Jepang sudah lama dikenal sebagai bangsa yang gemar mengonsumsi makanan laut. Namun, tahukah Anda bahwa masyarakat di sana juga gemar “memakan Viking”? Sejak tahun 1950-an, tradisi menyantap Viking telah menjadi hal yang lumrah di Jepang. Dari Okinawa hingga Hokkaido, warga Jepang menikmati Viking setiap hari. Terdengar membingungkan? Mari kita bahas lebih lanjut.
Di Jepang, istilah untuk menyebut prasmanan atau buffet adalah baikingu バイキング. Mengapa kata Viking dipilih sebagai kata serapan untuk prasmanan? Hal ini tentu terdengar tidak biasa, tetapi ada cerita menarik di baliknya.
Sejarah Masuknya Viking ke Jepang

Sebagai negara kepulauan yang terletak di sebelah timur Korea dan Tiongkok, sumber daya alam Jepang secara historis agak terbatas jika dibandingkan dengan negara daratan yang memiliki jalur perdagangan luas. Oleh karena itu, konsep makan sepuasnya atau all-you-can-eat sempat dianggap asing hingga perekonomian Jepang mulai bangkit pasca Perang Dunia II dan membuka diri terhadap dunia luar.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan globalisasi tersebut, berbagai gagasan baru bermunculan. Pada tahun 1957, seorang manajer restoran dari Imperial Hotel di Tokyo melakukan perjalanan ke Swedia.
Di sana, ia menyaksikan langsung restoran-restoran yang menyajikan smörgåsbord, yaitu tradisi prasmanan khas Skandinavia. Ia kemudian berniat membawa konsep tersebut ke hotelnya dengan harapan gagasan ini akan menyebar ke seluruh Jepang dan menjadi sangat populer.

Pihak manajemen hotel menyambut baik ide tersebut, begitu pula para tamu hotel. Menu yang disajikan awalnya cukup sederhana, terdiri atas daging dingin dan aneka salad. Namun, konsep makan sepuasnya sangat diminati pada masa sulit pasca Perang Dunia II, di mana masyarakat mencari opsi makanan yang memberikan porsi lebih banyak dengan harga terjangkau.
Kendati demikian, nama smörgåsbord menjadi kendala tersendiri karena sulit diucapkan oleh lidah orang Jepang, yang jika dilafalkan akan berbunyi sumougasuboudo スモーガスボード.

Pihak pengelola restoran kemudian mendapatkan inspirasi setelah menonton film keluaran tahun 1958 berjudul The Vikings. Mereka menilai bahwa kata Viking sangat cocok untuk menggambarkan konsep kuliner baru ini.
Orang Viking berasal dari Skandinavia, begitu pula dengan smörgåsbord. Selain itu, kata Viking jauh lebih mudah diucapkan dalam bahasa Jepang. Restoran di hotel tersebut akhirnya mengubah namanya menjadi “Imperial Viking,” yang kemudian mempopulerkan istilah baikingu (バイキング) untuk menyebut prasmanan di Jepang.
Budaya Viking di Jepang Saat Ini

Sejak pertama kali diperkenalkan di Imperial Hotel, konsep prasmanan gaya Viking menyebar ke seluruh penjuru Jepang. Imperial Hotel sendiri tumbuh menjadi salah satu hotel terkemuka di Jepang yang terletak di antara Istana Kekaisaran dan kawasan perbelanjaan Ginza di Tokyo.

Kini, berbagai hotel di seluruh negeri juga menawarkan paket “Lunch Viking” atau “Dinner Viking.” Bahkan, terdapat pula “Dessert Viking” yang menyajikan aneka hidangan penutup sepuasnya. Jadi, apabila Anda berkunjung ke Jepang dan mendapati penawaran makan ala Viking, Anda kini memahami sejarah di balik istilah tersebut dan dapat menikmati hidangan yang disajikan sepuas hati.







