Nintendo secara diam-diam telah memperbarui lini masa resmi seri The Legend of Zelda, dengan memasukkan peristiwa pendirian Hyrule kedua ke dalam kronologi cerita. Pembaruan ini muncul saat pengumuman versi daur ulang dari Ocarina of Time yang siap membawa pemain kembali ke salah satu titik paling krusial dalam sejarah waralaba game tersebut.
Kronologi yang telah direvisi ini pertama kali terlihat di situs web resmi berbahasa Jepang milik Nintendo. Situs tersebut diluncurkan sebagai bagian dari perayaan hari jadi ke-40 waralaba The Legend of Zelda. Halaman web itu mulai aktif menyusul siaran Nintendo Direct yang berfokus khusus pada perayaan ulang tahun, meskipun pihak perusahaan tidak secara gamblang mengumumkan perubahan lini masa tersebut selama acara berlangsung pada 8 September lalu.
Linimasa Zelda Resmi Kini Memiliki Dua Peristiwa Pendirian Hyrule
Sebagaimana yang pertama kali ditemukan oleh seorang kreator konten YouTube bernama Zeltik, susunan kronologi terbaru pada situs web resmi tersebut kini secara jelas mencantumkan dua momen berdirinya Kerajaan Hyrule. Pendirian yang pertama tetap berada di posisi aslinya, yaitu setelah peristiwa dalam The Legend of Zelda: Skyward Sword dan sebelum The Minish Cap. Sementara itu, pendirian kedua muncul jauh lebih lambat di lini masa, yakni tepat sebelum peristiwa kuno yang digambarkan dalam Tears of the Kingdom, termasuk transformasi Ganondorf menjadi Demon King serta perang penyegelan yang menjadi latar belakang penting di game tersebut.
Pembaruan Ini Memperkuat Teori Pendirian Ulang Hyrule
Perubahan ini memberikan dukungan kuat bagi teori penggemar yang sudah lama beredar bahwa King Rauru dan Queen Sonia sebenarnya bukan pendiri Kerajaan Hyrule yang asli seperti yang dikenal di sebagian besar seri game ini. Sebagai gantinya, teori tersebut mengindikasikan bahwa kerajaan lama sempat runtuh dan menghilang, hingga akhirnya pasangan penguasa tersebut membangun kembali Hyrule di era yang jauh di masa depan. Kendati demikian, situs baru Nintendo tetap tidak menggunakan istilah “pendirian ulang” secara tersurat, sehingga penafsiran mengenai adanya dua Kerajaan Hyrule yang terpisah masih memerlukan sedikit asumsi.
Jika dilihat dalam konteks sejarah yang lebih luas, pertanyaan mengenai bagaimana posisi Breath of the Wild dan Tears of the Kingdom dalam keseluruhan lini masa Zelda memang sengaja dibuat mengambang selama bertahun-tahun. Pembaruan kronologi ini pun tidak serta-merta memperjelas semuanya secara tuntas, meskipun teori-teori lama kini tampak semakin masuk akal.
Nintendo secara resmi memasukkan momen pendirian Hyrule kedua ini ke dalam kanon cerita hanya beberapa bulan sebelum jadwal peluncuran versi remake dari The Legend of Zelda: Ocarina of Time yang dijadwalkan rilis pada 5 November 2026. Belum dapat dipastikan apakah waktu perilisan ini memiliki kaitan langsung dengan pembaruan lini masa tersebut. Zeltik sempat menyoroti adanya simbol-simbol Kokiri pada versi pembuatan ulang ini yang bentuknya mirip dengan tato milik Queen Sonia, meski kemiripan itu masih sebatas spekulasi. Bisa jadi, elemen visual tersebut sengaja disamakan agar selaras dengan gaya seni game-game Zelda modern tanpa menyembunyikan arti cerita yang terlalu mendalam.
Sebelum adanya pembaruan diam-diam ini, dukungan resmi terkuat untuk teori pendirian kembali Hyrule berasal dari wawancara majalah Famitsu pada tahun 2023 bersama sutradara Tears of the Kingdom, yaitu Hidemaro Fujibayashi. Dalam sesi wawancara tersebut, ia mengisyaratkan bahwa game teranyar dalam seri panjang ini tidak serta-merta merusak tatanan lini masa yang sudah ada, sekaligus membuka peluang bahwa Hyrule sempat hancur musnah sebelum kerajaan baru yang ada di Breath of the Wild dan Tears of the Kingdom benar-benar didirikan.








