Home / Anime / Review TenSura Movie 2: Tears of the Azure Sea Tampilkan Sisi Terbaik dari Slice-of-Isekai

Review TenSura Movie 2: Tears of the Azure Sea Tampilkan Sisi Terbaik dari Slice-of-Isekai

1781196990 f5c744fd35454e470a81c26b38fb38d4 1024x576 1

Ketika saya menyaksikan episode terakhir dari Tensei Shitara Slime Datta Ken (TenSura) Musim 3 beberapa waktu lalu, pengumuman mengenai musim baru dan sebuah film layar lebar tentu menjadi kejutan yang menyenangkan. Mengingat popularitas waralaba ini yang terus meroket melalui berbagai gim, anime, manga, light novel, hingga web novel aslinya, langkah ini terasa sangat wajar.

Berbagai adaptasi dan kisah sampingan yang begitu luas tidak lepas dari pembangunan dunia fantasi yang masif serta jajaran karakter yang karismatik. Itulah mengapa kehadiran TenSura Movie 2: Tears of the Azure Sea menjadi sangat masuk akal, sebab ada terlalu banyak cerita yang bisa dieksplorasi, baik yang masuk dalam kanon maupun tidak.

Bagi penonton yang berada di Spanyol, penayangan film ini juga menjadi momen yang ditunggu-tunggu berkat perilisan di bioskop lokal oleh Crunchyroll yang tidak berselang lama dari penayangan perdana di Jepang. Ulasan ini mengasumsikan bahwa pembaca telah mengikuti tiga musim pertama anime-nya, dengan fokus utama untuk membedah bagaimana film ini menampilkan sisi terbaik dari TenSura meskipun berstatus sebagai karya non-kanon.

Faktor Gobta

1781196566 a53674d121a0692f9bd0770ce7be8665

Kejutan terbesar dalam film ini adalah keputusan untuk menggeser fokus dari Rimuru-sama ke sosok Gobta sebagai pemeran utama. Keputusan ini terbukti menjadi sebuah langkah yang menyegarkan untuk sebuah waralaba yang karakternya sangat dicintai oleh para penggemar.

Gobta sendiri sebenarnya telah lama perlahan mendapatkan sorotan dalam cerita utama. Tim produksi Tears of the Azure Sea sangat memahami bagaimana cara memaksimalkan potensi dengan menempatkan Gobta di garis depan.

Di satu sisi, Rimuru-sama kini telah menjadi karakter yang terlalu kuat, sehingga sulit untuk membangun konflik non-kanon tanpa terkesan dipaksakan. Perubahan sudut pandang ini memberikan warna baru yang langsung menarik perhatian sejak paruh pertama film.

Kendati demikian, Rimuru-sama dan kelompoknya tetap mendapatkan porsi aksi yang memadai dan tampil dalam sekuen pertarungan puncak di bagian akhir. Perbedaannya, Gobta memimpin tim dalam mencari penyelesaian konflik, menghasilkan salah satu adegan pertarungan paling keren dalam sejarah waralaba ini.

Faktor Slice-of-Isekai

1781196602 380a2720ebe20c8e73c1fd3d957d241b

Daya tarik utama dari TenSura terletak pada fokus cerita yang tidak hanya berpusat pada pertarungan semata, melainkan pada kehidupan sehari-hari karakter-karakter menggemaskan saat mereka menikmati momen santai dan mempererat ikatan.

Unsur aksi memang selalu ada sejak Rimuru-sama bertemu dengan Veldora pada episode pertama, namun anime ini selalu memberikan keseimbangan melalui momen-momen damai yang menghibur. Gabungan elemen inilah yang membentuk subgenre “slice-of-isekai”.

Pada paruh pertama film, penonton disuguhkan sekuen ketika para karakter menikmati liburan yang layak di sebuah resor privat. Adegan tersebut memperlihatkan bagaimana TenSura mampu meramu pengembangan alur, komedi ringan, porsi lebih untuk karakter pendukung, hingga sedikit sisipan lore mengenai para naga tanpa kehilangan esensi hiburannya.

Faktor Musik

Sulit untuk memisahkan klimaks sebuah anime dari pengiring musiknya. Tears of the Azure Sea tentu tidak terkecuali dalam hal menghadirkan jajaran lagu tema yang berkesan.

STEREO DIVE FOUNDATION, proyek musik dari komponis RON yang telah mengisi musik TenSura sejak Musim 2, kembali berkolaborasi dengan penyanyi ASH untuk membawakan lagu sisipan berjudul “Harmonics” pada adegan pertarungan akhir. Nuansa rock dari vokal mereka berhasil merefleksikan beban emosional yang sedang diemban oleh Gobta, menjadikan adegan tersebut sebagai puncak film.

Selain itu, TRUE juga kembali menyumbangkan kemampuan vokal dan liriknya lewat lagu “Eutopia”, yang semakin memperkuat rasa kehangatan bagi para penonton setia. Kontribusi dari ARCANA PROJECT serta Saori Onishi sebagai pengisi suara putri Yura juga turut melengkapi warna musikal dalam film ini dengan keseimbangan antara keceriaan pantai dan kedalaman emosional.

Kekurangan: Minimnya Tokoh Antagonis yang Berkesan?

1781196693 cdba9163692cb331a6f16040a1b1c0cd

Di balik berbagai keunggulannya, film ini memiliki satu elemen yang terasa kurang, yakni kehadiran sosok antagonis yang kuat. Alur cerita tidak benar-benar menuntut penonton untuk menganggap serius karakter musuh yang dihadirkan, mengingat status film ini yang merupakan karya non-kanon.

Bagi penonton yang menikmati film ini sebagai hiburan selayaknya OVA, kekurangan tersebut mungkin tidak mengurangi keseruan secara keseluruhan. Namun, hal ini memunculkan pertanyaan mengenai seberapa jauh kualitas sebuah film TenSura jika didukung oleh penjahat utama yang ditulis dengan lebih mendalam.

Mengapa Kita Membutuhkan Lebih Banyak Film TenSura?

1781196728 24eef6b5bfee5833d0f0f1fb4f2a6f29

Secara keseluruhan, Tears of the Azure Sea tetap menjadi tontonan wajib bagi para penggemar setia TenSura. Penempatan cerita yang pas di antara Musim 3 dan Musim 4 membuat film ini terasa menyatu dengan lini masa utamanya.

Porsi tayang dalam serial anime utama seringkali tidak menyisakan banyak ruang bagi karakter sampingan untuk bersinar. Melalui film ini, dibuktikan bahwa petualangan santai Rimuru-sama dan rekan-rekannya masih selalu dinantikan dan mampu memberikan hiburan tersendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *