sekian banyak yokai tersebut, tengu mungkin adalah sosok yang paling tidak asing bagi masyarakat modern. Sekilas, karakteristik mereka mirip seperti pahlawan super: kemampuan terbang, kekuatan fisik yang luar biasa, ilmu sihir, serta keahlian seni bela diri rahasia. Namun, tengu bukanlah ciptaan buku komik semata, melainkan makhluk dengan sejarah panjang yang berakar mendalam dalam kebudayaan dan agama di Jepang.

Serupa dengan kitsune dan tanuki, tengu pada mulanya digambarkan sebagai hewan, tetapi evolusi bentuknya mengalami lebih banyak perubahan dan liku-liku. Hubungannya dengan agama Buddha juga sangat erat, meski bukan hubungan yang harmonis. Tengu dikenal sebagai musuh bebuyutan ajaran Buddha, di mana sebagian besar sejarah mereka dihabiskan untuk mencoba menyesatkan manusia agar keluar dari jalan pencerahan.

Tengu lebih menyerupai dewa minor daripada yokai jenis pengganggu lainnya, dan mereka menuntut untuk diperlakukan sebagaimana mestinya. Mari telusuri lebih jauh untuk memahami salah satu bagian terkaya dan paling penting dalam cerita rakyat Jepang ini.

Jenis-Jenis Tengu

Meskipun Anda mungkin sudah akrab dengan topeng tengu berwajah merah dan berhidung panjang, faktanya terdapat dua jenis tengu yang berbeda. Menariknya, jenis tengu yang muncul lebih dulu justru dianggap berada di tingkat yang lebih rendah dibandingkan yokai versi baru.

1. Daitengu

daitengu

Daitengu atau Tengu Agung adalah makhluk semi-manusia yang mengesankan dengan ciri khas berupa hidung yang sangat panjang dan sayap berukuran besar. Topeng berwarna merah cerah dengan hidung panjang yang sering Anda lihat merepresentasikan wajah dari daitengu ini. Saat ini, ketika orang menyebut kata “tengu”, sosok inilah yang biasanya dimaksud. Mereka tinggal di hutan pegunungan yang lebat, dan beberapa gunung tertentu dipercaya sebagai tempat tinggal daitengu spesifik yang memiliki nama masing-masing.

Beberapa kekuatan mereka, seperti kemampuan merasuki tubuh, mirip dengan yokai lain, namun daitengu memiliki keahlian khusus termasuk mengendalikan angin, ilmu pedang, dan kemampuan terbang. Daitengu sering kali menculik manusia, terkadang untuk menyiksa mereka, tetapi di lain waktu untuk mengajarkan ilmu sihir. Manusia bahkan ada yang sengaja mencari daitengu demi mempelajari rahasia mereka, meski pada akhirnya sering kali berujung penyesalan.

Selain wajah merah, jubah, dan sayapnya, daitengu sering digambarkan memegang kipas besar yang digunakan untuk memicu angin puyuh rahasia. Mereka dipercaya sebagai penyebab perang dan bencana alam. Dengan sifat sombong serta kecenderungan mereka terhadap kekacauan dan keliaran, tidak heran jika banyak penulis menghubungkan daitengu dengan dinamika masyarakat manusia.

2. Kotengu

kotengu

Jenis tengu lainnya disebut sebagai kotengu (tengu kecil) atau karasutengu. Kata “karasu” berarti gagak, tetapi kotengu juga dapat mengambil wujud burung pemangsa lainnya, terutama burung alap-alap hitam (tobi). Mereka juga mengenakan jubah biksu, tetapi perilakunya jauh lebih menyerupai hewan asli. Jika daitengu kerap merencanakan kekacauan sosial dan mengganggu urusan agama, kotengu beroperasi dalam skala yang lebih kecil. Ancaman utama dari mereka adalah risiko Anda akan dimangsa. Dalam beberapa cerita rakyat, kotengu digambarkan mudah untuk ditipu—sesuatu yang sama sekali tidak boleh Anda coba pada daitengu.

Pada era modern, kotengu terkadang dianggap sebagai pelayan dari daitengu, namun bukan seperti itulah asal-usulnya. Kotengu sebenarnya adalah bentuk asli dari tengu di masa lampau. Dengan kata sebutan lain, dulunya tengu yang menyerupai burung adalah satu-satunya jenis yang ada. Seiring dengan perubahan makna dan perkembangan signifikansi goblin ini, wujud mereka menjadi semakin menyerupai manusia, di mana paruh burung perlahan bertransformasi menjadi hidung panjang.

Kendati tengu berwujud manusia telah muncul, citra burung aslinya tidak lantas punah, sehingga era modern mengenal dua jenis tengu sekaligus. Meskipun kotengu adalah wujud aslinya, posisinya kini menjadi sekunder. Cerita-cerita yang paling menarik biasanya berpusat pada daitengu yang kuat, cerdas, berbahaya, arogan, dan menyerupai manusia.

Evolusi Tengu

tengu kicking backside

Kisah-kisah awal mengenai tengu memiliki banyak kesamaan dengan cerita yokai lainnya. Selama abad ke-9 dan ke-10, mereka digambarkan sebagai setan gunung pengiseng yang melakukan aktivitas khas yokai: memancing manusia ke dalam hutan lewat suara musik, melempari rumah dengan batu, serta menampakkan diri sebagai api ignis fatuus. Tengu juga merasuki orang-orang yang buta huruf, di mana hal itu langsung ketahuan ketika mereka tiba-tiba mampu menulis kanji. Mereka pun sangat gemar memicu kebakaran. Seperti yang diungkapkan seorang penulis, “Segala sesuatu yang aneh dan misterius diatribusikan kepada mereka,” yang kurang lebih merupakan definisi dasar dari yokai.

Gambaran tersebut tentu berbeda jauh dari sosok iblis kuat yang kita kenal hari ini. Pada kisah-kisah paling awal, tengu sangat mudah dikalahkan. Dalam sebuah cerita yang menyoroti kekuatan mereka dalam mengubah bentuk, sesosok Buddha muncul di atas pohon dikelilingi cahaya terang dan hujan kelopak bunga. Seorang menteri yang cerdik mencurigai trik tersebut, lalu duduk dan menatapnya selama satu jam. Kekuatan tengu itu pun melemah hingga akhirnya berubah wujud menjadi burung alap-alap kestrel dan jatuh dari pohon dengan sayap patah. Cukup mudah, bukan?

Kisah tersebut mengandung benih dari bagaimana yokai ini berkembang secara berbeda dari yokai lainnya, yakni melalui hubungan mereka dengan agama Buddha. Tengu kemudian memainkan peran khusus sebagai musuh bebuyutan dari keyakinan tersebut.

Abad ke-11 dan ke-12

Tengu possesses monk

Memasuki abad ke-11, banyak legenda tengu yang berkembang mulai dikumpulkan dalam 31 jilid buku berjudul Konjaku Monogatari (hanya 28 jilid yang masih bertahan hingga kini). Dalam kisah-kisah ini, terlihat kemampuan mereka menyamar menjadi Buddha demi memperdaya para biksu. Penculikan terhadap pendeta Buddha telah menjadi salah satu trik favorit mereka, di samping upaya mengecoh para biksu agar memperoleh kekuatan dari tengu alih-alih menempuh jalan pencerahan yang sesungguhnya.

Daya tarik bagi para biksu tersebut terletak pada kenyataan bahwa kekuatan supranatural yakai benar-benar berfungsi. Dalam sebuah cerita, seorang pendeta gunung yamabushi berhasil menyembuhkan seorang kaisar yang sedang sakit, namun para pendeta istana merasa curiga dan mulai membacakan mantra padanya. Sambil jatuh tersungkur ke lantai, yamabushi tersebut memohon pengampunan atas tindakannya.

“Selama bertahun-tahun aku telah memuja para tengu dan berdoa kepada mereka agar aku menjadi terkenal! Sungguh sebuah kesalahan yang mengerikan!”

Mengapa mereka menyesal? Mempelajari kekuatan tengu tidak akan membawa seseorang menuju pencerahan, meskipun mereka berhasil menyelamatkan nyawa seorang kaisar. Pada akhirnya, ini adalah soal prioritas—dengan asumsi bahwa sebagai seorang pendeta Buddha, prioritas utama seharusnya adalah pencerahan, bukan ketenaran duniawi atau pujian karena menyembuhkan orang penting. Sekte-sekte Buddha yang berselisih sering kali menyebut sekte saingan mereka sebagai “tengu” untuk mendemonisasi dan menyiratkan bahwa ajaran lawan berbahaya atau penuh tipu muslihat. Memasuki abad ke-12, berkembang gagasan bahwa para pendeta yang buruk kelak akan terlahir kembali menjadi tengu setelah meninggal dunia.

Seiring berjalannya waktu, ambisi tengu meningkat melampaui sekadar mengganggu rakyat jelata dan pendeta Buddha. Dalam sebuah kisah, seorang kaisar mengalami kebutaan meski sesekali masih mendapatkan kilatan penglihatan. Seekor tengu (yang merupakan arwah seorang pendeta) muncul dan menjelaskan situasinya: “Aku sedang menunggangi leher Kaisar dan menutupi matanya dengan sayapku; ketika aku mengepakkan sayapku, dia bisa melihat sedikit.”

Sekte-sekte Buddha yang berselisih sering kali menyebut sekte saingan mereka sebagai “tengu” untuk mendemonisasi dan menyiratkan bahwa ajaran lawan berbahaya atau penuh tipu muslihat.

Penting untuk diingat bahwa sebagian besar visual jelas tentang yokai yang kita miliki saat ini baru muncul pada periode Edo. Sebagian besar bermula dari fenomena atau kejadian ganjil yang baru dipersonifikasikan dan diberi bentuk visual di kemudian hari. Dalam cerita-cerita awal, hampir tidak ada referensi mengenai wujud fisik tengu. Seringkali, mereka bahkan digambarkan tidak kasat mata.

Terdapat pula kemiripan yang erat antara citra tengu dan Garuda, dewa berwujud burung dari mitologi Buddha dan Hindu. Oleh karena itu, tampaknya citra tengu berkembang dari unsur yang berasal dari China yang kemudian diasosiasikan dengan iblis cerita rakyat lokal yang telah lebih dulu ada. Seorang sarjana bahkan berpendapat bahwa para pendeta Buddha dengan sengaja membuat asosiasi ini karena melihat kemiripannya dengan Garuda. Kendati demikian, bagaimana hubungan ini bisa terbentuk tampaknya telah hilang ditelan sejarah.

Abad ke-13 hingga ke-18

tengu holding a sword

Pada abad ke-13, tengu mulai menampakkan diri dalam samaran yamabushi, yaitu para pendeta pertapa gunung. Beberapa pakaian yang dikenakan oleh tengu dalam gambaran seni mulai mengadopsi jubah tradisional yamabushi. Namun, berbeda dari para pertapa yang rendah hati tersebut, tengu justru ingin disembah oleh manusia.

Periode ini juga menandai awal mula reputasi tengu dalam penguasaan seni bela diri, termasuk legenda bahwa samurai Minamoto no Yoshitsune mempelajari ilmu pedang termasyhurnya dari tengu bernama Soujoubou. Tengu juga mulai menculik anak-anak di sekitar masa ini, sebuah elemen penting dalam kisah mereka yang akan dibahas lebih mendalam nanti.

Wujud tengu mulai tampak semakin menyerupai manusia menjelang abad ke-14, di mana versi berhidung panjang mulai bermunculan. Sebagaimana dicatat oleh seorang sarjana, dewa dan iblis berwujud hewan memiliki kecenderungan untuk berevolusi menjadi bentuk manusia—kemungkinan besar karena wujud tersebut jauh lebih fungsional dalam alur sebuah cerita.

Evolusi ini jelas terjadi pada tengu: mula-mula mereka adalah burung pemangsa, lalu berubah menjadi manusia berkepala burung, kemudian memiliki paruh burung, hingga akhirnya paruh tersebut bertransformasi menjadi hidung yang panjang. Meskipun demikian, visual jenis tengu yang lama tidak serta-merta punah, yang pada akhirnya memunculkan keyakinan modern bahwa terdapat dua jenis tengu dengan jenis yang menyerupai manusia dianggap lebih superior.

Seiring dengan semakin menyerupainya mereka dengan manusia, mulai bermunculan pula cerita tentang individu tengu tertentu yang menghuni gunung-gunung tertentu, yang bisa berwatak baik maupun jahat. Tujuan mereka menjadi lebih luas, yakni mengacaukan tatanan masyarakat manusia secara umum—terutama memicu peperangan—ketimbang sekadar berfokus mengganggu agama Buddha. Memasuki abad ke-17, catatan kisah mulai mendeskripsikan tengu sebagai makhluk yang memiliki kekuatan fisik luar biasa.

Abad ke-19 hingga Era Modern

tengu carrying naked man in air

Semakin mendekati era modern, narasi tentang tengu terasa semakin akrab. Pada abad ke-19, terdapat penekanan yang lebih besar pada kemampuan terbang dalam cerita-cerita mereka, yang menjadi salah satu pembeda utama tengu dari yokai lainnya. Berbagai kisah menceritakan orang-orang yang diculik tengu kemudian jatuh dari langit. Dalam sebuah catatan tahun 1810, seorang pria telanjang dilaporkan jatuh dari langit di Asakusa. Ia menjelaskan bahwa dirinya telah meninggalkan Kyoto dua hari sebelumnya untuk berziarah sebelum akhirnya dibawa terbang oleh seekor tengu. Seorang yang skeptis mungkin menganggap ini sebagai alibi yang bagus untuk mengalihkan perhatian orang dari alasan mengapa seseorang tergeletak di jalanan dalam keadaan telanjang, tetapi siapa yang tahu? Terdapat pula kisah di mana seorang pendeta secara tiba-tiba berubah menjadi tengu, menumbuhkan sayap, lalu terbang pergi. Tengu konon mampu mengendalikan hujan, angin, dan petir: mereka memicu badai dahsyat saat sedang marah serta dapat menciptakan angin puyuh yang mengangkat manusia ke udara.

Di sisi lain, terdapat pula cerita di mana tengu bersikap baik atau kemarahan mereka dapat diredam. Mungkin karena mereka telah menjadi begitu kuat, masyarakat membutuhkan cara agar tidak terlalu merasa takut pada makhluk ini. Mereka dipandang sebagai penjaga hutan tempat tinggal mereka, di mana para penebang kayu konon dapat meredam kemarahan mereka setelah menebang pohon dengan memberikan persembahan berupa kue beras atau ikan. Ada pula kisah mengenai sebuah biara yang tamannya selalu bersih tanpa ada seorang pun yang merawat atau menyapunya. Seluruh pintu dan gerbang dibiarkan terbuka karena para pencuri yang masuk tidak dapat menemukan jalan keluar. Semua kemudahan itu berkat satu sosok tengu pelindung.

Kanji Tengu yang Penuh Misteri

dog flying through sky

Setelah memahami sejarah dan karakteristik tengu, muncul sebuah pertanyaan yang wajar: Mengapa kanji yang digunakan untuk menulis namanya memiliki arti demikian?

天狗(てんぐ)
Tengu

Kanji untuk kata tengu secara harfiah berarti “anjing surgawi” atau “anjing langit”. Sosok tengu memang memiliki unsur surgawi karena kemampuannya terbang. Namun, meskipun rupa fisiknya telah mengalami perubahan selama berabad-abad, tidak ada satupun aspek dari tengu yang menyerupai seekor anjing. Lantas, mengapa ia dinamai demikian?

Catatan tertua mengenai penggunaan istilah tersebut di Jepang berasal dari tahun 637, yang merujuk pada suatu fenomena dalam mitologi China. Ketika suatu objek menyerupai bintang jatuh yang bising muncul di langit, seorang biksu menjelaskannya sebagai “anjing surgawi, yang suara gonggongannya bagaikan suara petir.”

Anjing surgawi dalam mitologi China menyerupai komet atau meteor yang diiringi suara gemuruh petir, serta dianggap sebagai pertanda perang. Dalam beberapa cerita, ketika makhluk itu turun ke bumi, ia mengambil wujud seekor anjing. Kemiripan terdekat dengan visual tengu dapat ditemukan dalam sebuah sumber cerita China dari tahun 1672: seorang penduduk desa melihat makhluk di atas atap rumah tetangganya “menyerupai seekor anjing, namun berdiri tegak seperti manusia. Ia memiliki paruh yang tajam, bagian atas tubuhnya berwarna merah, dan bagian bawahnya berwarna biru nila. Ekornya menyerupai sapu.” Kendati demikian, deskripsi ini bukanlah gambaran yang umum. Dalam sumber lain yang lebih realistis, sebuah bintang jatuh digambarkan berubah menjadi “sebuah batu berbentuk kepala anjing.”

Kanji untuk tengu 天狗 berarti “anjing surgawi.” Tengu memang memiliki unsur surgawi, namun tidak pernah ada satupun hal pada dirinya yang menyerupai anjing.

Namun tunggu dulu, persoalannya menjadi semakin rumit! Terdapat pula catatan dalam sumber-sumber China yang menyebutkan anjing surgawi sebagai iblis yang lebih mirip hewan yang tinggal di pegunungan. Bahkan ada makhluk China lain bernama rubah surgawi, yang karakteristiknya sangat mirip dengan kisah-kisah tentang tengu: makhluk ini dapat mengubah bentuk, menyamar sebagai Buddha, memicu kebakaran, serta memiliki kekuatan merasuki manusia…

Semua peristiwa ini terjadi pada masa lampau dan diturunkan melalui tradisi lisan, sehingga urutan pasti dari asosiasi serta perubahannya tidak akan pernah diketahui secara pasti. Seorang sarjana berteori bahwa orang Jepang pada masa itu kesulitan membedakan antara Anjing Surgawi dan Rubah Surgawi, hingga akhirnya nama yang pertama disematkan pada makhluk lokal yang memiliki kekuatan dari makhluk yang kedua.

Penculikan oleh Tengu: Kisah Torakichi, Anak Laki-Laki Zaman Edo

tengu teaching torakichi

Tengu sering kali menculik para pendeta, tetapi mereka juga kerap melarikan anak-anak. Sebagian anak mengalami kerusakan mental permanen akibat pengalaman tersebut. Sebagian lainnya mengalami mengigau atau tidak sadarkan diri selama beberapa hari sebelum akhirnya pulih. Tokoh cerita rakyat ternama Yanagita Kunio menceritakan bahwa anak-anak lelaki di desa pegunungan tempat ia dibesarkan, bahkan hingga akhir abad kesembilan belas, masih terus membicarakan ketakutan mereka akan diculik oleh tengu.

Meskipun demikian, ada salah satu anak laki-laki yang kembali dalam kondisi yang justru diuntungkan oleh pengalaman tersebut. Torakichi mengaku bahwa dirinya telah diculik dan dilatih oleh para tengu. Seorang penulis Jepang, Hirata Atsutane, menginterogasinya mengenai pengalaman tersebut dan menulis sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 1822.

Hirata merupakan seorang sarjana serius yang mendalami teori tentang dunia lain. Kendati paham skeptis mulai mengakar pada masa itu, era tersebut masih diwarnai oleh masyarakat yang menganggap legenda-legenda semacam ini dengan serius. Sebagai bukti, menjelang kunjungan Shogun Iemochi pada tahun 1860, para pejabat kota Nikko memasang sebuah pengumuman resmi:

Kepada para tengu dan iblis lainnya: Berhubung Shogun kita bermaksud mengunjungi makam Nikko pada April mendatang: Maka dari itu, para tengu dan iblis lain yang menghuni pegunungan ini diwajibkan untuk pindah ke tempat lain hingga kunjungan sang Shogun selesai.

Oleh karena itu, ketika Hirata mendengar tentang seorang anak lelaki yang menceritakan pengalamannya hidup bersama tengu, ia tidak memandangnya sekadar sebagai cerita rakyat semata—ia mempercayainya mentah-mentah. Keyakinan itu begitu kuat hingga ia bahkan “mengambil alih” Torakichi dari sarjana lain yang juga tertarik pada kisah anak tersebut.

Bagi Torakichi sendiri, tinggal bersama sarjana yang mana mungkin tidak terlalu jadi masalah besar. Ia adalah anak berbadan lemah yang lahir dari keluarga miskin dan tidak memiliki banyak pilihan hidup. Di sisi lain, Hirata melihat Torakichi sebagai sumber berharga untuk membuktikan teori-teorinya seumur hidup, dan Torakichi merasa baik-baik saja dengan kesepakatan tersebut.

Torakichi mengaku bahwa dirinya telah diculik dan dilatih oleh para tengu. Seorang sarjana Jepang bernama Hirata Atsutane menginterogasinya dan menulis sebuah buku pada tahun 1822.

Torakichi menggunakan kemampuan berceritanya dengan sangat baik untuk bertahan hidup. Hirata tertarik pada setiap detail keseharian, dan Torakichi memiliki semuanya—mulai dari cara tengu membuat mochi hingga resep pengobatan ambeien ala mereka—di samping berbagai pertanyaan spiritual serta hal-hal yang ingin diketahui orang banyak (seperti bagaimana rasanya terbang di udara).

Beberapa ceritanya dapat dijelaskan sebagai dramatisasi dari peristiwa alam yang normal. Ia menceritakan satu anekdot seru tentang makhluk yang terbang turun dan menempel di wajahnya—ukurannya tidak terlalu besar, tetapi ganas dan memiliki cakar yang tajam. Deskripsi ini sangat mirip dengan tupai terbang Jepang. Di lain waktu, ia mengaku diserang oleh bayi naga yang mencoba menariknya ke dalam air, yang kemungkinan besar adalah perjumpaannya dengan seekor ular besar. Torakichi yang merupakan anak kota tentu tidak begitu akrab dengan alam liar, sehingga hal-hal alami tersebut mudah disalahartikan dan diubah menjadi cerita yang menakjubkan.

Kisah lainnya tampak berakar dari cerita rakyat yang sudah dikenal luas, seperti ceritanya tentang monyet menyerupai orangutan berwajah manusia yang sangat menyukai sake—ia menyebutkan bahwa makhluk tersebut mampu meracik minuman keras yang sangat lezat.

Namun, dalam situasi lain, ia memang terbukti sebagai seorang pendongeng ulung yang mahir merangkai detail untuk memukau audiensnya. Berikut adalah penuturannya mengenai sensasi terbang di udara:

“Ketika seseorang naik ke langit, rasanya agak mirip seperti menginjak kapas lembut—bisa jadi itu awan, entahlah. Tetapi saat melesat kencang seolah ditiup angin lebih cepat daripada anak panah, satu-satunya sensasi yang dirasakan adalah bunyi berdenging di telinga. Sebagian orang lebih suka terbang tinggi di langit, sementara yang lain memilih terbang rendah, mirip seperti ikan yang berenang mendekati permukaan air atau di kedalaman.”

“Apakah kamu lepas landas dari puncak gunung atau dari pucuk pohon yang tinggi?”

“Tidak selalu. Kamu bisa lepas landas dari mana saja yang kamu suka.”

“Apakah di langit itu terasa dingin atau panas?”

“Saat pertama kali meninggalkan tanah, udara terasa semakin dingin, tetapi begitu melewati kutub dingin, suhunya menjadi sangat panas. Ketika kamu berada di antara wilayah dingin dan panas, kamu akan merasa dingin dari pinggang ke bawah seolah berdiri di dalam air, namun terasa panas membakar di bagian atas. Saat naik lebih tinggi lagi memasuki wilayah panas seutuhnya, rambutmu mulai ikal ketat seperti rambut pada patung Buddha. Dan ketika kamu naik ke tempat yang jauh lebih tinggi, kamu akan mendapati cuaca yang sangat tenang, tanpa hujan ataupun angin.”

Ia juga pandai mengatakan apa ingin didengar oleh Hirata, atau memberikan rasionalisasi yang cerdik ketika ada ketidakcocokan. Ketika Hirata menyatakan bahwa deskripsi Torakichi mengenai perjalanan ke bulan tidak sesuai dengan informasi buku yang diketahuinya:

Torakichi tertawa dan berkata, “Teorimu cacat karena didasarkan pada informasi di dalam buku. Aku tidak tahu soal buku; aku berbicara berdasarkan apa yang kulihat dari dekat.”

Berikut adalah contoh lain yang cukup menggelikan ketika Torakichi menuruti keinginan Hirata (“tuanku” yang dimaksud adalah sang tengu):

Selain itu, karena aku [Hirata] merasa sangat terganggu ketika bulu hidungku tumbuh keluar lubang hidung, aku selalu menyediakan pinset agar bisa segera mencabut bulu-bulu tersebut. Melihat hal ini, Torakichi berkata, “Bulu hidung yang panjang adalah tanda umur panjang dan tuanku percaya bahwa bulu itu tidak boleh dicabut sama sekali. Bulu hidung tuanku sangat panjang. Ada lima atau enam helai yang tumbuh dari kedua lubang hidungnya dan begitu panjang hingga tidak dapat dibedakan dari kumisnya. Tuanku merawat bulu hidung itu dengan sangat baik.”

Kisah hidup Torakichi berakhir dengan ironi: Setelah Hirata kehilangan minat padanya, Torakichi akhirnya menemukan cara lain untuk mencari nafkah, yakni dengan menjadi seorang pendeta Buddha.

Tengu dalam Budaya Populer

Children reading manga

Dengan karakter yang kaya dan kompleks, tidak heran jika tengu masih banyak diadaptasi hingga hari ini. Mereka muncul dalam berbagai manga, anime, dan video game. Hampir setiap alur cerita atau latar dunia yang melibatkan yokai pasti menyertakan setidaknya satu karakter tengu. Berikut adalah beberapa contoh karya di mana tengu memegang peran penting:

  • The Eccentric Family: Serial anime bertema tengu ini diangkat dari novel karya Tomihiko Morimi yang tayang pada tahun 2013. Ceritanya berfokus pada keluarga tanuki yang tinggal di Kyoto modern serta interaksi mereka dengan dunia manusia dan tengu. Salah satu karakternya, Benten, adalah seorang gadis muda yang diculik dan dilatih dalam seni kepemilikan tengu, termasuk kemampuan terbang—sebuah sentuhan modern, mengingat anak-anak yang mempelajari kekuatan tengu dalam kisah klasik biasanya adalah anak laki-laki.

  • Black Bird: Bagi penggemar fiksi vampir romantis, kisah manga ini menghadirkan sentuhan tengu yang unik. Ceritanya mengikuti seorang gadis remaja yang menyadari bahwa darahnya memberikan kekuatan luar biasa bagi para iblis yang meminumnya, sementara kekasih masa kecilnya ternyata adalah pewaris klan tengu yang diramalkan menjadikannya sebagai pengantin. Sang kekasih melindunginya dari iblis-iblis lain yang terus memburunya demi memakan dagingnya yang juga menjanjikan keabadian.

  • Kamisama Kiss: Tengu turut menjadi karakter penting dalam manga dan anime populer Kamisama Kiss. Salah satu karakternya, Kurama, berprofesi sebagai idola pop dengan imej “malaikat jatuh” yang mengenakan riasan gaya goth serta sayap yang dikira penonton sebagai properti panggung belaka.

  • Tactics: Sesosok onikui tengu (tengu pemakan oni) menjadi salah satu karakter utama dalam manga dan anime Tactics. Karakter utama lainnya, Kantaro, adalah tipikal anak laki-laki yang dapat melihat yokai ketika orang lain tidak bisa, yang kemudian tumbuh dewasa menjadi seorang peneliti cerita rakyat.

Tengu Terkenal dan Tempat Pemujaannya

Tengu flying around mountain

Seiring dengan berkembangnya legenda tengu yang memberikan nama dan latar belakang spesifik pada masing-masing individu, muncul pula dorongan untuk menentukan peringkat siapa tengu yang terhebat.

Berdasarkan pandangan filsuf Hayashi Razan, tiga tengu terbesar terdiri dari:

  1. Soujoubou dari Gunung Kurama (Kyoto)
  2. Taroubou dari Gunung Atago (Kyoto)
  3. Jiroubou dari Gunung Hira (Pegunungan Hira di sebelah barat Danau Biwa)

Soujoubou dari Gunung Kurama memiliki signifikansi yang sangat tinggi. Terkadang dijuluki Raja Tengu, dialah sosok yang mengajarkan ilmu pedang kepada Minamoto no Yoshitsune. Terdapat pula legenda bahwa pendiri Aikido, Morihei Ueshiba, mempelajari seni bela diri dari tengu ini.

Daftar tersebut bukanlah satu-satunya catatan yang ada. Berdasarkan catatan sejarah, banyak tokoh masa lampau menghabiskan waktu untuk memetakan para tengu. Terdapat 17 tengu agung yang tercatat dalam karya abad ke-18 Tengu Meigikou, daftar 48 tengu pada periode Edo (disebut Tengu Tate), serta daftar tradisional berisi delapan tengu terkemuka berikut (di mana akhiran “-bou” pada sebagian besar nama menunjukkan status mereka sebagai pendeta Buddha):

Soujoubou dari Gunung Kurama memegang peranan yang sangat penting. Sering dijuluki sebagai Raja Tengu, dialah yang mengajarkan ilmu pedang kepada Minamoto no Yoshitsune.

  1. Atagoya Taroubou – Kyoto: Tengu ini bertugas melindungi kuil Atago yang didedikasikan bagi dewa Izanagi. Ia ditugaskan oleh Buddha sejak sekitar 3.000 tahun lalu dan dianggap sebagai perwakilan dari seluruh tengu di Jepang. Namanya pertama kali disebutkan menyusul kebakaran besar di Kyoto pada tahun 1177 yang diyakini disebabkan olehnya.

  2. Kuramayama Soujoubou – Kyoto: Sosok Raja Tengu legendaris yang telah disebutkan sebelumnya.

  3. Hirasan Jiroubou – Shiga: Tengu ini awalnya bermarkas di Gunung Hiei dan dikabarkan sekuat Taroubou, namun ia kemudian pindah ke Gunung Hira setelah para biksu berkuasa mengambil alih wilayah tersebut.

  4. Izuna Saburou – Nagano: Tengu ini terkenal memiliki jumlah murid yang melampaui “Fujitarou” dari Gunung Fuji. Berbagai mukjizat kerap dikaitkan dengannya, seperti saat ia membagikan pasir dari puncak gunung Izuna untuk menyelamatkan banyak nyawa warga yang mengalami gagal panen.

  5. Sagami Ooyamahoukibou – Kanagawa: Tengu yang berpindah lokasi dari Gunung Houki Daisen di Tottori untuk menggantikan posisi penjaga sebelumnya di wilayah lain.

  6. Hikozan Buzenbou – Fukuoka: Dikenal sebagai pemimpin para tengu di wilayah Kyushu yang mengawasi perilaku manusia.

  7. Oomine Zenki – Nara: Sepasang suami istri oni (iblis) yang bertobat setelah anak mereka disembunyikan oleh pendeta En no Ozuno, di mana Zenki kemudian bertransformasi menjadi tengu pelindung.

  8. Shiramine Sagamibou – Kagawa: Tengu yang pindah ke pulau Shikoku untuk menenangkan arwah Kaisar Suutokujoukou yang wafat dalam pengasingan.

Bagi Anda yang ingin mengunjunginya secara langsung, tengu di Gunung Takao menjadi salah satu destinasi yang paling mudah diakses karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari pusat Tokyo. Dewa yang disemayamkan di sana adalah Izuna Daigongen, yang memadukan unsur dari lima dewa sekaligus. Patung kedua jenis tengu berdiri tegak di depan Aula Izuna Gongen-do.

Festival Tengu di Jepang

Tengo eating dango

Selain kuil-kuil di pegunungan, keberadaan tengu juga dirayakan melalui berbagai festival tradisional di Jepang. Salah satu contohnya adalah Shimokita Tengu Matsuri yang diadakan setiap tahun di kawasan populer Shimokitazawa, Tokyo. Festival yang berpusat di kuil Shinryuji ini menyuguhkan rangkaian acara menarik seperti parodi arak-arakan tengu yang meriah dan diselenggarakan bertepatan dengan liburan musim dingin Setsubun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *