Home / Study / Belajar Kobun (Bahasa Jepang Klasik): Adjektiva & Musubi untuk Ungkapkan Sesuatu dengan Puitis

Belajar Kobun (Bahasa Jepang Klasik): Adjektiva & Musubi untuk Ungkapkan Sesuatu dengan Puitis

header 640x 75

Menjelajahi tata bahasa Jepang Kuno atau Kobun sering kali terasa seperti menyusuri jalanan Tokyo yang berliku—jarang sekali kita bisa berjalan lurus, berbelok beberapa kali, dan kembali ke titik semula. Setelah sebelumnya membahas berbagai pola kalimat dan konjugasi rumit di bagian-bagian sebelumnya, kini saatnya kita menuntaskan pembahasan mengenai konjugasi yang paling membingungkan serta aturan akhir kalimat dalam bahasa Jepang Klasik, yaitu kata sifat dan aturan musubi.

Kata Sifat dalam Bahasa Jepang Kuno

kobun adjectives apples with words

Dalam bahasa Jepang Kuno, seorang pakar bernama Vovin sering kali menyebut kata sifat sebagai “kata kerja kualitas”. Istilah “kualitas” merujuk pada fungsi kata tersebut yang memberikan Sifat pada suatu benda (seperti pada frasa “ubur-ubur yang bodoh“), alih-alih menyatakan sebuah tindakan (“ubur-ubur dimasak“). Sementara itu, kata “kerja” menggambarkan bentuknya yang dinamis dan fleksibel, tidak seperti nomina atau partikel yang kaku.

Kata sifat dalam bahasa Jepang modern tidak semuanya dinamis. Kata sifat-na seperti shizuka hanya memiliki satu bentuk dasar. Namun, kata sifat-i memiliki dinamika perubahan internal yang mirip dengan sistem dalam bahasa Jepang Kuno.

Dua Jenis Kata Sifat Utama

kobun adjectives fork in the woods

Dibandingkan dengan kategori kata kerja yang jumlahnya sembilan, kata sifat dalam Kobun jauh lebih sederhana karena hanya terbagi menjadi dua jenis: kata sifat berakhiran ku dan shiku. Keduanya biasanya muncul dalam tiga bentuk utama, yaitu Renyoukei, Shuushikei, dan Rentaikei.

Kata Sifat -Ku (く活用形容詞)

Renyou: __く (contoh: akaku, “merah”)

Shuushi: __し (contoh: akashi)

Rentai: __き (contoh: akaki)

Izen: __け (contoh: akake)

Kobun: 「白き鳥の 嘴(はし)と 脚(あし)とあかき」(Dari Ise Monogatari)

Modern: 白い鳥であって、くちばしと脚とが赤い(鳥)。

Inggris: It was a white bird with a red beak and red feet.

Kata Sifat -Shiku (しく活用形容詞)

Renyou: __しく (contoh: wokashiku, “aneh”, “menarik”, atau “luar biasa”)

Shuushi: __し (contoh: wokashi)

Rentai: __しき (contoh: wokashiki)

Izen: __しき (contoh: wokashiki)

Kata Sifat Verbal (Keiyou-doushi)

kobun adjectives two cheetahs

Bahasa Jepang Kuno tentu saja tidak semudah itu. Ada dua kategori tambahan yang masuk dalam kelompok Keiyou-doushi (形容動詞(けいようどうし)). Berbeda dengan jenis ku dan shiku, kelompok ini tampil dalam hampir semua bentuk kata kerja kecuali bentuk perintah (Meireikei). Bentuk ini mirip dengan kata sifat-na dalam bahasa Jepang modern karena bagian dasarnya tidak berubah, melainkan diikuti oleh akhiran nari atau tari.

Konjugasi Nari (ナリ活用)

Mizen: __なら (contoh: shizukanara, “tenang”)

Renyou: __に / なり (contoh: shizukanari / ni)

Shuushi: __なり (contoh: shizukanari)

Rentai: __なる (contoh: shizukanaru)

Izen: __なれ (contoh: shizukanare)

Konjugasi Tari (タリ活用)

Mizen: __たら (contoh: doudoutara, “tampak megah atau berwibawa”)

Renyou: __たり / と (contoh: doudoutari / to)

Shuushi: __たり (contoh: doudoutari)

Rentai: __たる (contoh: doudoutaru)

Izen: __たれ (contoh: doudoutare)

Kakari-Musubi

kobun adjectives knot

Dalam bahasa Inggris, kita mengenal adanya kesesuaian antara subjek dan kata kerja (subject-verb agreement). Bahasa Jepang Klasik juga memiliki parameter kesesuaian serupa yang diatur oleh partikel tertentu alih-alih bentuk jamak atau tunggal. Fenomena ini disebut sebagai kakari-musubi (係り結び(かかりむすび)), yang memanfaatkan set partikel berikut:

  • ぞ (penekanan)
  • なむ (penekanan)
  • や (keraguan, pertanyaan)
  • か (keraguan, pertanyaan)

Kehadiran partikel-partikel ini di tengah kalimat akan memaksa predikat atau kata kerja di akhir kalimat berubah bentuk—biasanya menjadi bentuk atributif (Rentaikei) atau bentuk Izenkei, terlepas dari bagaimana struktur kalimat normalnya seharusnya berakhir.

Musubi Koso

kobun adjectives cats

Jenis musubi lain yang perlu diperhatikan adalah penggunaan partikel こそ, yang secara khusus memaksa kata kerja atau kata bantu di akhir kalimat untuk berubah ke bentuk Izenkei. Bentuk Izenkei sendiri biasanya diasosiasikan dengan tindakan yang sedang atau telah dimulai, serta sering berpasangan dengan konjungsi ~ば yang berarti “ketika” atau “karena”.

Ketika こそ digunakan di tengah kalimat tanpa pasangannya, kata kerja terakhir akan mengalami pergeseran bentuk demi memberikan penekanan yang sangat kuat pada bagian kalimat tersebut.

Kesimpulan

Memahami tata bahasa Jepang Kuno memang memerlukan ketelitian ekstra, terutama dalam mengenali pola konjugasi kata sifat dan aturan musubi yang dapat mengubah bentuk akhir kalimat secara tak terduga. Meskipun tampak rumit pada awalnya, semakin sering Anda membaca naskah klasik, pola-pola ini akan terasa semakin akrab dan membantu Anda menerjemahkan teks dengan lebih akurat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *