The Witcher 3: Wild Hunt tentu sudah sangat dikenal luas oleh para gamer. Selama lebih dari satu dekade sejak dirilis, game ini tidak hanya dianggap sebagai salah satu RPG dunia terbuka terbaik, tetapi juga salah satu mahakarya dalam sejarah industri video game. Oleh karena itu, ketika CD Projekt Red secara mengejutkan mengumumkan ekspansi ketiga untuk game klasik tersebut, komunitas langsung menyambutnya dengan antusias tinggi.
Tiga belas minggu setelah pengumuman resminya, ekspansi berjudul The Witcher 3: Songs of the Past akhirnya memamerkan trailer perdana dalam ajang Gamescom Opening Night Live. Sehari berselang, sesi pratinjau tertutup untuk ekspansi ini digelar. Dalam sesi berdurasi satu jam tersebut, para pengembang dari CD Projekt Red dan Fool’s Theory mendemonstrasikan permainan langsung dari ekspansi baru, memperlihatkan wilayah anyar, memberikan gambaran awal tentang alur cerita utama, serta menyoroti berbagai peningkatan yang hadir melalui pembaruan gratis Witcher 3 Remastered pada 29 September mendatang. Kesimpulan utama dari presentasi tersebut sangat jelas: Songs of the Past menyajikan lebih banyak konten khas Witcher 3 yang dicintai para penggemar.
Memulai Petualangan di Letten
Sesi uji coba langsung The Witcher 3: Songs of the Past memperlihatkan sang pemburu monster terbangun di tepi sungai yang tenang di Letten, wilayah asal penyair ekspresif Dandelion yang sekaligus menjadi latar utama dalam ekspansi ini. Setelah merayakan festival Belleteyn sehari sebelumnya, ingatan Geralt tampak sedikit kabur dan rekan bard-nya itu tidak terlihat di mana pun. Geralt kemudian memutuskan untuk menuju Lettenhove Manor, bangunan megah yang menjadi pusat wilayah tersebut sekaligus kediaman masa kecil Dandelion beserta keluarganya yang terpandang.
Tidak jauh dari tepi sungai, Geralt mendengar petikan lute yang sangat dikenalnya. Melalui pilihan objektif opsional, Geralt mendatangi orang yang memegang alat musik tersebut. Setelah perbincangan singkat yang disusul perkelahian ringan, Geralt berhasil merebut kembali barang berharga milik sahabatnya. Suara Geralt terdengar semakin serak, namun penokohan karakternya tetap konsisten dan dialog khas yang tajam dari game dasar berhasil dipertahankan dengan sangat baik.
Dengan lute di tangan, Geralt menaiki sebuah perahu untuk menyeberangi danau kecil yang mengelilingi Lettenhove Manor. Saat perahu melaju di atas air, peningkatan grafis dari versi remaster langsung mencuri perhatian. Sistem pencahayaan dan pantulan air terlihat jauh lebih hidup, dengan sinar matahari yang menembus pepohonan serta riak air yang bergerak natural di bawah perahu Geralt. Wilayah Letten digambarkan sebagai kawasan asri yang menawarkan suasana berbeda dari game utamanya.
Geralt kemudian berlabuh di dekat sebuah desa nelayan kecil, memanggil kuda setianya Roach, dan melanjutkan perjalanan darat menuju Lettenhove Manor. Pedesaan yang terinspirasi dari wilayah pedesaan di Polandia dan Inggris ini terasa sangat hidup berkat kehadiran para NPC. Sepanjang perjalanan, kelompok NPC tampak sibuk dengan aktivitas dan percakapan masing-masing, memperlihatkan peningkatan kualitas maupun kuantitas interaksi dunia yang membuat lingkungan game terasa semakin dinamis.
Keluarga dan Hubungan Personal Menjadi Inti Cerita
Setibanya di gerbang Lettenhove Manor, Geralt disambut dalam sebuah sekuens dialog panjang di ruang makan bersama nenek Dandelion. Tidak lama kemudian, Lilla yang merupakan sepupu Dandelion turut bergabung dan langsung menjadi karakter yang menonjol dalam sesi pratinjau tersebut. Merasa jenuh dengan tembok-tembok benteng keluarganya, Lilla mendengarkan cerita petualangan Dandelion dengan antusias.
Ketiganya membahas keberadaan Dandelion yang belum diketahui. Geralt kemudian menceritakan mimpinya tentang sebuah sumur yang dikelilingi duri, yang dihubungkan Lilla dengan legenda lokal bernama ‘The Garden of Thorns’. Pergerakan kamera selama adegan percakapan ini terasa lebih sinematik dibandingkan game dasarnya, meskipun masih terdapat beberapa jeda dialog dan animasi karakter yang kaku sebelum peluncurannya.
Geralt dan Lilla kemudian pergi ke kandang kuda manor, di mana Lilla berhasil meyakinkan sang Witcher untuk membawanya ikut mencari Dandelion. Sepanjang perjalanan menunggang kuda menuju area baru, Lilla mengisahkan legenda leluhur mereka yang konon jatuh cinta pada seorang penyihir wanita, yang berujung pada konflik tragis dengan warga setempat.
Setibanya di Garden of Thorns, suasana siang hari yang cerah berubah drastis menjadi hutan gelap yang dipenuhi tanaman merambat di bawah terangnya bulan purnama. Di tempat ini, Geralt langsung berhadapan dengan Swarmion, jenis monster baru yang menggunakan sekumpulan tawon sebagai perisai. Perisai tersebut hanya dapat disingkirkan menggunakan senjata baru bernama Chain, alat jarak jauh yang mampu menarik musuh mendekat untuk dieksekusi dalam gerakan lambat.
Setelah pertempuran tersebut, Geralt menemukan sesosok mayat berzirah yang bangkit ketika disentuh oleh Lilla. Pertarungan bos melawan ‘Slumbering Knight’ ini memperlihatkan beberapa pembaruan mekanik tempur dalam versi remaster. Kamera kini mengikuti gerakan Geralt saat ia menghindari serangan musuh, sementara animasi menghindar, menangkis, dan menyerang terasa lebih halus dan mengalir secara natural.
Kesimpulan
Berdasarkan sesi pratinjau yang telah disaksikan, The Witcher 3: Songs of the Past tampaknya tidak berniat mengubah formula dasar permainan secara radikal, dan memang hal tersebut tidak diperlukan. Fondasi kuat yang dibangun sejak sebelas tahun lalu terbukti masih berjalan sangat optimal dalam ekspansi ini, menjanjikan petualangan baru yang tetap setia pada akar aslinya.








