Home / Anime / Press Conference: Sparks of Tomorrow Ungkap Ginger Root Sebagai Artis ED dan Mao Takayama Sebagai Art Director

Press Conference: Sparks of Tomorrow Ungkap Ginger Root Sebagai Artis ED dan Mao Takayama Sebagai Art Director

1789134829 76139be50d3fe86024ae80dbe89b890b 1024x576 1

Dalam ajang Anime NYC, sejumlah media berkesempatan untuk mewawancarai dua staf penting di balik anime Sparks of Tomorrow produksi Kyoto Animation. Mereka adalah Art Director Mao Takayama serta musisi Ginger Root yang menggubah lagu penutup (ending) untuk seri tersebut.

Wawancara ini membahas latar belakang visual era Meiji tahun 1906, pendekatan seni bergaya lukisan minyak, hingga proses kreatif di balik pembuatan lagu penutup berjudul “Soarin'”.

Eksplorasi Visual dan Sentuhan Era Meiji

Mao Takayama menjelaskan bahwa proses pembuatan latar belakang (background art) untuk Sparks of Tomorrow sangat berfokus pada gaya lukisan minyak dengan mempertahankan sapuan kuas yang khas. Tim produksi mengambil banyak inspirasi dari impresionisme untuk mengaburkan garis-garis tertentu, sekaligus menjaga kejelasan visual pada struktur bangunan tradisional Kyoto agar penonton dapat memahami latar dunia alternatif tersebut.

Dalam riset historisnya, tim produksi berusaha setia pada keakuratan sejarah tata kota Kyoto pada awal abad ke-20. Namun, terdapat penyesuaian pada elemen steampunk seperti pipa-pipa umpan dan kabel yang membentang di atas kota untuk memperkuat atmosfer dunia alternatif yang diselimuti kabut uap.

Berbeda dengan banyak studio lain yang mengandalkan studio eksternal, Kyoto Animation memiliki departemen background art in-house sendiri. Menurut Takayama, keuntungan terbesar dari sistem ini adalah kelancaran komunikasi langsung antar anggota tim, sehingga visi artistik sutradara dapat diterjemahkan ke dalam bentuk visual dengan lebih akurat.

Proses Kreatif Lagu Penutup Bersama Ginger Root

Ginger Root mengungkapkan bahwa dirinya menggubah lagu penutup “Soarin'” berdasarkan arahan konseptual, lukisan dari sang sutradara, serta lembaran naskah cerita, tanpa melihat visual animasinya terlebih dahulu. Ia sengaja menyisipkan ruang kosong seperti ketukan drum dan interlude agar tim animator dapat menyelaraskan gerakan visual dengan musiknya.

Dari segi aransemen, pihak produksi menginginkan nuansa elektronik yang menggambarkan masa depan era kelistrikan, kontras dengan lagu pembuka (opening) yang lebih bernuansa tradisional. Lagu ini dimulai dengan instrumen tunggal dan berkembang hingga melibatkan paduan suara (choir) di bagian korus, merefleksikan tema cerita tentang kerja sama antar karakter.

Baik Takayama maupun Ginger Root sepakat bahwa lagu penutup dan transisi visual dirancang untuk meninggalkan kesan mendalam serta rasa penasaran bagi para penonton setelah sebuah episode berakhir, menyerupai ketidakpastian misteri dalam katalog kelistrikan di dalam cerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *