Home / Study / Rendaku: Kenapa Hito-Bito Bukan Hito-Hito, dan Alasan Guru Bahasa Jepangmu Menyembunyikannya

Rendaku: Kenapa Hito-Bito Bukan Hito-Hito, dan Alasan Guru Bahasa Jepangmu Menyembunyikannya

header 640x 78

Pengantar tentang Rendaku

Rendaku, yang dalam bahasa Inggris sering disebut sebagai sequential voicing atau penyuaraan beruntun, merupakan salah satu fenomena dalam bahasa Jepang yang pasti pernah Anda temui, apapun tingkat penguasaan bahasa Jepang Anda. Coba perhatikan beberapa kosakata berikut ini:

  • ひとびと (orang-orang)
  • てがみ (surat)
  • はなび (kembang api)
  • ひらがな (hiragana)

Jika Anda sudah mempelajari kata-kata di atas, berarti Anda secara tidak sadar telah melihat rendaku bekerja. Rendaku terjadi ketika dua kata atau lebih bergabung menjadi satu kata majemuk, di mana konsonan awal pada kata kedua berubah menjadi bunyi bersuara. Dalam bentuk tulisan, perubahan ini biasanya ditandai dengan penambahan simbol kecil berupa dakuten atau handakuten.

Mungkin Anda pernah bertanya kepada pengajar bahasa Jepang mengapa 人々 dibaca ひとびと alih-alih ひとひと. Atau mungkin Anda penasaran mengapa はんはん tidak berubah menjadi はんばん. Sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut, Anda kemungkinan besar hanya mendapati helaan napas serta beberapa tanggapan klasik dari para pengajar:

Hal itu acak.

Tutor bahasa Jepang

Anda hanya perlu menghafalkannya.

Profesor bahasa Jepang

Satu lagi jawaban yang kurang memuaskan.

Buku teks bahasa Jepang tipikal

連濁(れんだく)
Fenomena ketika dua kata atau lebih bergabung membentuk kata majemuk, dan konsonan pertama pada kata kedua berubah menjadi bunyi bersuara.

Namun, situasinya tidak harus selalu seperti itu. Sebenarnya ada kaidah, pola, dan berbagai teori yang melatarbelakanginya. Kendala utamanya adalah tidak ada satupun teori yang mampu merangkum seluruh gambaran besar secara sempurna. Kendati demikian, dengan menelaah berbagai teori yang ada, kita dapat menyusun panduan yang lebih masuk akal.

Dengan mempelajari panduan ini, Anda akan mampu memprediksi atau setidaknya memahami alasan di balik kemunculan rendaku pada kata-kata tertentu. Bahkan sebagai pemula, Anda akan terkejut dengan seberapa banyak hal yang dapat Anda pahami. Selain itu, rasa penasaran Anda seputar kata ひとびと akhirnya akan terjawab.

Prasyarat: Artikel ini akan menggunakan aksara hiragana dan katakana, serta membahas beberapa konsep linguistik tingkat lanjut. Meskipun Anda tidak harus membaca keseluruhan panduan untuk memahami dasar-dasar rendaku, informasi tersebut tetap akan sangat berguna. Pembahasan kali ini mungkin akan cukup mendalam bagi para pencinta bahasa.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita pahami dua konsep penting yang akan sering digunakan dalam panduan ini.

Penyuaraan (Voicing)

anak laki-laki dan perempuan melafalkan bunyi dan merasakan pita suara

Semua bahasa di dunia mengenal bunyi bersuara dan tidak bersuara. Saat Anda memproduksi bunyi bersuara, pita suara di dalam laring Anda akan bergetar; sebaliknya, saat Anda memproduksi bunyi tidak bersuara, pita suara tidak bergetar. Walaupun terdengar sederhana, disarankan agar Anda membaca lebih lanjut mengenai sistem pelafalan ini dalam panduan pelafalan bahasa Jepang sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya.

Untuk saat ini, hal paling penting yang perlu diingat adalah:

  • Bersuara = pita suara bergetar
  • Tidak bersuara = pita suara tidak bergetar

Semua bahasa memanfaatkan bunyi bersuara dan tidak bersuara.

Sementara semua vokal dalam bahasa Inggris dan Jepang bersifat bersuara, konsonan bisa berupa bunyi bersuara maupun tidak bersuara.

Deretan かきくけこ dan さしすせそ merupakan konsonan tidak bersuara (k, s) yang diikuti oleh vokal bersuara (a, i, u, e, o).

Sementara itu, まみむめも dan らりるれろ adalah konsonan bersuara (m, r) yang juga disandingkan dengan vokal bersuara.

Pada kebanyakan kasus, Anda tidak bisa langsung mengetahui apakah suatu konsonan itu bersuara atau tidak tanpa mengeceknya secara langsung di kamus atau merasakan getaran di tenggorokan. Kendati demikian, terdapat empat kelompok kana yang secara khusus ditandai untuk menunjukkan penyuaraannya melalui penambahan simbol kecil yang disebut dakuten.

゛dakuten

Berikut adalah cara kerjanya:

Ambil salah satu dari empat konsonan tak bersuara khusus (k, s, t, h) lalu tambahkan dakuten untuk membentuk konsonan bersuara yang baru.

k → g
かきくけこ → がぎぐげご

s → z
さしすせそ → ざじずぜぞ

t → d
たちつてと → だぢづでど

h → b
はひふへほ → ばびぶべぼ

Terdapat pula satu pasang tambahan yang dapat berubah menjadi kelompok konsonan tak bersuara alternatif:

h → p
はひふへほ → ぱぴぷぺぽ

Meskipun bunyi p tidak dikategorikan sebagai bunyi bersuara dalam bahasa Jepang, bunyi ini berada di antara kategori bersuara dan tak bersuara. Lingkaran kecil yang menyertainya dinamakan handakuten.

゜handakuten

Dakuten dan handakuten memegang peranan krusial dalam memahami rendaku. Namun sebelum melangkah lebih jauh, ada satu hal lagi yang perlu Anda ketahui.

Kata Majemuk (Compound Words)

pria mengenakan selendang memegang pensil yang ditusukkan ke buah apel

Kata majemuk adalah sebuah kata tunggal yang terbentuk dari gabungan dua kata atau lebih. Bahasa Inggris juga memiliki struktur serupa. Berikut adalah beberapa contoh kata majemuk yang sudah tidak asing lagi bagi Anda:

Kata 1 Kata 2 Kata Majemuk
air plane airplane
fire fly firefly
foot ball football
forty two forty-two
bread winner breadwinner
vegan friendly vegan-friendly
self control self-control
day dream daydream

Masing-masing kata dapat berdiri sendiri secara terpisah, namun ketika disatukan, keduanya menciptakan sebuah makna baru yang unik. Kata majemuk tersebut dapat berfungsi sebagai nomina, adjektiva, verba, dan sebagainya. Prinsip yang sama juga berlaku dalam bahasa Jepang:

Kata 1 Kata 2 Kata Majemuk
金 (きん) 魚 (ぎょ) 金魚 (きんぎょ)
emas ikan ikan mas
美 (び) 人 (じん) 美人 (びじん)
cantik wanita wanita cantik
昼 (ひる) 寝 (ね) 昼寝 (ひるね)
siang tidur tidur siang
飛ぶ (とぶ) 込む (こむ) 飛び込む (とびこむ)
terbang masuk melompat masuk
四十 (よんじゅう) 二 (に) 四十二 (よんじゅうに)
empat puluh dua empat puluh dua
副 (ふく) 大統領 (だいとうりょう) 副大統領 (ふくだいとりょう)
wakil presiden wakil presiden

Pembentukan kata majemuk dalam bahasa Jepang sangatlah produktif. Dengan memahami konsep-konsep dasar di atas, mari kita bedah apa sebenarnya rendaku itu.

Apa itu Rendaku?

連濁 (れんだく) atau rendaku adalah peristiwa di mana dua kata atau lebih bergabung membentuk kata majemuk, yang mengakibatkan konsonan pertama pada kata kedua berubah menjadi bunyi bersuara. Dalam bidang linguistik, proses ini dikenal sebagai penyuaraan beruntun.

Mari kita mulai dengan contoh klasik:

人 (ひと) + 人 (ひと) = 人々 (ひとびと)
orang + orang = orang-orang

Dua kata (ひと dan ひと) bergabung membentuk kata majemuk ひとびと. Konsonan pertama (h) pada kata kedua (ひと) berubah menjadi bersuara (ひ → び), sehingga lafalnya menjadi ひとびと.

Berikut adalah contoh lainnya:

手 (て) + 紙 (かみ) = 手紙 (てがみ)
tangan + kertas = surat

Pola serupa terjadi di sini: dua kata (て dan かみ) bersatu membentuk kata majemuk てがみ. Konsonan pertama (k) dari kata kedua (かみ) mengalami penyuaraan (か → が), mengubah pengucapannya menjadi てがみ.

Berdasarkan kedua contoh tersebut, dapat disimpulkan syarat-syarat utama terjadinya rendaku:

  1. Dua kata bergabung membentuk sebuah kata majemuk.
  2. Konsonan pertama pada kata kedua (sebelum digabungkan) bersifat tidak bersuara.
  3. Konsonan pertama pada kata kedua termasuk ke dalam salah satu dari empat kelompok karakter yang dapat berubah menjadi konsonan bersuara melalui penambahan dakuten atau handakuten (k, s, t, atau h).
  4. Konsonan pertama pada kata kedua tersebut diapit oleh vokal-vokal yang bersuara (dan terkadang bunyi sengau).

Mari kitauji aturan ini pada kata ひと+ひと:

  1. Kata ひと dan ひと digabungkan untuk membentuk kata majemuk.
  2. Bunyi ひ pada kata kedua ひと tidak bersuara.
  3. Bunyi ひ tersebut merupakan salah satu konsonan tak bersuara, yakni h.
  4. Konsonan h diapit oleh vokal bersuara: huruf o pada と dan huruf i pada ひ.

Hasilnya? Terjadilah rendaku menjadi ひとびと!

Kendati demikian, catatan kehati-hatian tetap diperlukan. Memenuhi syarat di atas bukan berarti sebuah kata pasti akan mengalami rendaku, sebab terdapat aturan-aturan spesifik lainnya. Panduan ini disusun dari cakupan yang luas menuju detail yang lebih spesifik. Bahkan jika Anda hanya membaca separuh bagian pertama artikel ini, Anda sudah bisa menebak pola yang benar sekitar 60 hingga 70 persen waktu. (Meskipun demikian, disarankan agar Anda tetap membaca artikel ini sampai tuntas! 😡)

Huruf B atau P

Satu catatan singkat sebelum kita beralih ke aturan berikutnya. Mari membahas bunyi h dalam bahasa Jepang. Mengingat bunyi h dapat berubah menjadi b atau p, Anda mungkin bertanya-tanya mengapa ひとびと berubah menjadi びと alih-alih ぴと. Ternyata, ada kaidah yang mengatur hal tersebut:

Apabila kata pertama berakhiran dengan つ atau ん, maka konsonan h pada kata kedua umumnya akan berubah menjadi p melalui rendaku.

Sementara itu, kondisi lainnya secara otomatis akan berubah menjadi b.

Berikut adalah beberapa contohnya:

出 (しゅつ) + 発 (はつ) = 出発 (しゅっぱつ)
keluar + keberangkatan = keberangkatan

Kata しゅつ memendek menjadi しゅっ dan はつ berubah menjadi ぱつ. Keberadaan sokuon (促音) atau tsu kecil inilah yang memicu perubahan bunyi h menjadi p.

鉛 (えん) + 筆 (ひつ) = 鉛筆 (えんぴつ)
timah + alat tulis = pensil

Kata ひつ berubah menjadi ぴつ, di mana huruf ん berperan mengubah bunyi h menjadi p.

Simpan baik-baik relasi antara bunyi h, b, dan p ini saat Anda mempelajari sisa bagian panduan ini, karena pola tersebut akan terus muncul secara berulang.

Kaidah Umum Rendaku

pengajar menunjuk papan tulis berisi tulisan aturan rendaku

Rendaku terkadang sulit dipahami karena dipenuhi oleh berbagai pengecualian dan bersifat tidak dapat diprediksi sepenuhnya.

Di bawah ini adalah daftar kaidah umum yang biasanya diikuti oleh rendaku. Kita akan mengupasnya satu per satu secara mendetail melalui tiga aspek: penjelasan, contoh, dan pengecualian.

PERINGATAN: Meskipun kita menyebutnya sebagai “aturan”, panduan ini lebih menyerupai pedoman umum. Rendaku dikenal cukup rumit karena banyaknya pengecualian dan ketidakpastian. “Aturan” ini hadir untuk membantu Anda memahami cara memprediksi rendaku, namun sifatnya tidak mutlak. Karakteristik bahasa memang sering kali penuh liku.

  1. Kata-kata berakar bahasa Jepang asli mengalami rendaku.
  2. Kata-kata berakar bahasa Mandarin tidak mengalami rendaku.
  3. Kata serapan asing tidak mengalami rendaku.
  4. Jika kata kedua dalam gabungan tersebut telah memiliki konsonan bersuara atau handakuten di dalamnya, maka rendaku tidak terjadi.
  5. Apabila unsur bunyi bersuara pada kata pertama letaknya terlalu dekat dengan kata kedua, rendaku bisa jadi tidak terjadi.
  6. Pada kata majemuk yang bermakna “X dan Y”, rendaku tidak terjadi.
  7. Onomatope yang berulang tidak mengalami rendaku.
  8. Prefiks dan sufiks tertentu menyebabkan rendaku tidak muncul.

Sebelum mengupas aturan-aturan tersebut satu persatu, mari kita awali dengan ulasan singkat mengenai tiga kategori kosakata dalam bahasa Jepang yang memengaruhi aturan 1 sampai 3.

  1. Wago (和語) – kosakata asli bahasa Jepang
  2. Kango (漢語) – kosakata pinjaman dari bahasa Mandarin
  3. Gairaigo (外来語) – kosakata pinjaman asing selain bahasa Mandarin
peta dunia dengan garis luar negara asal kosakata bahasa jepang

Wago, yang juga dikenal sebagai Yamato Kotoba (大和言葉), mencakup seluruh kosakata yang diwarisi dari bahasa Jepang kuno. Kata-kata ini tidak dipungut, diadaptasi, atau diserap dari bahasa lain, melainkan murni berasal dari kebudayaan Jepang itu sendiri.

Kango adalah kosakata yang diserap dari Tiongkok selama kurun waktu berabad-abad, yang kemudian disesuaikan dengan kaidah pelafalan bahasa Jepang.

Ketika membahas cara baca kanji, kita mengenal istilah kun’yomi (訓読み) untuk pembacaan asli Jepang (wago) dan on’yomi (音読み) untuk pembacaan yang berasal dari bahasa Tiongkok (kango). Sejarah dan penggunaan bacaan kanji ini sangat menarik serta akan membantu Anda memahami rendaku dengan lebih baik.

Gairaigo adalah kata-kata yang diserap dari negara-negara selain Tiongkok. Saat ini, sebagian besar kosakata tersebut ditulis menggunakan aksara katakana, meskipun pengaruh bahasa Belanda dan Portugis juga cukup kuat pada periode Edo (1603–1868) sebelum sistem penulisan katakana dibakukan secara masif. Kata-kata dari periode lampau ini biasanya lebih sulit dikenali karena sering kali ditulis menggunakan kanji atau hiragana.

Kini Anda sudah siap untuk melanjutkan pembahasan.

Kosakata Asli Jepang Mengalami Rendaku

peta jepang dengan tulisan rendaku di bawahnya

Kita mulai pembahasan dari wago, yakni kosakata pribumi Jepang. Ciri khas utama dari kata-kata jenis ini adalah, dengan sedikit pengecualian, mereka hampir tidak pernah diawali dengan konsonan bersuara ber-dakuten atau handakuten (g, z, d, b, p).

Kondisi ini mengindikasikan bahwa rendaku pada mulanya tercipta secara alami dan tidak disengaja sebagai pembeda antara pengucapan kata majemuk dengan penyebutan kata yang diulang dua kali, perbandingan dua kata, atau kegiatan mendaftar. Kosakata seperti ひとびと memperjelas bahwa penutur tidak sedang mengucapkan 「ひと、ひと」 (satu orang, orang lainnya), dan orang-orang tahu bahwa びと bukanlah kata mandiri karena kata asli bahasa Jepang tidak ada yang diawali dengan bunyi び!

Mari perhatikan beberapa contoh berikut:

草 (くさ) + 花 (はな) = 草花 (くさばな)
rumput + bunga = tanaman berbunga

Kata くさばな menunjukkan bahwa pembicara tidak sedang menyebut rumput dan bunga secara terpisah, dan bentuk ばな sendiri bukanlah sebuah kata yang berdiri sendiri.

青 (あお) + 空 (そら) = 青空 (あおぞら)
biru + langit = langit biru

Bentuk あおぞら memperjelas bahwa ini adalah kata majemuk di mana unsur “biru” menerangkan unsur “langit”. Selain itu, suku kata ぞら bukan merupakan kata mandiri.

Jika merujuk kembali pada daftar kondisi ideal rendaku, tampak jelas bahwa kosakata wago merupakan katalisator yang sempurna.

  1. Dua kata bergabung membentuk kata majemuk.
  2. Konsonan pertama pada kata kedua tidak bersuara.
  3. Konsonan pertama pada kata kedua termasuk ke dalam salah satu dari empat kelompok karakter yang dapat berubah menjadi konsonan bersuara dengan dakuten atau handakuten (k, s, t, atau h).
  4. Konsonan pertama pada kata kedua diapit oleh vokal-vokal bersuara.

Hampir seluruh kosakata wago diawali dengan konsonan tak bersuara, dan seluruh vokal bersifat bersuara. Artinya, apabila kata kedua dalam suatu gabungan dimulai dengan huruf k, s, t, atau h, syarat terjadinya rendaku terpenuhi secara sempurna! Perhatikan contoh-contoh berikut yang mengonfirmasi berlakunya poin 1 sampai 4 di atas.

k → g
平 (ひら) + 仮名 (かな) = 平仮名 (ひらがな)
rata + kana = hiragana

s → z
山 (やま) + 桜 (さくら) = 山桜 (やまざくら)
gunung + bunga sakura = pohon sakura liar

t → d
鼻 (はな) + 血 (ち) = 鼻血 (はなぢ)
hidung + darah = mimisan

h → b
花 (はな) + 火 (ひ) = 花火 (はなび)
bunga + api = kembang api

h → p
出 (で) + 歯 (は) = 出っ歯 (でっぱ)
keluar + gigi = gigi kelinci

Masyarakat Jepang menggunakan sistem rendaku secara natural semacam ini hingga sekitar abad ke-4 Masehi. Bagi Anda yang telah mempelajari sejarah bacaan on’yomi dan kun’yomi tentu sudah bisa menebak kelanjutan kisahnya, namun bagi yang belum… pada masa inilah pengaruh Tiongkok mulai masuk ke daratan Jepang.

Kosakata Berasal dari Tiongkok Tidak Mengalami Rendaku

peta tiongkok dengan tulisan rendaku di bawahnya

Pengaruh kosakata kango ini begitu kuat hingga mereka bahkan kerap menghalangi terjadinya rendaku.

Berbeda dengan wago, kosakata kango yang bersumber dari bahasa Mandarin dapat dan lumrah diawali dengan konsonan bersuara. Oleh karena itu, penerapan rendaku pada kata-kata jenis ini justru berisiko membuat kata berawalan konsonan tak bersuara kedengaran mirip dengan kata bersuara lainnya, yang pada akhirnya memicu kerancuan.

Sebagai ilustrasi, pada kata 入学試験 (にゅうがくしけん) yang bermakna “ujian masuk sekolah”, Anda tidak akan melafalkannya secara rendaku menjadi にゅうがくじけん. Jika hal tersebut dilakukan, arti kalimatnya bisa membingungkan karena じけん (事件) memiliki arti “insiden”. Bayangkan jika seseorang berkata: “Ya ampun, apakah kamu mendengar tentang insiden masuk sekolah itu?”

Tentu saja itu bukan maksud yang ingin Anda sampaikan.

Begitu pula dengan unsur さっか pada 放送作家 (ほうそうさっか) yang berarti “penulis siaran”, di mana unsur さっか tersebut tidak mengalami rendaku. Seandainya berubah menjadi ざっか, bunyinya akan menyamai kata 雑貨 yang berarti “barang-barang serabutan”.

Dari sini Anda mulai dapat memahami alasan mengapa kango umumnya tidak mengalami rendaku. Tingkat ambiguitasnya terlampau tinggi jika dibandingkan dengan kata-kata wago. Potensi kesalahpahaman inilah yang kemungkinan besar mendasari mengapa kata majemuk kango tidak mengalami rendaku secara mayoritas. Kata majemuk kanji yang dibentuk dari dua atau lebih bacaan on’yomi ini disebut sebagai jukugo (熟語), dan hanya sebagian kecil darinya yang tunduk pada aturan rendaku.

Dominasi kosakata kango ini begitu kuat hingga mereka sering kali mampu menghentikan proses rendaku, bahkan ketika mereka disandingkan dalam satu kata majemuk bersama kata asli Jepang.

Pada gabungan kata kango + wago, di mana unsur pertama menggunakan bacaan on’yomi dan unsur kedua menggunakan bacaan kun’yomi, rendaku dapat terblokir. Meskipun seluruh persyaratan lain untuk rendaku terpenuhi, keberadaan unsur kango tersebut tetap akan menghentikannya.

Mari kita lihat cara kerjanya:

梅 (うめ) + 干し (ほし) = 梅干し (うめぼし)
buah ume + dikeringkan = umeboshi (asinan buah ume)

Kedua kata di atas tergolong wago dan memakai bacaan kun’yomi. Karena kondisinya mendukung, bunyi ほ berubah menjadi ぼ.

布団 (ふとん) + 干し (ほし) = 布団干し (ふとんほし)
kasur futon + dikeringkan = menjemur kasur futon

Sebaliknya, ふとん merupakan kosakata kango yang menggunakan bacaan on’yomi, sedangkan ほし adalah wago dengan bacaan kun’yomi, sehingga bunyi ほ pada kasus ini tidak mengalami rendaku.

“Namun tunggu,” mungkin Anda bertanya, “bukankah huruf ん pada ふとん bukanlah vokal bersuara?” Betul sekali, huruf tersebut bukan vokal, melainkan bunyi sengau (nasal), yang faktanya tidak menghalangi rendaku.

川 (かわ) + 底 (そこ) = 川底 (かわぞこ)
sungai + dasar = dasar sungai

心 (しん) + 底 (そこ) = 心底 (しんそこ)
hati + dasar = lubuk hati terdalam

奥 (おく) + 底 (そこ) = 奥底 (おくそこ)
pedalaman + dasar = dasar yang paling dalam

Kata そこ merupakan wago, dan ia mengalami rendaku ketika membentuk kata majemuk dengan wago lainnya (かわ). Namun, ia tidak mengalaminya saat dipasangkan dengan unsur kango (しん dan おく).

Kata 大 adalah contoh lain dari kosakata kango yang secara mutlak menghentikan rendaku:

大(だい) + 好き (すき) = 大好き (だいすき)
besar + suka = sangat suka

Unsur だい berstatus kango dan すき berstatus wago, namun すき tidak mengalami rendaku.

Kendati demikian, pada pasangan gabungan wago + wago, Anda akan sering menjumpai すき mengalami rendaku:

好き (すき) + 好き (すき) = 好き好き (すきずき)
suka + suka = selera masing-masing

話し (はなし) + 好き (すき) = 話し好き (はなしずき)
berbicara + suka = orang yang suka ngobrol

酒 (さけ) + 好き (すき) = 酒好き (さけずき)
sake + suka = peminum

Lalu kita juga mendapati contoh berikut:

大 (だい) + 嫌い (きらい) = 大嫌い (だいきらい)
besar + benci = sangat benci

Di sini だい adalah kango dan きらい adalah wago, tetapi きらい tidak mengalami rendaku. Serupa dengan kasus すき, kombinasi wago + wago justru memperlihatkan adanya rendaku pada きらい.

犬 (いぬ) + 嫌い (きらい) = 犬嫌い (いぬぎらい)
anjing + benci = pembenci anjing

猫 (ねこ) + 嫌い (きらい) = 猫嫌い (ねこぎらい)
kucing + benci = pembenci kucing

女 (おんな) + 嫌い (きらい) = 女嫌い (おんなぎらい)
wanita + benci = kebencian terhadap wanita (misogini)

Bukan berarti seluruh kata majemuk kango selamanya kebal terhadap rendaku. Fenomena rendaku terkadang muncul pula pada unsur kango, khususnya apabila elemen kedua telah mengalami proses vulgariasi (pemberakyatan kata). Vulgariasi dalam konteks linguistik bermakna bahwa suatu kata telah menjadi sangat umum digunakan di tengah masyarakat, sehingga ia diperlakukan seolah-olah merupakan kata wago.

Mari kita amati beberapa contohnya:

夫婦 (ふうふ) + 喧嘩 (けんか) = 夫婦喧嘩 (ふうふげんか)
pasutri + pertengkaran = pertengkaran suami istri

Kata majemuk kango ini telah bertransformasi menjadi istilah umum dalam perbendaharaan kata bahasa Jepang. Meskipun tersusun dari dua kata bacaan on’yomi, unsur kedua dalam kata tersebut mengalami rendaku. Kata 喧嘩 telah menjadi begitu lazim digunakan sehingga ia kerap memperoleh perlakuan rendaku.

兄妹 (きょうだい) + 喧嘩 (けんか) = 兄妹喧嘩 (きょうだいげんか)
saudara kandung + pertengkaran = perkelahian antar saudara

内輪 (うちわ) + 喧嘩 (けんか) = 内輪喧嘩 (うちわげんか)
lingkaran keluarga + pertengkaran = perselisihan keluarga

Pada dua contoh berikutnya, kita dapat melihat gabungan kata wago + kango. Berkat tingkat kepopuleran atau vulgariasi dari kata kango tersebut, ia diperlakukan selayaknya wago, yang memungkinkan unsur kedua mengalami rendaku.

株式 (かぶしき) + 会社 (かいしゃ) = 株式会社 (かぶしきがいしゃ)
saham + perusahaan = perseroan terbatas (PT)

青 (あお) + 写真 (しゃしん) = 青写真 (あおじゃしん)
biru + foto = cetak biru (blueprint)

Dalam tiga contoh selanjutnya, kita menjumpai kombinasi kango + wago. Karena kata-kata kango ini telah mengalami vulgariasi, kedudukannya disamakan dengan wago, yang berarti kata kedua dapat mengalami rendaku meskipun kata pertamanya bersumber dari kango.

野 (の) + 菊 (きく) = 野菊 (のぎく)
ladang + krisan = bunga krisan liar

避難 (ひなん) + 梯子 (はしご) = 避難梯子 (ひなんばしご)
evakuasi + tangga = tangga darurat kebakaran

座 (ざ) + 布団 (ふとん) = 座布団 (ざぶとん)
duduk + kasur tipis = zabuton (bantal lantai)

Contoh vulgariasi lainnya mungkin tidak langsung terlihat jelas pada pandangan pertama. Pertimbangkan kosakata kango berikut ini:

中 (ちゅう) + 国 (こく) = 中国 (ちゅうごく)
tengah + negara = Tiongkok

韓 (かん) + 国 (こく) = 韓国 (かんこく)
Korea + negara = Korea Selatan

Berbeda dengan wago, kosakata kango yang bersumber dari Tiongkok dapat dan lumrah diawali dengan konsonan bersuara.

Mengapa 中国 mengalami rendaku sementara 韓国 tidak? Ini merupakan salah satu pertanyaan seputar rendaku yang paling sering diajukan, dan terdapat beberapa kemungkinan jawaban untuk menjelaskannya.

Pertama, apabila Anda melihat kanji 中 secara mandiri, Anda tidak serta-merta langsung memikirkan “Tiongkok”, sebab kanji tersebut lazim dipakai untuk arti “tengah” atau “pusat”; ia wajib digabungkan dengan 国 agar bermakna Tiongkok. Sebaliknya, jika Anda melihat kanji 韓 send

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *