Penulis manga Spica Aoki untuk pertama kalinya menghadiri konvensi AnimagiC di Jerman. Dalam rangkaian kegiatan kunjungannya, Aoki-sensei menyempatkan diri untuk berbincang-bincang mengenai manga karyanya yang sedang berjalan, yaitu KAIJU GIRL CARAMELISE, adaptasi anime yang sedang tayang, serta asal-usul di balik premis cerita yang begitu unik.
Cerita ini berpusat pada Kuroe Akaishi, seorang siswi SMA yang mengidap penyakit misterius di mana tubuhnya berubah menjadi kaiju setiap kali ia merasakan jatuh cinta. Dengan perpaduan antara kisah romantis shojo serta unsur kaiju dan tokusatsu, KAIJU GIRL CARAMELISE langsung berhasil menarik perhatian sejak pertama kali dibaca.
Terinspirasi dari alur cerita yang inovatif tersebut, mari kita simak proses kreatif dan pemikiran di balik pembuatan manga ini melalui wawancara di bawah ini.
Sebagian dari wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas dan jelas. Wawancara ini dilaksanakan dengan bantuan seorang penerjemah.
Q: Adaptasi anime dari KAIJU GIRL CARAMELISE saat ini sudah mulai tayang. Apa yang terlintas di benak Anda ketika pertama kali mendengar kabar tentang adaptasi tersebut?
A: Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Saya mendapat kabar ini dari editor saya, Akasaka-san, lewat sambungan telepon. Saya sampai bersuara cukup keras karena begitu bahagia. Mengetahui karya saya diadaptasi menjadi anime adalah salah satu impian terbesar saya sebagai seorang mangaka. Saya memulai debut pada tahun 2011, namun karya-karya saya sebelumnya tidak memiliki masa serialisasi yang panjang, jadi ini adalah karya pertama saya yang diangkat ke layar kaca.
Q: Sejauh mana keterlibatan Anda dalam proses produksi anime ini? Apa hal yang paling Anda nantikan saat melihat karakter-karakter ciptaan Anda akhirnya bergerak dan bersuara untuk pertama kalinya?
A: Saya ikut serta dalam banyak tahapan produksi: mulai dari rapat penyusunan naskah, peninjauan desain karakter, hingga proses audisi untuk para pengisi suara. Biasanya para karakter hanya bergerak dan berbicara di dalam kepala saya saja, jadi menyaksikan hal itu terwujud secara nyata sungguh luar biasa. Saya juga melihat betapa banyak orang yang bekerja keras dalam produksi ini, dan saya sangat berterima kasih atas hal tersebut.
Q: Premis utamanya—di mana perasaan jatuh cinta mengubah sang tokoh utama menjadi kaiju—terasa sangat unik. Bagaimana ide cemerlang ini bisa muncul?
A: Ide itu muncul saat pertemuan pertama saya dengan editor. Saya datang ke pertemuan tanpa membawa ide apa pun, jadi kami akhirnya melakukan siniar atau bertukar pikiran. Awalnya saya merasa gugup, tetapi kemudian saya berhenti merasa khawatir dan mulai melontarkan apa pun yang terlintas di kepala saya. Restoran tempat kami bekerja berada di dekat Sungai Sumida di Tokyo. Pemandangannya sangat bagus dan sering dijadikan latar tempat kemunculan kaiju di dalam film. Secara kebetulan, sehari sebelumnya saya baru saja menonton film kaiju, jadi gagasan itu masih melekat di kepala saya. Saya menghubungkan semuanya dan memutuskan untuk membuat cerita tentang seorang anak SMA yang bisa berubah wujud menjadi kaiju, yang akhirnya disetujui oleh editor saya.
Q: Serial ini memadukan unsur komedi, romansa, dan aksi monster yang dahsyat. Bagaimana cara Anda menemukan ritme yang pas di antara berbagai nuansa tersebut saat sedang menggambar?
A: Prinsip saya adalah menggambar ‘hal-hal lucu dengan cara yang lucu’ dan ‘hal-hal keren dengan cara yang keren.’ Kuroe selaku tokoh utama digambarkan selucu mungkin, sementara Harugon digambarkan dengan gaya yang keren. Karena itulah saya menciptakan kontras yang menarik antara Kuroe dan wujud Harugon miliknya.
Q: Karakter mana yang paling Anda nikmati saat digambar atau ditulis?
A: Favorit saya adalah Manatsu karena dia hanya perlu mengucapkan satu patah kata saja dan ritme adegannya langsung berubah [tertawa]. Dia bisa mengubah adegan serius menjadi adegan komedi dalam sekejap. Selain itu, dia juga memiliki sisi baik hati yang saya sukai.
Q: Bagaimana awal mula Anda tertarik menggambar manga, dan seniman atau karya apa saja yang paling memberikan pengaruh besar bagi Anda?
A: Waktu masih di taman kanak-kanak, saya menonton Sailor Moon, dan itu menjadi sumber inspirasi utama saya. Manganya diterbitkan di majalah bulanan, yang selalu saya tunggu-tunggu setiap bulan saat saya berumur 5 tahun. Karya tersebut memiliki visual yang sangat indah. Di situlah mimpi saya bermula: saya ingin membuat orang lain merasakan emosi yang sama seperti yang saya rasakan saat membaca karya-karya tersebut.
Q: Apa tantangan terbesar dalam menjaga agar serial yang berjalan panjang ini tetap bertahan selama bertahun-tahun dan merilis banyak volume?
A: Menjaga tingkat antusiasme dan semangat yang sama sepanjang masa serialisasi adalah hal yang sangat menantang. Meskipun saya dibantu oleh para asisten, pekerjaan ini tetap terasa cukup melelahkan secara mental. Di era media sosial seperti sekarang, kita memang bisa melihat reaksi pembaca secara daring, tetapi saat tidak ada respons yang muncul, saya jadi merasa cemas. Mengingat ini adalah karya komersial, jika tidak mendapat perhatian yang cukup, masa serialisasinya bisa dihentikan. Itulah sebabnya saya selalu merasakan tekanan ini setiap bulannya.
Q: Anda menggabungkan motif klasik kaiju dan tokusatsu dengan kisah cinta bergenre shojo. Apa daya tarik dari kombinasi ini, dan bagaimana cara Anda menyeimbangkan keduanya?
A: Melalui pengaturan ini, saya bisa melakukan hal-hal yang biasanya tidak pernah terjadi dalam cerita cinta biasa. Ada banyak perbedaan dibandingkan cerita manga shojo pada umumnya. Di satu sisi banyak kesamaan karena temanya tetap tentang gadis SMA yang jatuh cinta, tetapi dengan menambahkan unsur kaiju, skala ceritanya menjadi jauh lebih besar.
Q: Karena “kondisi” yang dimilikinya, Kuroe merasa terasingkan dalam waktu yang cukup lama. Seberapa penting tema “menjadi berbeda” ini bagi Anda, and pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada para pembaca melalui kisahnya?
A: Saya rasa setiap orang memiliki kompleksnya masing-masing, dan yang terpenting adalah untuk tidak menyerah serta tetap berharap hal-hal baik akan terjadi pada diri kita. Sekalipun impian kalian tidak terwujud sepenuhnya, saya ingin para pembaca memahami bahwa kita harus tetap berusaha sebaik mungkin. Itulah hal yang ingin saya sampaikan melalui cerita ini.
Q: Ini adalah penampilan pertama Anda di AnimagiC Jerman. Pesan apa yang ingin Anda bagikan kepada para pembaca di Jerman maupun internasional?
A: Karya saya sebelumnya, Beasts of Abigaile, memiliki banyak penggemar di Jerman. Di Jepang sendiri karya tersebut tidak begitu populer—bahkan harus tamat setelah empat volume—namun antusiasme dari para penggemar di Jerman justru menginspirasi saya untuk terus berkarya.
Q: Setelah berkunjung langsung ke AnimagiC, bagaimana kesan Anda terhadap para penggemar di sana?
A: Antusiasme para penggemar sangat luar biasa, dan saya juga merasa memiliki kedekatan dengan budaya Jepang. Satu hal yang sempat mengejutkan saya adalah ketika seseorang meneriakkan nama saya, “Spica, Spica,” di tengah acara pembukaan. Hal seperti itu jarang terjadi di Jepang, dan mendengarnya membuat saya merasa sangat bahagia.
Q: Seberapa dalam hubungan pribadi Anda dengan budaya kaiju dan tokusatsu? Apakah Anda sendiri merupakan penggemar berat genre tersebut?
A: Ya, jika harus menyebutkan salah satu, itu pasti Godzilla. Orang tua saya sangat menyukai Godzilla dan menonton film-film awalnya yang masih berwarna hitam putih di bioskop. Semasa kecil, saya sering menonton banyak film Godzilla di rumah. Selain karakternya yang keren dan kuat, monster itu juga memiliki sisi yang menggemaskan. Jika dipikir-pikir kembali, hal itulah yang mungkin menjadi salah satu alasan mengapa ide untuk KAIJU GIRL CARAMELISE bisa tercipta.
Q: Dalam berbagai karya asal Jepang, monster tidak selalu digambarkan sekadar sebagai ancaman, melainkan sebagai manifestasi dari jati diri yang tersembunyi. Apakah Anda memandang wujud kaiju Kuroe dari sudut pandang yang sama—sebagai simbol dari isi hatinya yang terpendam?
A: Betul, Harugon adalah representasi dari perasaan aslinya—hal-hal yang tidak bisa dia ucapkan karena kurang percaya diri, atau berbagai hal yang tersembunyi di dalam lubuk hatinya.
Q: Tanpa membocorkan terlalu banyak hal: Apakah akhir cerita dari manga ini sudah Anda rancang sejak awal, atau alurnya berkembang seiring berjalannya waktu?
A: Ketika pertama kali memulainya, saya belum memikirkan bagaimana akhir ceritanya, tetapi menjelang akhir Volume 1, saya sudah memiliki gambaran samar tentang bagaimana kisah ini akan ditutup. Meskipun demikian, saya tidak akan menceritakannya secara detail sekarang agar tidak menimbulkan spoiler [tertawa].
Q: Sebelum KAIJU GIRL CARAMELISE, Anda telah menciptakan karya-karya seperti Beasts of Abigaile dan Devil★Rock. Apakah Anda melihat adanya benang merah atau DNA yang sama di dalam seluruh karya Anda?
A: Ya—seperti yang saya katakan sebelumnya, karya-karya tersebut berada di jalur yang serupa. Saya benar-benar percaya bahwa jika kita terus melangkah maju, meskipun impian kita mungkin tidak tercapai sepenuhnya, proses itu sendiri adalah sesuatu yang luar biasa. Saya menulis karya-karya ini untuk memberikan dukungan kepada para pembaca, sekaligus untuk diri saya sendiri.
Q: Apakah ada manga, film, atau karya seni tertentu yang ingin Anda rekomendasikan kepada para pembaca saat ini?
A: Ya, saya sempat menyinggung karya saya sebelumnya yaitu Beasts of Abigaile, yang mungkin belum diketahui oleh sebagian orang. Karya tersebut berfungsi sebagai fondasi bagi terciptanya KAIJU GIRL CARAMELISE. Meskipun ceritanya berakhir agak cepat, saya merasa berhasil merampungkan kisah tersebut dengan cara yang cukup baik.
Q: Kaiju memiliki tradisi budaya yang panjang di Jepang—mulai dari yokai dan dewa alam yang murka hingga Godzilla sebagai perwujudan kecemasan kolektif. Apakah Anda melihat kaiju ciptaan Anda sendiri berada dalam garis keturunan mitologis ini, dan apakah mereka membawa makna simbolis di luar statusnya sebagai sekadar monster?
A: Di Jepang, kaiju sering kali merepresentasikan rasa takut atau suatu kekuatan dahsyat yang tidak mampu diatasi oleh tenaga manusia. Namun, saya melihat ada banyak potensi cara penggunaan kaiju yang berbeda, seperti di dalam manga ini. Dalam KAIJU GIRL CARAMELISE, kaiju digambarkan sebagai representasi dari emosi dan perasaan tertahan yang tidak bisa keluar secara leluasa.
Kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Aoki-sensei beserta timnya karena telah meluangkan waktu untuk wawancara di tengah kesibukan konvensi ini. Kami berharap dapat kembali bertemu dengannya di berbagai acara internasional di masa mendatang.
Jika premis cerita ini berhasil menarik rasa penasaran kalian seperti halnya kami, jangan lewatkan untuk membaca manga serta menonton animenya!
©Spica Aoki/KADOKAWA/Project KAIJU GIRL CARAMELISE








