Tanaka Hisashige dikenal sebagai salah satu penemu paling produktif dalam sejarah Jepang. Dari boneka mekanik hingga perlengkapan militer, ia mampu menciptakan berbagai macam inovasi. Ia bahkan merintis perusahaan yang kelak berkembang menjadi Toshiba, raksasa teknologi dunia. Sepanjang hidupnya, ia berkeliling Jepang untuk merancang berbagai mahakarya dan membagikan kecerdasannya kepada banyak orang.
Meski tidak sepopuler beberapa tokoh eksentrik lainnya, Tanaka kerap dijuluki sebagai “Thomas Edison dari Jepang”, meski sebagian orang menganggap julukan “Nikola Tesla dari Jepang” mungkin lebih sesuai untuk pencapaiannya. Berikut adalah perjalanan hidup sang penemu jenius ini.
Masa Muda

Lahir di Prefektur Fukuoka pada tahun 1799, Tanaka merupakan putra sulung dari seorang perajin cangkang penyu yang mahir. Kebiasaannya melihat sang ayah bekerja merangkai hiasan penyu yang rumit menumbuhkan jiwa kreativitas yang tinggi pada diri Tanaka sejak kecil.
Ketika menginjak usia delapan tahun, ia menciptakan sebuah kotak tinta dengan kunci rahasia. Kotak tersebut membutuhkan lilitan tali dengan pola tertentu agar bisa dibuka. Ia membawanya ke sekolah dan menantang teman-teman sekelasnya untuk membukanya, namun tidak ada seorang pun yang berhasil.
Pada usia empat belas tahun, Tanaka berhasil merancang sebuah alat tenun yang mampu menghasilkan pola kain yang indah dan kompleks. Sebelumnya, alat tenun yang ada terlalu sederhana untuk menciptakan desain serumit itu. Kemampuannya mulai menarik perhatian banyak orang.
Saat usianya menginjak dua puluh tahun, ia mulai memproduksi boneka otonom yang digerakkan menggunakan tenaga hidrolik, yang dikenal sebagai boneka karakuri.
Boneka-boneka karakuri tersebut mampu melakukan gerakan yang cukup rumit dan sangat diminati oleh kalangan bangsawan serta shogun. Berkat karya-karyanya yang memukau, Tanaka mulai mempertunjukkan boneka buatannya di berbagai wilayah di Jepang sejak usianya 21 tahun.
Salah satu keunikan dari boneka pemanah ciptaannya adalah kemampuannya untuk meleset secara sengaja pada salah satu dari empat tembakannya. Boneka ini akan menunjukkan ekspresi gembira saat panahnya tepat sasaran dan ekspresi sedih saat meleset.
Sebagai anak sulung, ia sebenarnya diwajibkan untuk meneruskan usaha keluarga. Namun, ia berhasil meyakinkan ayahnya agar menyerahkan bisnis tersebut kepada adiknya, sementara ia memilih untuk berkeliling negeri demi mengejar mimpinya sebagai seorang penemu. Pada masa inilah ia mulai dijuluki sebagai “jenius keajaiban mekanik”.
Puncak Kreativitas Tanaka

Memasuki usia pertengahan tiga puluhan, pertunjukan boneka mekanik mulai kehilangan kepopulerannya. Tanaka kemudian pindah ke Osaka untuk mendalami pneumatika, hidrolika, serta berbagai jenis pencahayaan berbahan minyak kanola. Ia menciptakan tempat lilin saku portabel serta lampu tahan lama yang dilengkapi pompa tekanan udara.
Lampu-lampu tersebut menghasilkan cahaya yang jauh lebih terang daripada lilin konvensional dan dilengkapi dengan pelindung kaca agar nyalanya tidak berkedip. Karena permintaannya yang tinggi, Tanaka memproduksi hingga tujuh model lampu yang berbeda.

Ia kemudian pindah ke Kyoto untuk mempelajari matematika tradisional Jepang, sistem penanggalan, dan astronomi. Di sana, ia menciptakan pompa pemadam kebakaran bernama “cloud dragon water” yang memanfaatkan tekanan udara untuk menyemprotkan air hingga ketinggian sembilan meter.
Di usia awal lima puluhan, Tanaka menciptakan salah satu karya terbesarnya, yaitu Myriad year clock. Jam ini diakui sebagai salah satu pencapaian mekanik paling mengesankan dan telah ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting oleh pemerintah Jepang.
Jam tersebut mampu menunjukkan waktu dalam tujuh format berbeda dan terdiri dari lebih dari 1.000 komponen yang dibuat sendiri oleh Tanaka menggunakan alat-alat sederhana. Proses perakitannya memakan waktu lebih dari tiga tahun.

Pada tahun 2004, pemerintah Jepang sempat mencoba membuat ulang replika dari mahakarya tersebut. Proyek ini melibatkan lebih dari 100 insinyur selama lebih dari enam bulan, namun mereka tetap kesulitan meniru beberapa komponen secara persis, yang membuktikan tingkat kerumitan karya asli Tanaka.
Selain jam Myriad, ia juga memproduksi berbagai alat penunjuk waktu inovatif lainnya seperti jam bantal dan jam tabuh, serta merancang planetarium pertama di Jepang.
Seiring berkembangnya gerakan sonno joi, situasi di Kyoto menjadi tidak kondusif bagi orang-orang yang mendalami teknologi asing. Tanaka akhirnya pindah ke Saga di Kyushu, tempat di mana ia mulai merancang teknologi yang lebih besar.
Mesin Perang Buatan Tanaka

Di Saga, Tanaka merancang dan membangun lokomotif uap serta kapal perang bertenaga uap pertama buatan domestik di Jepang. Berbekal referensi dari buku berbahasa Belanda dan pengamatannya terhadap demonstrasi mesin uap oleh Rusia di Nagasaki, ia bersama timnya berhasil merakit kendaraan-kendaraan besar tersebut.

Ia juga terlibat dalam pengembangan tanur khusus untuk pengecoran besi di Saga yang digunakan dalam pembuatan meriam Armstrong. Memasuki usia enyah puluhan, ia kembali ke Fukuoka dan membantu mengembangkan berbagai senjata modern.
Di samping peralatan militer, ia tetap menciptakan berbagai inovasi non-militer, termasuk mesin irigasi untuk dataran tinggi dan pembuat es buatan pertama di Jepang.
Masa Tua dan Akhir Hayat

Enam tahun setelah Restorasi Meiji, pada usia 74 tahun, Tanaka diundang ke Tokyo untuk memproduksi perangkat telegraf. Ia menetap di Ginza dan menyewa lantai dua sebuah kuil di wilayah yang kini dikenal sebagai Roppongi.
Bengkel sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi perusahaan pertamanya, yaitu Tanaka Engineering Works, yang menjadi produsen peralatan telegraf pertama di Jepang.
Tanaka wafat pada tahun 1881 dalam usia 82 tahun akibat usia tua. Usahanya kemudian diteruskan oleh sang putra, dengan nama yang diubah menjadi Shibaura Engineering Works pada tahun 1904. Perusahaan ini kemudian bergabung dengan Tokyo Denki pada tahun 1939 dan dikenal sebagai Tokyo Shibaura Denki, atau yang kini lebih akrab disebut sebagai Toshiba.
Warisan Tanaka dan Toshiba
Kini, Toshiba telah tumbuh menjadi konglomerat teknik dan elektronika multinasional dengan ratusan ribu pegawai di seluruh dunia. Berbagai lini produk dan jasanya mencakup teknologi informasi, sistem komunikasi, komponen elektronik, peralatan rumah tangga, hingga sistem tenaga medis.
Google bahkan pernah membuat penghormatan khusus untuk mengenang jasa sang penemu.
Meskipun tidak lagi menggunakan nama pendirinya secara langsung, Toshiba tetap menjadi simbol abadi dari dedikasi seorang penemu ulung, sejajar dengan kisah Thomas Edison dan General Electric di Amerika Serikat. Namanya juga diabadikan secara khusus di Museum Sains Toshiba.








