Home / Game / 5 Film Pembunuh Berantai yang Jauh Lebih Mengerikan Ketimbang The Whisper Man di Netflix

5 Film Pembunuh Berantai yang Jauh Lebih Mengerikan Ketimbang The Whisper Man di Netflix

untitled design 1 1

Film thriller kriminal terbaru yang dibintangi oleh Michael Keaton, The Whisper Man, menawarkan premis yang menarik sejak awal. Cerita bermula ketika pihak kepolisian Garreton mencurigai adanya kaitan antara kasus penculikan anak baru dengan seorang pembunuh berantai yang sedang dipenjara, yaitu sang Whisper Man. Konflik semakin memanas saat Tom bersama anaknya yang masih kecil, Jake, pindah ke kota tersebut dan langsung menjadi target kejahatan berikutnya. Melalui sajak anak-anak yang menyeramkan, teman khayalan, serta rekaman suara bernada teror, film ini berhasil membangun misteri anak hilang yang dingin dengan berbagai plot twist mengejutkan.

Meskipun memiliki sisi kelam, The Whisper Man bukanlah film pembunuh berantai paling mengerikan yang pernah ada. Bagi penonton yang merasa alur cerita film keluaran tahun 2026 ini terlalu mudah ditebak dan kurang menantang, ada beberapa pilihan film lain yang jauh lebih meresahkan. Berbekal kekejaman dunia nyata, horor psikologis, serta pendekatan yang benar-benar segar terhadap formula film pembunuh berantai, deretan film berikut dijamin akan memberikan kesan mendalam yang jauh melampaui The Whisper Man.

5
There’s No Safety in The Clovehitch Killer

Charlie Plummer and Dylan McDermott in The Clovehitch Killer
Charlie Plummer and Dylan McDermott in The Clovehitch Killer
Charlie Plummer as Tyler, left, and Dylan McDermott as Don in the thriller “The Clovehitch Killer.” (Photo courtesy of IFC Midnight.)

The Clovehitch Killer mengambil salah satu gagasan paling mengganggu dan menempatkannya di tengah lingkungan keluarga Amerika yang tampak biasa saja. Film ini mengikuti kisah seorang remaja bernama Tyler yang mulai mencurigai bahwa ayahnya—sosok yang selama ini terlihat normal dan terhormat—sebenarnya adalah pembunuh berantai di balik rentetan kasus pembunuhan berantai yang belum terpecahkan selama 10 tahun. Premis ini terasa sangat mengerikan karena Tyler tidak sedang menyelidiki orang asing yang berbahaya, melainkan mempertanyakan apakah orang yang paling ia percayai telah menyembunyikan rahasia besar selama bertahun-tahun.

Faktor inilah yang membedakan rasa cemas dalam The Clovehitch Killer dibandingkan dengan The Whisper Man, meski kedua cerita sama-sama mengangkat unsur ikatan keluarga. Jika The Whisper Man mengandalkan adegan-adegan seram seperti sarung tangan medis yang merayap di kotak surat, film ini unggul lewat sesuatu yang jauh lebih menakutkan: gagasan bahwa sesosok monster bisa saja duduk satu meja makan bersama Anda. Meskipun tampil lebih senyap dibanding film-film lain dalam daftar ini, film ini tetap sangat efektif karena berfokus pada kemungkinan mengerikan yang terasa begitu nyata.

4
The Black Phone Puts the Viewer in Finney’s Shoes

Split image of The Grabber and Robin's Missing Child Poster in The Black Phone

Serupa dengan The Whisper Man, The Black Phone memahami betul bahwa sedikit hal yang lebih menakutkan daripada anak-anak yang menjadi sasaran pembunuh kejam tanpa henti. Film horor garapan Scott Derrickson ini berpusat pada Finney, seorang anak laki-laki yang diculik oleh pembunuh berkedok topeng (dikenal sebagai Grabber) dan dikurung di dalam sebuah basement kedap suara.

Topeng, aksi kejahatan, serta perilaku tak terduga sang Grabber menempatkan Finney dalam situasi suram, namun sebuah telepon hitam tua memberikan secercah harapan untuk bertahan hidup. Ada banyak momen menegangkan di dalam The Black Phone, dan kehadiran unsur supranatural memberikan nilai lebih dibandingkan film thriller pembunuh berantai konvensional.

Karakter Grabber sendiri sudah cukup mengerikan berkat apa yang dilakukannya kepada para korban, tetapi film ini semakin memperkuat atmosfer mimpi buruk saat Finney berjuang untuk tetap hidup. Alasan utama mengapa The Black Phone terasa lebih mengganggu daripada The Whisper Man adalah karena film ini tidak hanya menggunakan figur pembunuh sebagai alat ketegangan, melainkan menyeret penonton langsung ke dalam pusaran mimpi buruk tersebut tanpa memberi jeda dari situasi mengerikan yang dialami Finney.

3
It’s Physically Uncomfortable to Watch Prisoners

Prisoners juga mengusung tema anak hilang seperti halnya The Whisper Man, namun membawa konsekuensi moral ke tingkat yang jauh lebih ekstrem hingga membuat penonton merasa tidak nyaman secara fisik. Saat merayakan hari Thanksgiving bersama keluarga, Anna Dover dan Joy Birch tiba-tiba menghilang, membuat Keller Dover merasa yakin bahwa pihak kepolisian tidak bekerja secara maksimal.

Didorong oleh keputusasaan yang mendalam, Keller akhirnya memutuskan untuk mengambil tindakan sendiri dengan melanggar batas-batas moral demi menemukan keberadaan kedua anak tersebut. Berbeda dari kebanyakan film pembunuh berantai pada umumnya, penonton dibuat sama penasarannya antara mencari lokasi tempat anak-anak itu disekap dan melihat sejauh apa seseorang yang biasa saja bisa bertindak demi menyelamatkan keluarganya.

Film Prisoners secara konstan melemparkan pertanyaan “Seberapa jauh batas toleransi?” kepada penonton melalui bedah psikologis yang suram tentang rasa takut, balas dendam, dan keadilan. Walaupun The Whisper Man sempat menyentuh gagasan serupa ketika Tom memutuskan menyelidiki hilangnya Jake bersama ayahnya, film tersebut sama sekali tidak sekelam atau sedekritif cara Prisoners mengeksplorasi karakternya.

2
The Chaser is Heartbreakingly Bleak

Joong-ho standing over Eun-ji's hospital bed in The Chaser

The Chaser merupakan film thriller asal Korea Selatan yang menyajikan kisah sangat kelam tanpa basa-basi. Cerita mengikuti Joong-ho, mantan detektif yang beralih profesi menjadi mucikari, yang menyadari bahwa beberapa pekerja seks di bawah naungannya menghilang setelah dikirim ke pelanggan yang sama. Penyelidikan tersebut membawanya pada seorang pembunuh berantai, namun keberhasilan menemukan sang pelaku justru menjadi awal dari mimpi buruk berkepanjangan. Film karya Na Hong-jin ini tergolong kejam bagi penontonnya karena kerap memunculkan secercah harapan bahwa situasi akan membaik, sebelum akhirnya merenggut harapan itu kembali.

Menampilkan sosok pembunuh berdarah dingin yang tampak begitu tenang serta banyaknya kesempatan untuk menghentikannya yang terbuang sia-sia, The Chaser membuktikan diri sebagai salah satu film pembunuh berantai yang anti-mainstream. Jika The Whisper Man membangun ketegangan melalui misteri identitas pembunuhnya, The Chaser justru menjadikan fakta bahwa sang monster berkeliaran bebas sebagai sumber ketegangan yang amat menyiksa. Alurnya berkembang dari sekadar pengejaran kucing-kucingan yang keras menjadi tontonan yang sungguh meresahkan.

1
Sinister Makes You Feel Like You’re Being Watched

Sinister Ethan Hawke

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *