Home / Travel / Slum Jepang Nishinari atau Surga Backpacker Hemat?

Slum Jepang Nishinari atau Surga Backpacker Hemat?

header 640x 31

Mengenal Nishinari

Osaka sering kali dianggap sebagai kota dengan tingkat kriminalitas tertinggi di Jepang. Meski demikian, fakta ini kerap mengejutkan para pelancong asing yang berkunjung ke sana. Secara umum, Osaka adalah kota yang aman, terutama bagi wisatawan asing. Namun, bagi warga lokal, stigma tersebut bukanlah hal yang mengejutkan. Angka kriminalitas ini sebagian besar disumbangkan oleh Nishinari, yang sering dijuluki sebagai kawasan kumuh di Osaka.

Google map of Japan with Osaka marked

Meskipun warga lokal cenderung menghindari kawasan ini, Nishinari justru menjelma menjadi surga bagi para backpacker asing berkat ketersediaan akomodasi berharga miring. Para pelancong ini tidak merasa terganggu tinggal di sana karena secara statistik wilayah tersebut jauh lebih aman dibandingkan negara asal mereka. Beberapa buku panduan wisata bahkan secara terang-terangan menuliskan bahwa Nishinari-ku adalah area paling berbahaya di Jepang, tetapi tetap lebih aman daripada lingkungan di negara asal pembaca.

Namun, seberapa murah sebenarnya harga-harga di Nishinari-ku? Dan apakah tempat ini benar-benar layak untuk dikunjungi atau dijadikan tempat menginap? Mari kita telusuri lebih jauh.

Distrik Nishinari

Kota Osaka terbagi menjadi 24 distrik, dan salah satunya adalah Nishinari yang mencakup area seluas 2,8 mil persegi. Jika Anda mencari kata “Nishinari” di Google Maps, Anda akan melihat lokasi distrik ini beserta beberapa landmark populer di sekitarnya.

Google map of Nishinari war in Osaka Japan

Kawasan ini terkenal dengan Taman Tennouji, Kebun Binatang Tennouji, Menara Tsutenkaku, restoran kebab gaya tusuk, serta Spa World yang menawarkan berbagai jenis pemandian air panas onsen dari seluruh dunia beserta seluncuran air yang ekstrem. Salah satu seluncuran tersebut bahkan dinamai “The Death Loop”.

Japanese neighborhood map marked area Osaka

Anda mungkin bertanya-tanya mengapa warga lokal menghindari kawasan ini padahal tempat wisata di atas begitu populer. Jawabannya adalah karena taman dan kebun binatang tersebut sebenarnya berada di Distrik Tennouji, sementara kawasan wisata Shinsekai terletak di Distrik Naniwa. Hanya Jalan Raya Midousuji yang memisahkan Naniwa dan Nishinari, tetapi perbedaannya langsung terasa begitu Anda menyeberang. Jadi, jika Anda merasa khawatir, pastikan untuk tidak melangkah ke “sisi lain” Jepang ini.

Selain itu, area kumuh di Nishinari tidak mencakup keseluruhan wilayah distrik tersebut. Bagian yang kurang dianjurkan untuk dikunjungi terletak di sekitar Haginochaya, Taishi, dan Sannou. Pada Mei 1966, Airin-chiku ditetapkan sebagai nama resmi kawasan ini, tetapi kebanyakan warga lokal lebih akrab dengan sebutan Kamagasaki atau Nishinari.

Meski tidak berada di area-area tersebut, distrik lampu merah terbesar di Jepang yaitu Tobita-shinchi juga terletak di Distrik Nishinari. Walaupun sangat disarankan untuk menghindari tempat ini di dunia nyata, terutama bagi wanita, membahas Nishinari terasa tidak lengkap tanpa menyinggungnya.

Kamagasaki: Inti Permasalahan di Nishinari

map of notable locations in Nishinari

Hingga pertengahan era Meiji, kawasan kumuh Osaka terletak di Nagamachi yang kini menjadi Blok 1-3 Nipponbashi di Distrik Chuuou. Sementara itu, wilayah Kamagasaki dahulunya hanyalah sebuah desa nelayan kecil yang dilengkapi pemakaman dan tempat eksekusi peninggalan Keshogunan Edo.

Nagamachi dipenuhi oleh penginapan sangat murah untuk para pekerja harian yang disebut Kichin-ya. Namun, demi menyediakan akomodasi untuk Pameran Industri Nasional kelima yang diadakan pada 1903, pemerintah mengeluarkan undang-undang pada 1898 yang memaksa seluruh penginapan di Nagamachi pindah ke Kamagasaki. Keputusan ini turut menyeret para pekerja harian untuk ikut pindah, yang akhirnya menandai lahirnya kawasan kumuh Kamagasaki.

Sebagai catatan, sebagian orang kerap keliru mengira Kamagasaki sebagai perkampungan khusus Burakumin. Padahal, keduanya berbeda. Kawasan kumuh Nagamachi dan Kamagasaki terbentuk secara alami oleh para tunawisma dan pengembara, sedangkan perkampungan Buraku dibentuk secara resmi sebagai komunitas kasta terendah pada era feodal Jepang.

Japanese ink drawing
Sumber: Hippi39311

Kawasan Kamagasaki hanya memiliki luas sekitar 500 hingga 800 meter persegi, namun populasinya diperkirakan mencapai 20.000 hingga 30.000 jiwa. Angka pastinya sulit diketahui karena banyak penduduknya yang merupakan tunawisma dan tidak terdaftar secara resmi di kantor administrasi kependudukan. Dengan banyaknya penginapan Doya di area yang begitu sempit, kepadatan penduduk di sini disebut-sebut mencapai tiga hingga empat kali lipat dari 23 distrik di Tokyo.

Jalan Sakaisuji membagi wilayah ini menjadi sisi Barat dan Timur, di mana masing-masing sisi memiliki karakteristik yang berbeda. Di sisi Timur, terdapat banyak rumah sewaan kayu serta pusat perbelanjaan bernama Tobita-hon-doori yang masih memancarkan nuansa khas Osaka tempo dulu. Sementara itu, di sisi Barat berdiri banyak penginapan Doya bertingkat, restoran, serta binatu bagi para pekerja.

Penginapan Doya yang Sangat Murah

buildings and skyline of Nishinari
Sumber: kamame

Pada era 90-an, terdapat sekitar 200 penginapan Doya di kawasan ini. Jumlahnya kini telah menyusut hingga separuhnya seiring dengan semakin tuanya usia para pekerja harian. Beberapa penginapan Doya telah dialihfungsikan menjadi perumahan kesejahteraan sosial di mana para penghuninya membayar sewa menggunakan bantuan pemerintah. Kendati demikian, masih banyak penginapan Doya yang terbuka tidak hanya bagi pekerja harian, tetapi juga siapa saja yang membutuhkan tempat tidur, termasuk para pelancong asing yang mulai berdatangan sejak Piala Dunia FIFA 2002.

Kabar mengenai akomodasi murah ini menyebar dengan cepat di kalangan pelancong dunia, menjadikan tempat ini sebagai surga bagi para backpacker.

Tarif penginapan Doya dimulai dari 400 yen per malam (sekitar $4). Kendati demikian, kamar termurah dengan kisaran harga 400 hingga 1.000 yen biasanya sudah diisi oleh penghuni tetap. Anda tidak perlu khawatir karena masih banyak pilihan lain dengan tarif 1.000 hingga 2.500 yen per malam. Jika Anda memiliki anggaran lebih dari 2.500 yen, Anda bahkan bisa menginap di hotel yang cukup layak di sekitar area tersebut.

Berdasarkan Indeks Harga Hotel, rata-rata tarif hotel di Jepang berkisar sekitar $150 per malam, yang menunjukkan betapa terjangkaunya tarif akomodasi di Kamagasaki.

Dari segi fasilitas, rata-rata kamar Doya memiliki ukuran sekitar 54 kaki persegi atau setara dengan 3 tatami. Kamar mandi dan toilet umumnya digunakan bersama, atau Anda bahkan harus pergi ke penginapan lain untuk sekadar mandi. Sejumlah kamar kini mulai memberlakukan aturan bebas rokok, meski aroma sisa rokok lama masih kerap tercium.

Hal Murah Lainnya di Nishinari

Akomodasi bukanlah satu-satunya hal yang berharga miring di kawasan ini. Mari kita lihat apa saja yang bisa didapatkan dengan anggaran minim.

Super Tamade

Japanese cartoon drawing crowd of people
Sumber: hippie39311

Di kawasan Kamagasaki, terdapat lima cabang toko kelontong bernama Super Tamade yang terkenal sangat murah. Didirikan pada 1992, toko ini memiliki eksterior yang sangat mencolok dengan lampu terang dan menawarkan harga produk yang luar biasa rendah.

flyer for items priced 1 yen
(Pamflet Super Tamade)

Mereka memiliki sistem penjualan unik berupa barang seharga 1 yen. Jika berbelanja senilai 1.000 yen atau lebih, pelanggan berhak membeli salah satu produk khusus seharga 1 yen saja, seperti makanan kaleng, minuman, sayuran, daging, atau telur. Selain itu, mereka juga menyediakan berbagai pilihan kotak bento mulai dari harga 200 yen.

Himawari

Terdapat pula restoran kafe 24 jam bernama Himawari yang dikelola oleh Super Tamade di Distrik Nishinari. Mereka menawarkan menu sarapan seharga sekitar 300 yen dan paket makan siang sekitar 500 yen.

Kuliner Murah Lainnya

illustration crowd in slums
Sumber: hippie39311

Ada banyak restoran teishoku atau menu set berharga murah. Sebagai contoh, manpuku-shokudou menyajikan makanan rumahan seharga 400 hingga 500 yen yang cukup mengenyangkan perut pelancong.

Sebagian besar restoran di Kamagasaki juga dilengkapi dengan area tachinomi atau bar berdiri karena dianggap lebih efisien bagi pemilik restoran maupun para pekerja. Tempat ini menyajikan makanan cepat saji yang sederhana, seperti ramen instan masak seharga 200 yen atau nasi kari buatan rumah seharga 300 yen.

Makanan gratis juga terkadang dibagikan di taman publik, namun penerima harus membawa wadah sendiri dan mengantre dalam barisan yang cukup panjang.

Mesin Penjual Otomatis Murah

Meskipun mesin penjual otomatis termurah di Jepang berada di Distrik Fukushima, Osaka, kawasan ini juga memiliki minuman kaleng berharga sangat miring. Seluruh minuman murah tersebut diproduksi oleh Sangaria, sebuah perusahaan lokal asal Osaka. Harga rata-rata minuman di mesin penjual otomatis Kamagasaki berkisar antara 50 hingga 70 yen per kaleng, jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 120 yen.

cheap drinks in Japanese vending machine
Sumber: Kinu_chi

Tentu saja, terdapat banyak pula mesin penjual otomatis yang khusus menyediakan minuman beralkohol di area ini.

Bioskop dan Cukur Rambut Murah

Terdapat sebuah bioskop kecil bernama Tobita-Cinema di mana penonton dapat menyaksikan tiga film sekaligus hanya dengan membayar 800 yen, atau 500 yen jika datang pada hari Selasa.

Japanese sign for haircuts

Tarif rata-rata untuk potong rambut di kawasan ini berkisar di angka 800 yen. Bagi mereka yang benar-benar tidak memiliki uang, para relawan terkadang menyediakan layanan potong rambut gratis dengan sistem pengambilan nomor antrean di taman publik pada pagi hari.

Sisi Lain Nishinari: Kerusuhan Berulang

our main character being grabbed by the yakuza

Setelah era Showa berganti menjadi Heisei, hampir tidak pernah terjadi kerusuhan di Jepang, kecuali di Nishinari. Sejarah kerusuhan yang dilakukan oleh para pekerja harian, yang dikenal sebagai Nishinari-Boudou atau Kamagasaki-Boudou, telah berlangsung cukup lama. Kerusuhan pertama tercatat pada tahun 1961, sementara yang terbaru terjadi pada tahun 2008 dan berlangsung selama enam hari.

Japanese police in riot gear
Sumber: Chris Gladis

Meskipun tingkat keparahan bentrokan di Jepang tidak separah di negara lain, kerusuhan tetaplah sebuah tindak kekerasan yang membahayakan. Sebagai contoh, pada kerusuhan ke-22 di tahun 1990 yang berlangsung selama lima hari, Stasiun Minami-Kasumi-Chou dari jalur Hankai Tramway dibakar dan lebih dari 100 petugas polisi mengalami luka-luka.

Pemicu kerusuhan di kawasan ini sering kali tergolong sepele, seperti perselisihan mengenai tagihan makanan di restoran. Hal ini menunjukkan betapa tingginya tingkat ketegangan sosial dan frustrasi di kalangan warga setempat, sehingga pemicu kecil pun mampu menyulut kerusuhan besar.

Anonimitas Tertinggi di Jepang

woman wearing Guy Fawkes mask
Sumber: zigazou76

Berbeda dengan penginapan lain di Jepang yang mewajibkan tamu menunjukkan kartu identitas, penginapan Doya di Nishinari tidak memberlakukan aturan tersebut. Di satu sisi hal ini memudahkan para pelancong, namun di sisi lain kondisi ini membuat siapa pun dapat menyembunyikan identitas asli mereka, termasuk para pelaku kriminal.

Sebagai catatan sejarah, Tatsuya Ichihashi, buronan yang dipenjara seumur hidup atas kasus pembunuhan seorang guru bahasa Inggris asal Inggris, sempat tinggal di Nishinari sebelum akhirnya tertangkap. Kawasan ini telah lama menjadi tempat persembunyian bagi para buronan yang ingin tetap berada di bawah radar kepolisian sambil mencari uang tunai melalui pekerjaan harian.

Tuberkulosis

old poster about tuberculosis
Sumber: Government & Heritage Library, State Library of NC

Bagi para tunawisma yang bahkan tidak mampu membayar penginapan Doya termurah, terdapat fasilitas penampungan di dekat taman publik. Berdasarkan data pemberitaan, tingkat kejadian penyakit tuberkulosis di Nishinari merupakan yang tertinggi di Jepang, yakni mencapai belasan kali lipat dari rata-rata nasional.

Kondisi hidup di jalanan yang sangat keras, terutama pada musim dingin, membuat ratusan tunawisma ditemukan meninggal dunia di jalanan setiap tahunnya.

Keberadaan Yakuza yang Kuat

Embed for https://www.youtube.com/watch?v=c-soQcpK-q0 no longer exists

Dahulu terdapat sekitar 70 kantor Yakuza di kawasan Kamagasaki yang sempit ini. Meskipun jumlahnya telah berkurang, lebih dari 20 kantor organisasi kriminal tersebut masih beroperasi di sana. Kantor pusat Azuma-gumi yang merupakan salah satu kelompok Yakuza bermarkas di Sannou, Distrik Nishinari.

Kekuatan mereka juga terlihat dari maraknya titik peredaran narkoba yang lokasinya bahkan diketahui secara terbuka oleh warga lokal, termasuk di dekat kantor polisi. Stasiun Kepolisian Nishinari sendiri mendapat julukan “Benteng” karena gedungnya dikelilingi pagar besi dan dijaga ketat selama 24 jam penuh.

Aktivitas Yakuza di Nishinari

expensive car parked on street
Sumber: MIKI Yoshihito

Para anggota Yakuza di kawasan ini terlibat dalam berbagai kegiatan ilegal, salah satunya bertindak sebagai penyalur tenaga kerja harian ilegal yang disebut Tehai-shi. Mereka memotong sebagian besar upah para pekerja secara tidak sah.

Selain itu, terdapat pula praktik yang disebut kakoiya, di mana anggota Yakuza mengumpulkan para tunawisma untuk membantu mereka mengurus tunjangan kesejahteraan sosial, lalu mengambil potongan dari uang tunjangan tersebut setiap bulannya.

Aktivitas perjudian ilegal juga marak diselenggarakan di ruangan-ruangan tersembunyi di dalam bangunan Doya atau apartemen. Pada malam hari, kawasan ini menjadi sangat rawan tindak pencurian oleh kelompok-kelompok jalanan yang mengincar barang-barang milik pejalan kaki.

Perdagangan Manusia

Embed for https://www.youtube.com/watch?v=optEi_mCEEs no longer exists

Salah satu praktik kelam yang kerap dikaitkan dengan Yakuza di kawasan ini adalah perdagangan manusia. Berbagai kisah mengenai perekrut yang menipu tunawisma dan menjual mereka ke kamp kerja paksa terpencil telah menjadi rahasia umum.

Tekanan ekonomi yang berlangsung turut memicu pergeseran target operasional kelompok kriminal ini. Berdasarkan wawancara investigasi dengan salah satu anggota Yakuza setempat, target operasional mereka dilaporkan meluas ke anak-anak gadis di bawah umur untuk dijual sebagai budak seks, memanfaatkan situasi sosial korban yang rentan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *