Bunga sakura biasanya menjadi hal pertama yang terlintas di pikiran kebanyakan orang saat memikirkan Jepang. Namun, selain sakura, terdapat tanaman asal Jepang lain yang tak kalah menarik dan menggemaskan, yaitu bola alga.
Mengenal Bola Alga

Tanaman unik ini dikenal dengan nama marimo. Bentuknya sangat bulat, berwarna hijau, dan memiliki tekstur yang terasa lembut serta sedikit kenyal saat disentuh, mirip seperti beludru basah. Dalam bahasa Jepang, kata marimo (毬藻) secara harfiah berarti “tanaman air berbentuk bola”. Mereka merupakan spesies alga yang secara alami memang tumbuh membentuk gumpalan bundar.
Proses pembentukan marimo membutuhkan kondisi alam yang sangat langka dan hanya bisa ditemukan di beberapa negara seperti Islandia, Skotlandia, Estonia, dan Jepang. Di Jepang sendiri, habitat utamanya berada di Danau Akan yang terletak di bagian timur Hokkaido. Perairan di danau ini memiliki area tepi yang dangkal, sangat ideal bagi pertumbuhan alga tersebut. Pada dasarnya, organisme ini serupa dengan alga yang menempel di bebatuan, namun mereka hidup mengapung secara bebas. Seiring pertumbuhannya, arus air akan menggelindingkan alga ini ke bagian yang lebih dalam. Pergerakan menggelinding inilah yang membentuk struktur bundar sempurna pada marimo. Ketika posisinya sudah terlalu dalam dan tidak terjangkau sinar matahari, mereka akan terpecah lalu mengapung kembali ke tepi untuk mengulangi siklus yang sama.

Keunikan lain dari marimo adalah kemampuannya untuk naik dan turun di dalam air secara mandiri melalui proses fotosintesis. Karena kebiasaan inilah mereka kerap dijuluki sebagai bola lumut apung, meskipun sebenarnya mereka sama sekali bukan golongan lumut. Secara ilmiah, tanaman ini bernama Aegagropila linnaei, dan sering pula disebut sebagai bola Cladophora atau bola danau. Sementara itu, dalam bahasa masyarakat adat Ainu di Hokkaido, mereka dinamai torasampe (monster rawa) dan tokarip (bola rawa).
Marimokkori dan Sisi Unik Alga

Daya tarik utama marimo terletak pada kesederhanaannya. Bentuk bola hijau yang simpel ini sangat mudah diadaptasi menjadi berbagai macam suvenir lucu. Wisatawan yang berkunjung ke Danau Akan dapat dengan mudah menemukan beragam cendera mata berbulu hijau yang menggemaskan, termasuk camilan jeli marimo unik di mana penutup plastiknya harus ditusuk menggunakan jarum sebelum isinya dihisap.
Kendati demikian, budaya pop Jepang kerap memadukan unsur imut dengan sesuatu yang eksentrik, seperti salah satu karakter maskot alga yang satu ini.

Maskot tersebut bernama Marimokkori. Namanya merupakan sebuah permainan kata yang menggabungkan marimo dengan istilah mokkori. Kata makkori (モッコリ) sendiri merupakan onomatope dalam bahasa Jepang untuk menggambarkan sesuatu yang menonjol di balik kain.


Marimokkori dikenal sebagai salah satu maskot paling nyeleneh di Jepang, bukan hanya karena bentuk tonjolannya, tetapi juga karena ekspresi senyumnya yang terkesan menggelitik. Meskipun memiliki konsep yang tak biasa, karakter ini juga kerap dinikmati oleh anak-anak di Jepang tanpa batasan usia. Reaksi pertama dari para pelancong, baik domestik maupun mancanegara, biasanya diwarnai tawa keheranan.
Ketika pertama kali diperkenalkan pada tahun 2005, beberapa hotel di Hokkaido sempat menolak menjual barang-barang bertema Marimokkori. Namun seiring berjalannya waktu, karakter ini semakin diterima luas dan hadir dalam berbagai bentuk produk, mulai dari tali ponsel, celana dalam, pakaian bayi, hingga boneka tangan. Ia bahkan memiliki alter ego bernama Warimokkori, memiliki akun media sosial, serta aktif membagikan kesehariannya di internet.
Konservasi dan Sejarah Marimo

Popularitas marimo telah berlangsung jauh sebelum kemunculan maskot Marimokkori. Kepopuleran ini sempat memberikan dampak dua sisi bagi kelestarian mereka, di mana pada mulanya sempat merusak populasi alga tersebut sebelum akhirnya memicu salah satu gerakan konservasi alam tertua di Jepang.
Pemerintah Jepang menetapkan marimo sebagai Harta Karun Nasional pada tahun 1921. Status perlindungan ini justru memicu penurunan drastis populasi liar karena banyak pihak mengambilnya dari alam untuk dijual kepada para pelancong. Kondisi marimo di Danau Akan semakin memprihatinkan akibat aktivitas penebangan hutan dan pembangunan pembangkit listrik yang mengalihkan aliran air penyuplai danau. Akibatnya, permukaan air Danau Akan menyusut drastis dan membuat banyak marimo terdampar hingga mati di tepian. Situasi darurat ini baru mendapat perhatian publik pada musim semi tahun 1950 setelah foto-foto bangkai marimo beredar luas.
Peristiwa tersebut menjadi tonggak awal dimulainya proyek konservasi di Jepang. Masyarakat dari berbagai penjuru negeri berbondong-bondong mengembalikan marimo peliharaan mereka ke habitat aslinya di Danau Akan. Festival Marimo pertama pun diselenggarakan pada 7 Oktober 1950 untuk merayakan kembalinya alga-alga tersebut ke danau, sebuah tradisi yang masih dilestarikan hingga kini melalui berbagai ritual adat oleh masyarakat Ainu setempat serta diskusi mengenai pelestarian lingkungan.
Meskipun demikian, hubungan antara komunitas Ainu dan tradisi festival marimo ini menyimpan dinamika tersendiri. Sebagian komunitas Ainu di wilayah lain berpendapat bahwa tidak ada catatan leluhur yang secara khusus mengaitkan penghormatan terhadap marimo dengan budaya tradisional mereka, mengingat tanaman ini dulunya kerap dianggap mengganggu jaring ikan.
Kisah-kisah romantis mengenai asal-usul marimo, seperti legenda gadis Ainu yang mengakhiri hidupnya di danau karena patah hati, umumnya lebih banyak disebarkan oleh pemandu wisata untuk menarik minat pelancong. Di sisi lain, para tokoh adat di Danau Akan menegaskan bahwa pelaksanaan festival tersebut merupakan bentuk penghormatan dan rasa syukur terhadap kelestarian alam secara keseluruhan.
Cara Memelihara Marimo Sendiri

Saat ini, industri suvenir marimo masih terus berjalan, namun bola alga yang diperjualbelikan umumnya dibentuk secara buatan dari filamen yang mengapung bebas, bukan diambil langsung dari alam liar. Pengawasan ketat dilakukan oleh Komisi Perikanan Hokkaido untuk memastikan populasi marimo alami tetap terjaga.

Bagi wisatawan yang mengunjungi Hokkaido, marimo dapat dengan mudah ditemukan di berbagai toko suvenir. Namun, membawa tanaman hidup lintas negara mungkin memerlukan perhatian khusus terkait aturan biosekuriti. Sebagai alternatif, penggemar tanaman hias di berbagai belahan dunia bisa mendapatkan marimo di toko akuarium atau pusat perlengkapan hewan peliharaan dengan nama umum bola lumut.
Merawat marimo tergolong sangat mudah dan minim risiko kematian. Tanaman ini tidak membutuhkan paparan sinar matahari langsung karena habitat aslinya berada di dasar danau yang redup. Air yang digunakan sebaiknya disaring terlebih dahulu atau diendapkan selama beberapa hari untuk menghindari kandungan klorin, dengan jadwal penggantian air setiap beberapa minggu sekali.

Marimo sangat aman jika disatukan dengan ikan di dalam akuarium, bahkan beberapa jenis ikan hias tampak menikmati interaksi dengan bola alga ini. Kehadiran marimo juga membantu menjernihkan dan mengoksigenasi air akuarium. Sesekali, pemilik dapat meremas lembut bola alga ini setiap dua minggu sekali untuk membuang kotoran yang menumpuk di dalamnya.

Pertumbuhan tanaman ini berjalan sangat lambat, di mana dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai ukuran sebesar bola tenis. Apabila ingin memperbanyaknya, pemilik dapat membelah marimo menjadi dua bagian dan membentuknya kembali secara manual tanpa perlu khawatir merusaknya.
Kesederhanaan bentuk bola hijau yang lembut ini menjadikan marimo sebagai salah satu simbol botoni paling ikonis dari Jepang, yang terus memikat hati banyak orang melalui berbagai bentuk interpretasi kreatif.








