Home / Study / Maaf Bilang Terima Kasih, Beragam Fungsi Sumimasen

Maaf Bilang Terima Kasih, Beragam Fungsi Sumimasen

header 640x 68

Memahami Makna di Balik Kata Sumimasen

Bayangkan Anda sedang berjalan-jalan di trotoar jalanan Jepang pada suatu pagi di musim gugur. Para pekerja kantoran bergegas menuju tempat kerja, sekelompok anak sekolah tertawa di pinggir jalan, dan seorang wanita melintas di samping Anda menggunakan sepeda hingga dompetnya terjatuh. Spontan Anda berteriak, “Sumimasen!” sambil memungut dompet tersebut dan mengejarnya. Wanita itu menghentikan sepedanya, menoleh, dan ketika Anda mengembalikan dompetnya, ia berkata, “Ah! Sumimasen!”

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, penggunaan pertama kata sumimasen saat Anda mencoba menarik perhatian wanita tersebut paling pas diartikan sebagai “Permisi!”. Namun, penggunaan kedua saat ia menerima kembali dompetnya lebih mirip dengan ucapan “Terima kasih”.

Bagi siapa pun yang pernah berkunjung ke Jepang, sumimasen adalah salah satu kata yang paling sering terdengar. Kata ini, yang juga kerap diucapkan sebagai suimasen atau sumasen dalam percakapan sehari-hari, menjadi salah satu kosakata pertama yang dipelajari oleh pemula karena frekuensi penggunaannya yang sangat tinggi di berbagai situasi.

Meskipun sebagian besar pembelajar bahasa Jepang mengenal sumimasen sekadar sebagai “permisi” atau “maaf”, ungkapan serbaguna ini sebenarnya sarat dengan latar belakang budaya dan memiliki banyak nuansa makna yang halus tergantung pada konteksnya.

Lantas, mengapa kata ini begitu sering digunakan dan apa arti sebenarnya? Para ahli sosiolinguistik telah lama berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Berikut adalah rangkuman mengenai fungsi dan penggunaan sumimasen, sebuah ungkapan yang sangat penting dalam bahasa dan budaya Jepang.

Apa Arti Sumimasen?

out of service sign on bus
Sumber: Wakkubox

Dari sudut pandang sosiolinguistik, sumimasen berfungsi sebagai ekspresi ritual. Artinya, pengulangan kata ini dalam interaksi sehari-hari lebih sering menjadi sebuah rutinitas sosial daripada sekadar luapan emosi yang mendalam. Jadi, meskipun orang Jepang kerap terkesan terlalu sering meminta maaf karena banyaknya penggunaan kata ini, hal tersebut sebenarnya berkaitan erat dengan kesopanan umum.

Menurut seorang sosiolog bernama Erving Goffman, ekspresi ritual seperti ini terbagi menjadi dua kategori: ekspresi remediasi dan ekspresi suportif.

Ekspresi remediasi digunakan ketika terjadi potensi pelanggaran atau kesalahan antarindividu. Contohnya adalah ketika Anda melakukan kesalahan dan mengucapkan “Maaf”.

Sementara itu, ekspresi suportif adalah pertukaran ritual yang kita gunakan sehari-hari untuk menjaga hubungan normal dengan orang di sekitar, seperti keluarga dan teman. Contohnya adalah menyapa seseorang dengan ramah saat bertemu alih-alih bersikap acuh tak acuh.

cat with unhappy expression

Biasanya, sebuah ekspresi ritual hanya masuk ke dalam salah satu dari dua kategori tersebut—misalnya “maaf” sebagai bentuk remediasi dan “terima kasih” sebagai bentuk suportif.

Namun, sumimasen mendobrak aturan tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Risako Ide terhadap rekaman percakapan publik di ruang tunggu klinik dokter menunjukkan bahwa sumimasen adalah ungkapan unik yang dapat berfungsi sebagai ekspresi remediasi sekaligus ekspresi suportif, bahkan mencakup hal-hal di antaranya.

Cara Menggunakan Sumimasen

Karena sifatnya yang formal, sumimasen paling sering ditemukan dalam percakapan publik. Berdasarkan analisis Risako Ide, terdapat tujuh fungsi utama penggunaan sumimasen yang menunjukkan bahwa kata ini memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar “maaf” atau “permisi”.

1. Permintaan Maaf yang Tulus

animated cat puss in boots

Pada mulanya, sumimasen murni digunakan sebagai ungkapan permohonan maaf, mirip seperti gomennasai atau bentuk yang lebih formal seperti moushiwake gozaimasen. Anda dapat menggunakannya saat melakukan kesalahan nyata dan ingin meminta maaf secara sungguh-sungguh.

Teman: Hei, kamu kan yang menghabiskan semua Kit-Kat matcha-ku!?

Anda: Sumimasen.

Dalam situasi ini, penggunaan sumimasen menunjukkan rasa penyesalan yang tulus.

2. Ungkapan Terima Kasih Sekaligus Permintaan Maaf

Selain sebagai bentuk permohonan maaf murni, kata ini juga dapat memuat campuran rasa penyesalan dan rasa terima kasih secara bersamaan. Sebagai contoh, ketika Anda membayar belanjaan di minimarket dan harus membongkar tas untuk mencari uang pas senilai 10 yen, sang kasir mungkin akan berulang kali mengucapkan “Sumimasen.”

Bagi orang asing, hal ini mungkin terasa aneh karena kasir tersebut tampak meminta maaf atas bantuan kecil. Namun, dalam konteks ini, sang kasir tidak hanya merasa tidak enak karena merepotkan Anda mencari uang kecil, tetapi ia juga sedang menyampaikan rasa terima kasih atas kesediaan Anda membantu.

Dengan demikian, sumimasen mampu menyampaikan rasa bersalah sekaligus rasa terima kasih. Bahkan, dalam situasi di mana seseorang merasa berhutang budi, penggunaan sumimasen sering kali dianggap sebagai ucapan terima kasih yang lebih sopan daripada arigatou karena menunjukkan kesadaran atas kerumitan yang dialami pihak lain.

3. Mengajukan Permintaan

movie villain doctor evil

Sumimasen juga kerap diucapkan sebelum seseorang mengajukan suatu permohonan. Penggunaan ini mirip dengan frasa “permisi” dalam bahasa Inggris saat hendak meminta tolong.

Fungsi ini menempatkan sumimasen sebagai ekspresi remediasi untuk meredam potensi rasa terganggu yang mungkin dirasakan oleh lawan bicara. Hal ini serupa dengan frasa “apakah Anda keberatan jika” atau “bisakah Anda tolong”.

4. Menarik Perhatian

students on campus holding signs that say free hugs
Sumber: David Cintron

Penggunaan sumimasen tidak selalu berkaitan dengan perasaan bersalah atau berterima kasih. Kata ini juga berfungsi secara efektif untuk menarik perhatian seseorang.

Meskipun ada banyak cara lain untuk memulai percakapan dalam bahasa Jepang—seperti ano, konnichiwa, atau berdehem—sumimasen sering digunakan di antara orang-orang yang belum saling kenal, menjadikannya cara yang paling sopan untuk menyapa orang asing, seperti pada ilustrasi wanita yang dompetnya jatuh di awal artikel.

5. Berpamitan

children riding in toy car
Sumber: mikaera13

Kebalikan dari menarik perhatian, sumimasen juga dipakai saat mengakhiri percakapan atau hendak berpamitan. Percakapan penutup umumnya terlihat seperti ini:

Dracula: Ja, sumimasen

Frankenstein: A, odaiji ni

Dracula: Kalau begitu, saya duluan ya.

Frankenstein: Oh, baiklah, hati-hati di jalan.

Dalam fungsi ini, tingkat penyesalan atau rasa terima kasih sudah tidak lagi relevan karena kata tersebut telah beralih menjadi rutinitas sosial atau ekspresi suportif.

6. Respons Afirmatif

Seiring pergeserannya ke arah ekspresi suportif, makna sumimasen menjadi semakin abstrak dan sulit dipahami jika seseorang belum terbiasa dengan budaya Jepang.

Salah satu fungsi lainnya adalah untuk mengonfirmasi sesuatu atau merespons seseorang secara afirmatif. Sebagai contoh, ketika seseorang di bank dipanggil oleh petugas loket, respons yang diberikan sering kali berupa kata “sumimasen.”

Bagi orang luar, respons ini mungkin membingungkan karena seolah-olah orang tersebut merasa telah berbuat salah. Padahal, mengucapkan sumimasen dalam situasi ini adalah cara sopan untuk mengatakan “baik” atau “ya” sekaligus mengakui bahwa petugas tersebut telah meluangkan waktu untuk memanggil dan melayaninya.

7. Salam Ritual atau Pengakuan Sosial

cartoon character bugs bunny

Fungsi ini berada pada titik terjauh dari makna aslinya sebagai permohonan maaf yang tulus. Bayangkan ketika seseorang selesai mengisi formulir di pusat perbelanjaan dan menyerahkannya kepada petugas. Petugas tersebut memeriksa dokumen dan berkata “sumimasen,” lalu dibalas pula dengan ucapan “sumimasen” oleh pelanggannya.

Kata pertama berfungsi sebagai respons afirmatif bahwa formulir telah lengkap, sementara kata kedua berfungsi sebagai cara sopan untuk menerima kembali dokumen tersebut. Secara mendasar, penggunaan ini dapat dilihat sebagai gestur simbolis kepedulian untuk mengisi jeda kecanggungan dalam interaksi sosial.

Kesimpulan

Dari berbagai penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa sumimasen digunakan secara luas dalam komunikasi masyarakat Jepang untuk mengekspresikan berbagai hal di luar kata “maaf”.

Kendati demikian, seluruh fungsi tersebut memiliki satu benang merah yang sama, yaitu pengakuan atas ketergantungan dan hubungan timbal balik antarindividu dalam masyarakat. Masyarakat Jepang sangat memperhatikan peran sosial di ruang publik serta rasa saling berhutang budi, sekecil apapun bantuan yang diberikan.

Prioritas terhadap penampilan publik dan rasa tanggung jawab timbal balik inilah yang membuat sumimasen begitu sering diandalkan dalam interaksi sehari-hari. Kata ini memungkinkan penuturnya untuk mengambil posisi yang rendah hati, yang menjelaskan mengapa ungkapan ini sering kali terasa lebih sopan dibandingkan sekadar mengucapkan “terima kasih” dalam berbagai situasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *