Home / Anime / Sutradara One Piece Film Red Sebut Anime Dibuat Layaknya ‘Junk Food’ karena Minim Pengawasan

Sutradara One Piece Film Red Sebut Anime Dibuat Layaknya ‘Junk Food’ karena Minim Pengawasan

1780792222 7255a97533bd0520017600f8d9133cb7

Surat kabar Asahi Shimbun baru-baru ini melaporkan sebuah kuliah umum yang disampaikan oleh Goro Taniguchi, sutradara di balik One Piece Film RED, Code Geass, dan L’étoile de Paris en fleur. Acara yang diselenggarakan oleh perusahaan produksi anime ARCH tersebut berlangsung di Universitas Keio pada tanggal 26 Mei lalu. Dalam sesi berdurasi 90 menit di hadapan para mahasiswa, Taniguchi menyoroti berbagai permasalahan mendasar dalam proses pembuatan anime, termasuk minimnya pengawasan sutradara yang berujung pada lahirnya anime berkualitas “junk food” serta runtuhnya sistem magang tradisional di industri ini.

Menurut Taniguchi, banyak bagian dalam produksi anime berjalan sendiri-sendiri tanpa arahan yang jelas dari sutradara akibat kurangnya ketegasan dalam menentukan prioritas. Ia mencontohkan tindakan direktur fotografi atau DoP yang berada di bawah komando sutradara anime, di mana mereka kerap mengunggah perbandingan adegan sebelum dan sesudah diproses ke media sosial. Taniguchi menilai tidak ada hal yang lebih memalukan daripada tindakan tersebut.

Taniguchi menjelaskan bahwa tindakan tersebut sebenarnya tidak menjadi masalah jika memang sesuai dengan instruksi sang sutradara. Namun, pada kenyataannya, hal itu terjadi karena sutradara sering kali gagal memberikan arahan yang memadai. Alhasil, proses suntingan yang dipamerkan oleh para DoP tersebut sebenarnya merupakan upaya perbaikan darurat untuk menutupi kecacatan fatal pada materi mentah yang mereka terima.

“Cara kerja yang benar adalah sutradara memetakannya sejak awal dan menginstruksikan DoP untuk mengerjakannya sesuai dengan visi tersebut,” ungkap Taniguchi.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa hasil akhir dari berbagai proses yang berjalan secara terpisah ini menciptakan apa yang ia sebut sebagai anime “junk food”. Jika memang sejak awal diniatkan untuk membuat karya seperti itu, maka hal tersebut tidak jadi masalah. Akan tetapi, kondisi tersebut terjadi secara tidak sengaja sebagai dampak dari alur kerja yang berantakan, dan situasi ini dinilai sangat berbahaya bagi industri.

Dampak Musim Penayangan Singkat terhadap Regenerasi

Selain masalah pengawasan, Taniguchi juga membahas pergeseran tren dalam produksi animasi modern, salah satunya adalah maraknya musim penayangan satu cour yang biasanya berisi 11 hingga 13 episode dalam rentang waktu sekitar tiga bulan.

Taniguchi memaparkan bahwa sekitar tahun 2005, jumlah serial anime yang tayang dalam satu cour mengalami peningkatan drastis jika dibandingkan dengan era sebelumnya yang rata-rata berdurasi dua cour. Konsekuensinya, sistem magang bagi para staf staf baru di industri animasi mengalami keretakan. Dengan format satu cour, seorang staf hanya dapat terlibat maksimal dalam tiga episode saja.

Tiga episode dinilai tidak mencukupi sebagai sarana pembelajaran yang efektif, sehingga sistem pelatihan bagi pekerja baru menjadi terbengkalai. Menurut Taniguchi, permasalahan ini hingga sekarang masih belum ditangani dengan baik, kecuali oleh beberapa studio besar yang terbiasa memproduksi serial panjang untuk anak-anak seperti Toei Animation, TMS Entertainment, dan Shin-Ei Animation.

Atsushi Ohara, jurnalis Asahi Shimbun yang meliput acara tersebut, menganalisis bahwa masalah yang diangkat oleh Taniguchi berkaitan dengan struktur studio di mana para sutradara episode atau enshutsu harus bergantian bekerja di bawah pengawasan sutradara utama atau kantoku. Durasi musim yang lebih singkat memberikan kesempatan yang lebih sedikit bagi para enshutsu untuk mendapatkan evaluasi langsung dari sang kantoku. Ohara juga mengartikan istilah “junk food” dari Taniguchi sebagai karya yang terkesan merangsang penonton tetapi kehilangan identitas serta koherensi utuhnya.

Karya Terbaru Goro Taniguchi

Film anime terbaru garapan Goro Taniguchi berjudul L’étoile de Paris en fleur, yang telah resmi dirilis di Jepang pada 13 Maret 2026. Ceritanya mengikuti perjalanan dua tokoh utama, yakni Fujiko yang memiliki cita-cita sebagai pelukis dan Chizuru yang menggeluti dunia balet. Setelah pertemuan pertama mereka di Yokohama, keduanya kembali dipertemukan di Paris untuk bersama-sama mengejar impian masing-urasing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *