Home / Travel / Museum Penjara Abashiri: Tempat Sempurna Belajar Cara Napi Tidur, Makan, Bekerja, Mandi, hingga Kabur ke Era Meiji

Museum Penjara Abashiri: Tempat Sempurna Belajar Cara Napi Tidur, Makan, Bekerja, Mandi, hingga Kabur ke Era Meiji

header 640x 111

Saat merencanakan perjalanan ke Hokkaido dan mampir ke Ezura Farm, tim Tofugu memutuskan untuk melakukan perjalanan sehari ke Abashiri dan Monbetsu. Setelah mencari beberapa referensi di Google, Abashiri Prison Museum langsung menarik perhatian dengan julukan unik seperti “penjara paling tidak bisa lolos di Jepang” dan tempat untuk mencicipi makanan narapidana. Mengingat tradisi Tofugu yang suka mengunjungi tempat-tempat tidak biasa selama di Jepang, destinasi ini langsung dimasukkan ke dalam daftar kunjungan tanpa pikir panjang.

Namun, kesan pertama tersebut berubah drastis ketika tiba di lokasi. Tempat ini ternyata jauh melampaui bayangan awal yang sempat disamakan dengan izakaya bertema penjara. Abashiri Prison Museum menyimpan sejarah yang sangat mendalam serta edukatif, bahkan berhasil mengubah sudut pandang tentang Hokkaido secara keseluruhan.

Hokkaido dikenal luas sebagai destinasi wisata populer, tetapi sejarah pembangunan infrastruktur serta kontribusi para narapidana di baliknya jarang diketahui banyak orang. Hal semacam ini tidak pernah diajarkan di kelas sejarah reguler di Jepang. Meski menyimpan kisah yang kelam dan menyedihkan, mempelajari sejarah tersebut di museum ini memberikan nilai tambah yang istimewa bagi keseluruhan perjalanan.

Sejarah Hokkaido dan Para Narapidana

Lifesize models of Abashiri prisoners walking in single file

Sebelum mendalami pengalaman di museum, penting untuk memahami latar belakang sejarahnya terlebih dahulu. Hokkaido bergabung dengan Jepang lebih lambat dibandingkan wilayah lainnya. Pulau di bagian utara ini resmi dinamai Hokkaido dan mulai dijamah sekitar 150 tahun yang lalu. Periode tersebut terjadi beberapa tahun setelah Restorasi Meiji, sebuah era yang memicu berbagai gerakan hak liberal, peningkatan kejahatan politik, dan over-inkarserasi di seluruh Jepang. Di sisi lain, pemerintah Jepang khawatir Kekaisaran Rusia akan memperluas kekuasaannya ke selatan, sehingga pembangunan wilayah Hokkaido harus segera dilakukan secepat mungkin untuk pertahanan.

Dari kebutuhan mendesak itulah muncul gagasan untuk memanfaatkan tenaga narapidana sebagai tenaga kerja pembangunan. Kebijakan ini berujung pada lingkungan kerja yang sangat tidak manusiawi, penuh penyiksaan, dan merenggut nyawa ribuan narapidana.

Museum ini menyajikan berbagai informasi lengkap mengenai masa lalu hingga kondisi penjara saat ini. Lebih dari itu, Abashiri Prison Museum memegang peranan penting dalam mengenang jasa para narapidana yang mempertaruhkan nyawa demi pembangunan infrastruktur utama Hokkaido, terutama jalan raya utama yang kini dikenal sebagai 囚人道路(しゅうじんどうろ) atau “jalan para narapidana.”

Mengunjungi Abashiri Prison Museum

An Abashiri Prison Museum entrance ticket

Abashiri Prison Museum merupakan museum terbuka di mana pameran utamanya terdiri dari bangunan-bangunan asli dari Penjara Abashiri yang dipindahkan ke lokasi ini. Perlu dicatat bahwa Penjara Abashiri yang asli masih beroperasi dan terletak hanya beberapa menit berkendara dari museum. Beberapa bangunan bersejarah ini berasal dari era Meiji dan telah ditetapkan sebagai properti budaya penting nasional, menampilkan perpaduan unik antara gaya tradisional Jepang dan pengaruh barat.

Karena mengusung konsep luar ruangan, area museum ini sangat luas dan menyerupai sebuah desa kecil. Dengan keterbatasan waktu sekitar dua jam termasuk makan siang, kunjungan terasa cukup terburu-buru. Tersedia banyak panel informasi, sebagian besar juga dalam bahasa Inggris, yang sayangnya tidak sempat dibaca secara keseluruhan. Untuk menikmati seluruh area dengan santai, disarankan meluangkan waktu beberapa jam atau bahkan seharian penuh.

Berikut adalah beberapa sorotan utama dari Abashiri Prison Museum yang dapat disaksikan langsung saat berkunjung.

Reproduction of the original prison entrance gate

Objek pertama yang menyambut pengunjung setelah melewati gerbang tiket adalah replika gerbang utama Penjara Abashiri. Gerbang bata merah yang tebal dan kokoh ini memancarkan atmosfer penjara yang sangat kuat.

Lifesize models of visitors in a prison waiting room

Di balik gerbang tersebut, terdapat ruangan yang berfungsi sebagai ruang tunggu bagi para keluarga yang ingin menjenguk narapidana. Mengingat peraturan kunjungan yang sangat ketat pada masa itu dan tidak ada jaminan bisa menemui kerabat yang dicari, ekspresi model orang-orang di ruangan ini tampak tidak begitu gembira.

Berdasarkan panduan peta museum, pengunjung disarankan untuk mendatangi gedung administrasi terlebih dahulu guna memahami sejarah dasar pembangunan Hokkaido. Terdapat pula informasi mengenai empat penjara lain di Hokkaido yang dibangun pada era Meiji dengan tujuan serupa, lengkap dengan detail proyek infrastruktur dan para korban jiwa.

Selain sejarah kelamnya, Penjara Abashiri juga terkenal memiliki sistem pertanian penjara paling sukses di Jepang. Pengunjung dapat melihat berbagai peralatan pertanian serta mempelajari penerapan metode agrikultur barat pada masa itu.

Fakta menarik lainnya adalah Penjara Abashiri mulai beternak sapi wagyu pada tahun 1997 dan menjualnya dengan merek “Abashiri Prison Wagyu.” Beberapa produk daging sapi mereka bahkan pernah meraih penghargaan kualitas tertinggi A5, membuktikan keahlian di bidang pertanian yang terus dipertahankan.

Lifesize models of prisoners and a guard inside temporary prison quarters

Salah satu bangunan yang paling menarik perhatian adalah “tempat tinggal sementara” atau sel penjara keliling. Proyek pembangunan jalan raya dari Sapporo hingga Abashiri dikerjakan oleh para narapidana, di mana bagian utara sepanjang 100 mil diselesaikan dalam waktu delapan bulan. Karena mobilitas yang tinggi selama pembangunan, mereka harus mendirikan tempat tinggal darurat yang berpindah-pindah.

Bekerja di area yang sepenuhnya belum terjamah tentu mendatangkan banyak tantangan, mulai dari kesulitan mendapatkan pasokan makanan, ancaman hewan buas seperti beruang Higuma, hingga kondisi tempat tinggal yang jauh dari kata layak. Batas kepala mereka terbuat dari sebilah kayu besar yang digunakan sipir untuk membangunkan seluruh narapidana secara serentak setelah hanya tidur selama empat hingga lima jam. Akibat kondisi hidup dan kerja yang ekstrem ini, lebih dari 200 dari 1.100 narapidana kehilangan nyawa dalam proyek tersebut.

Museum ini juga menampilkan gedung pengadilan yang dipindahkan dari bangunan aslinya di Abashiri. Berbeda dari bangunan era Meiji lainnya, area ini merekonstruksi situasi hukum dan kejahatan dari era Showa, lengkap dengan dokumen dan panel informasi mengenai sistem peradilan Jepang.

Sebagian besar waktu kunjungan dihabiskan di museum penologi untuk memahami kehidupan penjara modern di Jepang serta sejarah pembangunan jalan narapidana.

Projection of the story of Prisoners' Road construction

Salah satu daya tarik utamanya adalah pemutaran film pendek mengenai sejarah pembangunan jalan narapidana yang diproyeksikan ke dinding ruangan. Pengalaman dikelilingi oleh visual dan suara tersebut memberikan kesan yang jauh lebih mendalam daripada sekadar membaca buku sejarah.

Museum visitor experiencing being woken up by someone banging on the wooden pillow

Pengunjung juga berkesempatan mencoba simulasi dibangunkan menggunakan bantal kayu seperti di barak darurat dahulu. Dari tradisi kepala bantal kayu inilah asal usul ungkapan bahasa Jepang 叩(たた)き 起(お)こす bermula, yang secara harfiah berarti “memukul untuk membangunkan,” dan kini sering digunakan untuk menggambarkan tindakan membangunkan seseorang dengan agak paksa.

Tersedia pula area di mana pengunjung dapat mencoba mengenakan bola besi seberat sembilan pon yang dulunya digunakan untuk mencegah narapidana melarikan diri. Hingga kini, beberapa monumen batu yang disebut 鎖塚(くさりづか) atau “gundukan rantai” masih dapat ditemukan di sepanjang jalan narapidana untuk mengenang mereka yang gugur dengan rantai besi masih melingkar di tubuh.

Bangunan favorit di museum ini adalah kompleks “rumah penjara dan pos penjaga pusat” karena bentuk arsitekturnya yang unik dengan nuansa retro era Meiji perpaduan timur dan barat. Menariknya, struktur ini merupakan bangunan asli tertua dan terbesar di dunia yang terbuat dari kayu. Dirancang meniru penjara di Belgia, bangunan ini memiliki lima sayap sel yang memancar dari pos pengawasan pusat untuk memudahkan pengawasan narapidana.

Selain detail arsitektur pencegah pelarian, pengunjung juga dapat mengetahui kisah Yoshie Shiratori, buronan legendaris era Showa yang terkenal berhasil kabur sebanyak empat kali, termasuk dari gedung ini.

Lifesize models of prisoners washing and bathing in the prison bathhouse

Menjelang akhir kunjungan, terdapat area pemandian umum. Aturan dan tahapan yang sangat efisien diterapkan di sini mengingat mereka harus melayani 200 narapidana setiap hari. Meskipun waktu yang diberikan hanya 15 menit untuk melepas pakaian, mandi, dan mengenakan pakaian kembali, aktivitas ini tetap menjadi salah satu fasilitas paling mewah bagi para narapidana di tengah cuaca Hokkaido yang sangat dingin.