Home / Travel / Beasiswa Riset MEXT: Cara Mendapatkan Beasiswa S2 Gratis di Jepang dan Melanjutkan Kuliah Ditraktir Pemerintah Jepang

Beasiswa Riset MEXT: Cara Mendapatkan Beasiswa S2 Gratis di Jepang dan Melanjutkan Kuliah Ditraktir Pemerintah Jepang

header 640x 30

Mengenai Beasiswa Riset MEXT

Gedung Monbukagakusho dan para mahasiswa penerima program beasiswa MEXT

Beasiswa Riset MEXT adalah program pembiayaan studi dari pemerintah Jepang yang menanggung penuh biaya kuliah bagi mahasiswa internasional yang ingin menempuh jenjang S-2 dan/atau S-3 di universitas-universitas Jepang. Beasiswa ini umumnya disalurkan melalui kedutaan besar dan konsulat di negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Jepang, meskipun beberapa pelamar juga bisa mendaftar langsung lewat universitas tujuan. Selain biaya kuliah, para penerima beasiswa juga akan mendapatkan tunjangan biaya hidup bulanan.

Secara singkat, MEXT memungkinkan Anda untuk meraih gelar master di Jepang secara gratis, asalkan Anda memiliki berkas pendaftaran yang kuat serta sedikit keberuntungan.

Setiap kedutaan memiliki kuota penerimaan yang telah ditentukan sebelumnya dan jumlahnya sering kali terbatas, sehingga persaingannya bisa sangat ketat. Sebagai contoh, kantor konsulat di Florida biasanya hanya menyediakan satu slot kosong saja. Peluang Anda sangat bergantung pada siapa saja yang mendaftar bersamaan di tempat dan waktu yang sama, sebuah faktor penentu yang tidak dapat ditebak oleh siapa pun. Kendati demikian, selama Anda memenuhi syarat, Anda diperbolehkan untuk mendaftar berulang kali—praktik yang lazim dilakukan banyak orang—jadi jangan langsung patah semangat jika belum berhasil.

Siapa Kandidat yang Ideal untuk MEXT?

Sebelum mengirimkan aplikasi, sebaiknya pastikan terlebih dahulu apakah Anda memenuhi kriteria yang ditetapkan. Anda layak menerima beasiswa MEXT apabila memenuhi ketentuan berikut:

  • Merupakan warga negara dari negara yang menjadi sasaran program beasiswa MEXT (warga negara Jepang tidak memenuhi syarat).
  • Lahir pada atau setelah tanggal 2 April 1987 (untuk periode pendaftaran tahun 2022; batas usia ini bertambah satu tahun setiap tahunnya).
  • Merupakan lulusan universitas atau perguruan tinggi yang telah menyelesaikan setidaknya 16 tahun riwayat pendidikan.

Panduan resmi MEXT juga menyebutkan bahwa bidang studi yang diambil harus sejalan atau berkaitan dengan jurusan kuliah Anda sebelumnya, meski aturan ini sering kali cukup fleksibel. Namun, di luar syarat administratif tersebut, seperti apa sosok yang benar-benar cocok untuk MEXT? Berdasarkan pengalaman pribadi, penerima beasiswa MEXT yang ideal adalah seseorang yang mandiri, cukup akrab dengan budaya serta adat istiadat Jepang, memiliki ketertarikan mendalam pada suatu topik untuk dituangkan dalam tesis master yang panjang, serta siap menghadapi berbagai tantangan unik sebagai mahasiswa internasional yang hidup sendiri di Jepang.

Pengalaman selama dua tahun menempuh studi pascasarjana di Nagoya telah memberikan pelajaran hidup yang luar biasa. Memahami norma-norma budaya baru untuk menjalani keseharian di Jepang seorang diri membutuhkan ketangguhan, ketekunan, dan kerja keras dalam mempelajari kosakata baru setiap harinya. Urusan sepele seperti mengatasi pemadaman listrik atau mencari tempat cetak dokumen murah terkadang bisa menjadi teka-teki fisik, emosional, dan finansial yang rumit bagi penutur non-Jepang dengan anggaran terbatas tanpa kehadiran keluarga atau teman dekat di dekatnya.

Namun, jika Anda siap menghadapi tantangan ekstra tersebut, Anda dijamin akan tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih tangguh dan percaya diri. Sebagai imbalannya, Anda mendapatkan kesempatan selama dua hingga tiga tahun untuk bepergian, belajar, bersenang-senang, dan menjalin pertemanan dari seluruh penjuru dunia. Jadi, jika prospek meraih gelar master sekaligus menempa karakter diri terdengar menarik bagi Anda, tidak ada salahnya untuk mencoba.

Tunjangan Biaya Hidup

Tentu saja, semangat yang tinggi tidak akan cukup untuk membayar uang sewa tempat tinggal. Lantas, bagaimana cara bertahan hidup sebagai mahasiswa pascasarjana dengan kantong pas-pasan? Untungnya, MEXT menyediakan tunjangan biaya hidup bulanan sebesar ¥143.000 hingga ¥147.000, yang langsung ditransfer ke rekening Japan Post Bank yang Anda buka setibanya di Jepang. Perbedaan nominal yang kecil ini bergantung pada lokasi universitas, apakah berada di kota metropolitan besar dengan biaya hidup yang lebih tinggi. Misalnya, karena tinggal di Nagoya, kota terbesar ketiga di Jepang, saya menerima besaran maksimal yaitu ¥147.000. Tunjangan ini bahkan tetap cair saat libur semester ketika Anda tidak sedang mengikuti kelas aktif, asalkan Anda masih berada di wilayah Jepang.

Lantas, bagaimana cara bertahan hidup sebagai mahasiswa pascasarjana dengan kantong pas-pasan? Untungnya, MEXT menyediakan tunjangan biaya hidup bulanan sebesar ¥143.000 hingga ¥147.000.

Bertahan hidup hanya dengan mengandalkan tunjangan tersebut sangat memungkinkan bagi sebagian besar lajang yang tidak memiliki tanggungan maupun beban utang di negara asal mereka. Kendati demikian, banyak penerima beasiswa MEXT yang memilih bekerja paruh waktu untuk menambah uang saku atau menutupi pengeluaran ekstra. Saya sendiri pernah merasakan hidup dengan maupun tanpa pekerjaan paruh waktu selama kuliah, bahkan berhasil menabung sebagian dari tunjangan tersebut tanpa harus hidup sangat hemat. Meskipun demikian, kondisi setiap orang tentu berbeda-beda tergantung pada situasi keuangan saat pertama kali tiba di Jepang, serta seberapa sering Anda berencana berlibur ke Okinawa setiap akhir pekan.

Sayangnya, Anda tetap perlu menyiapkan dana mandiri sekitar $2,000 untuk awal kedatangan, karena tunjangan biasanya baru cair satu hingga dua bulan setelah Anda menginjakkan kaki di Jepang. Sebagai contoh, saya tiba pada pertengahan September dan baru menerima tunjangan pertama pada akhir Oktober. Selama masa tunggu tersebut, saya harus menanggung sendiri biaya sewa tempat tinggal, asuransi, makanan, serta berbagai pengeluaran lain yang timbul saat pindah ke negara asing. Keterlambatan ini kemungkinan berkaitan dengan prosedur pihak sekolah untuk memastikan kehadiran Anda secara berkala di Jepang. Pihak universitas saya bahkan mewajibkan saya berjalan kaki ke kampus untuk menandatangani daftar hadir setiap bulan, baik hujan maupun panas, demi memastikan setiap pencairan dana dapat diproses beberapa minggu kemudian. Oleh karena itu, pastikan Anda memiliki tabungan yen yang cukup untuk bertahan hidup sampai dana bantuan dari pemerintah tersebut cair.

Biaya Perjalanan

Lalu, bagaimana cara membiayai perjalanan menuju Jepang di awal keberangkatan? Untungnya, bagi para perantau yang datang dari belahan bumi lain, biaya perjalanan juga ditanggung sepenuhnya. MEXT membayar tiket pesawat kelas ekonomi ke Jepang dan, jika diinginkan, membelikan tiket kepulangan gratis ke negara asal setelah lulus. Fasilitas ini tidak mencakup tiket kereta menuju atau dari bandara serta kelebihan bagasi, tetapi tarif kereta di Jepang umumnya terjangkau, dan Anda tetap disarankan untuk membawa barang bawaan secukupnya. Anda juga akan menerima tagihan untuk membayar sejumlah pajak dan biaya bandara secara mandiri, yang pada saat itu menghabiskan sekitar ¥8.900 untuk setiap keberangkatan. Selain itu, tiket pesawat pulang hanya ditanggung setelah Anda merampungkan program studi, sehingga kunjungan ke tanah air di tengah masa kuliah menjadi tanggungan pribadi.

Banyak mahasiswa yang memilih untuk tidak mengambil tiket kepulangan gratis tersebut dan memilih menetap di Jepang. Dalam situasi ini, status visa Anda akan diubah menjadi Designated Activities Visa (visa pencari kerja) atau langsung beralih ke visa kerja apabila Anda telah mendapatkan pekerjaan di Jepang. Apabila Anda berencana melanjutkan beasiswa MEXT untuk menempuh jenjang S-3 di Jepang—yang sangat dimungkinkan—Anda tinggal mengajukan perpanjangan beasiswa dan memperbarui visa pelajar Anda. Kantor urusan mahasiswa internasional di universitas saya mengonfirmasi rencana pascaperlulusan tersebut belasan kali selama semester akhir, sehingga saya sama sekali tidak pernah merasa kebingungan saat harus menentukan langkah berikutnya.

Sebelum Mendaftar

seseorang sedang memikirkan berbagai hal sebelum mendaftar program beasiswa MEXT

Sebelum mengajukan aplikasi MEXT, ada beberapa keputusan penting yang harus Anda tetapkan agar informasi dalam formulir pendaftaran sudah terarah. Keputusan tersebut meliputi pilihan jalur rekomendasi antara kedutaan atau universitas, kebutuhan akan tambahan satu tahun sebagai mahasiswa riset, daftar program pascasarjana yang diminati, serta penentuan topik tesis yang akan diteliti.

Rekomendasi Kedutaan vs. Universitas

Hal pertama yang harus ditentukan adalah sumber rekomendasi untuk Beasiswa Riset MEXT, yang bisa berasal dari kedutaan besar atau konsulat jenderal Jepang di negara Anda, atau langsung dari universitas di Jepang. Berikut adalah perbedaannya:

  • Rekomendasi Kedutaan: Anda mendaftar melalui kedutaan besar atau konsulat jenderal Jepang setempat dengan mengikuti seluruh batas waktu yang ditetapkan—yang biasanya lebih awal daripada jalur universitas. Jika terpilih, pihak kedutaan akan meneruskan berkas Anda ke kementerian di Jepang, yang umumnya akan menyetujui beasiswa tersebut kecuali terjadi kendala besar pada proses pemeriksaan latar belakang.
  • Rekomendasi Universitas: Anda mencari universitas di Jepang yang menyediakan jalur rekomendasi MEXT dan mendaftar langsung kepada mereka sesuai tenggat waktu universitas tersebut—yang biasanya jatuh lebih lambat dari jalur kedutaan. Jika lolos seleksi internal, universitas akan mengirimkan dokumen Anda ke kementerian Jepang untuk mendapatkan persetujuan akhir.

Anda bebas memilih salah satu jalur, tetapi mendaftar melalui kedutaan tampaknya menjadi metode yang paling umum. Tenggat waktunya pun lebih awal, sehingga disarankan untuk mencoba jalur kedutaan terlebih dahulu dan menjadikan rekomendasi universitas sebagai pilihan cadangan terakhir. Saya sendiri melalui kantor konsulat jenderal setempat, dan meskipun sebagian besar saran saya berlaku untuk kedua jalur tersebut, artikel ini akan lebih berfokus pada cara mendapatkan rekomendasi kedutaan.

Haruskah Menjadi Mahasiswa Riset atau Mahasiswa Reguler?

Setelah menentukan jalur rekomendasi, pertanyaan berikutnya adalah berapa lama durasi beasiswa MEXT yang Anda inginkan? Salah satu aturan menarik dari beasiswa MEXT adalah Anda tidak harus langsung masuk perkuliahan pada tahun pertama kedatangan jika tidak ingin melakukannya. Status ini dikenal sebagai mahasiswa riset (research student), dan beberapa rekan seangkatan saya memilih jalur ini.

  • Mahasiswa Riset: Anda akan menghabiskan waktu sekitar tiga tahun dalam program Beasiswa Riset MEXT, dengan tetap menerima tunjangan bulanan selama berada di Jepang dan berstatus aktif di bawah MEXT. Pada tahun pertama, selagi belum resmi terdaftar di program pascasarjana, Anda dapat mengikuti kuliah sebagai pendengar (audit), mengambil kelas bahasa Jepang, atau menyusun topik tesis bersama pembimbing. Pada tahun kedua dan ketiga, setelah diterima di program pascasarjana, Anda akan resmi berstatus sebagai mahasiswa master reguler.

  • Mahasiswa Reguler: Anda akan menghabiskan waktu sekitar dua tahun dalam program Beasiswa Riset MEXT, dengan menerima tunjangan hidup selama berstatus aktif. Sejak hari pertama menginjakkan kaki di kampus, Anda langsung terdaftar sebagai mahasiswa master reguler.

Sering kali, jika MEXT menyarankan Anda untuk mengikuti kelas persiapan bahasa Jepang selama enam bulan sebelum memulai program master, itulah kegiatan yang akan dijalani sebagai mahasiswa riset. Kendati demikian, pada praktiknya tidak ada pengawasan ketat yang mendikte aktivitas Anda secara kaku selama tahun pertama tersebut.

Saya pribadi memilih untuk tidak menjadi mahasiswa riset dan langsung terjun ke program pascasarjana begitu tiba di Jepang. Namun, berdasarkan pengamatan, teman-teman yang mengambil status mahasiswa riset tampak menikmati masa-masa tersebut dengan sangat gembira! Jadi, jika Anda mendambakan tambahan waktu satu tahun kalender penuh untuk belajar bahasa Jepang, mematangkan topik tesis, atau mendaki Gunung Fuji bersama rombongan teman seperjuangan, opsi ini terbuka lebar.

Mencari Program Pascasarjana di Jepang

Bagian ini merupakan tahapan yang membutuhkan usaha nyata. Untuk bisa mendaftar MEXT, Anda harus menelusuri berbagai program master di Jepang dan memilih institusi mana saja yang ingin dituju.

Jika Anda mencari program yang diajarkan dalam bahasa Inggris, disarankan untuk melirik program-program yang berada di bawah naungan Global 30 (G30) Project milik pemerintah Jepang. Program ini menawarkan gelar penuh berbahasa Inggris guna mendorong internasionalisasi di dunia akademis Jepang—pilihan yang sangat tepat jika gagasan mengikuti perkuliahan tingkat master dalam bahasa Jepang membuat Anda merasa kewalahan. Saya sendiri mengambil program G30 di Nagoya University, dan hampir seluruh mata kuliah disampaikan dalam bahasa Inggris, sementara beberapa kelas berbahasa Jepang saya ambil sebagai pilihan.

Selanjutnya, manfaatkan lembar data School Search dari Japan Student Services Organization (JASSO) yang merangkum karakteristik seluruh program master di Jepang. Pada halaman yang sama, JASSO juga menyediakan daftar khusus program yang diajarkan dalam bahasa Inggris (di bawah menu “University Degree Courses Offered in English”). Jangan biarkan jumlahnya yang banyak membuat Anda gentar! Anda dapat dengan mudah mempersempit kriteria pencarian dan menyaring program yang tidak diinginkan dengan memanfaatkan fitur filter pada lembar data tersebut. Sediakan minuman dingin dan luangkan waktu beberapa jam untuk menelitinya sambil mencari informasi mengenai program-program yang paling menarik.

Terkadang mungkin tidak ada program master yang benar-benar sejalan dengan jurusan sarjana Anda, terutama jika mencari kelas berbahasa Inggris. Dalam situasi seperti itu, jika tekad untuk mendapatkan beasiswa sudah bulat, Anda harus sedikit kreatif. Sebagai contoh, lulusan jurusan sejarah dapat mendaftar ke program Studi Budaya yang lebih luas, atau mahasiswa psikologi dapat mempertimbangkan program studi Jepang-dalam-Asia yang menggabungkan hubungan internasional dan kajian sosial masyarakat Jepang. Harus diakui bahwa mahasiswa bidang humaniora dan ilmu sosial memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam hal ini dibandingkan mahasiswa bidang sains dan teknik.

Anda juga dapat memilih suatu program berdasarkan sosok yang ingin dijadikan sebagai pembimbing akademik. Dosen pembimbing ini nantinya akan mengawasi tesis Anda, memberikan arahan riset, dan pada akhirnya memutuskan kelayakan Anda dalam sidang kelulusan. Mengingat topik penelitian Anda nantinya cenderung spesifik, tidak menjadi masalah jika Anda tidak menemukan dosen yang bidang keahliannya persis sama—banyak rekan kuliah saya yang meneliti topik di luar kekuasaan mutlak pembimbing mereka dan justru memperkaya wawasan para profesor tersebut. Selama penelitian Anda berada dalam rumpun ilmu akademik yang selaras dengan tesis, hal tersebut umumnya tidak menjadi hambatan.

Menyusun Ide Penelitian

Program pascasarjana yang paling tepat untuk Anda juga sangat bergantung pada topik tesis yang—untuk tahap ini masih bersifat sementara. Meskipun belum memiliki gambaran yang utuh pada awal proses, saya tahu pasti bahwa saya ingin meneliti sesuatu yang berkaitan dengan bahasa sekaligus budaya Jepang. Oleh karena itu, pada formulir preferensi penempatan, saya mencantumkan tiga program master yang memiliki profesor sosiolinguistik Jepang dengan fokus penelitian yang setidaknya relevan dengan gagasan saya.

Lalu, bagaimana cara memunculkan ide penelitian sejak awal? Berdasarkan pengamatan, MEXT tampaknya menyukai topik-topik penelitian yang:

  • Relevan, penting, dan/atau berpotensi memberikan manfaat bagi masyarakat masa kini.
  • Memiliki kaitan dengan Jepang serta (secara teoretis) mampu mempererat hubungan antara negara asal Anda dan Jepang dalam aspek tertentu.

Kendati demikian, tidak semua ide yang lolos seleksi harus selalu mencakup kedua kriteria tersebut. Berikut adalah beberapa contoh topik dari para penerima beasiswa MEXT di departemen Linguistik dan Studi Budaya Jepang-dalam-Asia di kampus saya:

  • Korelasi antara penggunaan kata pinjaman bahasa Inggris dan pandangan terhadap globalisasi di kalangan mahasiswa Jepang (topik yang mengantar saya lolos MEXT).
  • Kata pinjaman bahasa Inggris dalam aktivisme kesehatan mental dan komunitas LGBTQ+ Jepang di Instagram (topik yang akhirnya saya tulis sebagai tesis).
  • Penggunaan unsur budaya Tiongkok di Jepang.
  • Sejarah dan perkembangan seni pertunjukan di Nagoya saat ini.
  • Gender dan seksualitas dalam manga eroguro1.
  • Pendidikan bahasa dan kebijakan di Tanjung Verde.
  • Eksperimen pengaruh mendengarkan musik terhadap pembelajaran dan retensi bahasa.
  • Representasi gender dan figur anak perempuan dalam sinema Jepang.
  • Veganisme dan vegetarianisme di Jepang.

Seperti yang terlihat, topik penelitian MEXT sangat beragam. Menurut saya, benang merah di antara kami semua adalah ketulusan dalam menggali topik yang benar-benar kami pedulikan. Mengingat penulisan tesis master sebagian besar dikerjakan secara mandiri, pertimbangkanlah subjek-subjek yang sering Anda pikirkan bahkan tanpa adanya kewajiban akademik. Bagi saya pribadi, topik tersebut adalah hak-hak LGBTQ+ di Jepang serta bahasa Inggris buatan Jepang atau wasei eigo (yang selalu menarik perhatian saya). Setelah berdiskusi dan bertukar pikiran dengan teman-teman, saya berhasil menemukan cara untuk menggabungkan kedua minat tersebut dan meneliti hal yang memang saya sukai. Setiap mahasiswa pascasarjana pasti bergulat dalam menentukan topik tesis mereka, tetapi jika Anda memilih isu yang sangat Anda minati, pilihan tersebut tidak akan pernah salah.

Jika Anda berencana meneliti hal yang spesifik tentang Jepang (yang biasanya merupakan langkah aman), pikirkanlah aspek budaya Jepang mana yang paling membuat Anda penasaran, permasalahan apa di Jepang yang ingin Anda bantu selesaikan, serta keahlian atau latar belakang unik apa yang Anda miliki yang dapat memberikan manfaat bagi Jepang.

Terlepas dari apakah Anda ingin mengambil penelitian khusus tentang Jepang atau tidak, cobalah merumuskan beberapa topik yang begitu memikat sehingga Anda sanggup membacanya hingga larut malam. Bagaimanapun juga, aktivitas tersebut merupakan bagian besar dari keseharian seorang mahasiswa pascasarjana, sehingga menikmati prosesnya akan sangat membantu.

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa banyak orang pada akhirnya mengubah topik penelitian mereka ketika sudah memasuki tahun pertama atau bahkan tahun kedua kuliah pascasarjana. Saya bahkan baru menemukan bentuk akhir ide penelitian saya sekitar empat bulan sebelum batas waktu penyerahan tesis! Meskipun tidak menyarankan Anda untuk ragu-ragu selama itu, Anda tetap bisa menyesuaikan atau merombak total ide awal Anda dengan bantuan dosen pembimbing jika diperlukan.

Pada intinya, ingatlah bahwa meskipun topik yang Anda gunakan saat mendaftar MEXT sangat penting, hal itu bukanlah harga mati yang harus Anda tulis hingga akhir. Anda hanya perlu menunjukkan kepada panitia bahwa Anda mampu menyusun rencana penelitian yang solid dan memiliki gagasan awal yang kuat, meskipun perubahannya dapat terjadi seiring berjalannya waktu.

Linimasa Proses Pendaftaran

Mudah-mudahan, Anda kini telah memiliki gambaran awal mengenai program pascasarjana dan topik tesis yang diminati. Namun, berapa lama sebenarnya proses pendaftaran ini akan memakan waktu? Jika Anda berniat mendaftar MEXT, bersiaplah untuk menghadapi proses yang cukup panjang. Kedutaan biasanya membuka pendaftaran pada musim semi di tahun sebelum Anda mulai berkuliah di Jepang, sehingga seluruh rangkaian proses ini memakan waktu setidaknya satu tahun penuh. Pastikan Anda memiliki kegiatan lain yang dikerjakan selama masa tunggu tersebut, serta siapkan Rencana B apabila hasilnya tidak sesuai harapan.

Berdasarkan panduan resmi MEXT, berikut adalah perkiraan linimasa proses pendaftaran bagi pelamar yang mengikuti seleksi:

April-Mei Mengirimkan berkas pendaftaran ke kedutaan besar.
Juni Pihak kedutaan menghubungi pelamar yang lolos Tahap 1 seleksi awal untuk menginformasikan jadwal wawancara.
Juni-Juli Tahap 2 seleksi awal (tes bahasa Jepang, tes bahasa Inggris, dan wawancara).
Juli-Agustus Pihak kedutaan mengumumkan apakah Anda direkomendasikan untuk menerima beasiswa. Jika lolos, Anda harus meminta Surat Penerimaan (Letter of Acceptance) dari universitas tujuan dan mengirimkannya kembali ke kedutaan.
September Menyerahkan formulir preferensi penempatan akhir.
Mulai Oktober MEXT melaksanakan tahap seleksi kedua dan menentukan lokasi penempatan universitas Anda.
Januari-Februari Pihak kedutaan mengabarkan apakah Anda lolos seleksi tahap kedua sekaligus memberitahukan penempatan universitas Anda.
Maret atau September Berangkat menuju Jepang.

Tanggal persisnya bisa berbeda di setiap kedutaan, dan selama masa pandemi, prosedurnya mungkin sedikit mengalami penyesuaian dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun satu hal yang pasti—Anda akan sering mengirimkan surel ke pihak kedutaan atau konsulat, sehingga disarankan untuk membangun hubungan yang baik dengan siapa pun di balik layar korespondensi tersebut. Bukan hanya karena bersikap ramah itu penting, tetapi juga karena ada kemungkinan mereka akan menjadi salah satu pewawancara Anda.

Mengajukan Aplikasi Beasiswa

berkas dan dokumentasi yang diperlukan untuk mendaftar program beasiswa MEXT

Kini Anda telah memahami bentuk program MEXT serta kecocokannya dengan diri Anda. Apabila Anda telah membulatkan tekad untuk mendaftar, berikut adalah daftar dokumen yang harus disiapkan serta berbagai langkah yang perlu dilakukan. Mengingat prosesnya yang panjang dan sarat birokrasi, disarankan untuk menyisihkan waktu setidaknya beberapa bulan guna mempersiapkan aplikasi Anda. Langkah ini akan memberikan waktu yang cukup leluasa untuk meriset program pascasarjana, mengumpulkan dokumen wajib, serta mendiskusikan rencana penelitian Anda kepada rekan atau mentor yang dapat dipercaya. Beberapa bagian dokumen, seperti surat keterangan sehat dan surat rekomendasi, membutuhkan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk diselesaikan, sehingga memulai lebih awal akan sangat menguntungkan Anda.

1. Menyusun Rencana Penelitian

Rencana penelitian merupakan bagian paling krusial dalam dokumen pendaftaran Anda. Bagian ini menjadi fondasi argumen mengapa pihak penyelenggara harus menggelontorkan dana besar agar Anda dapat belajar di Jepang, jadi investasikan waktu secukupnya untuk menyempurnakannya sebaik mungkin.

Kendati demikian, Anda tidak harus menjadi seorang jenius untuk menulis rencana yang baik—saya sendiri tidak memiliki latar belakang keahlian di bidang statistik atau pengumpulan data saat menulis proposal saya. Cukup jelaskan dengan bahasa akademis yang jernih mengenai apa yang ingin Anda teliti dan bagaimana metode hipotetis yang akan Anda gunakan untuk mencapainya.

Beberapa metode penelitian umum yang sering dijumpai meliputi:

Analisis media
  • Film, buku, permainan, acara, pertunjukan, karya seni, unggahan media sosial, atau artefak apa yang akan Anda teliti?
  • Teori apa yang akan digunakan untuk menganalisisnya?
  • Mengapa penting untuk mengkaji teks-teks tersebut?
  • Siapa pihak yang akan terbantu?
Perancangan survei
  • Kepada siapa survei akan ditujukan dan apa pertanyaan yang diajukan?
  • Bagaimana cara mendistribusikan survei tersebut secara realistis dan dalam bahasa apa?
  • Mengapa pengumpulan data ini penting dilakukan?
  • Siapa pihak yang akan terbantu?
Pelaksanaan wawancara
  • Siapa narasumber yang akan diwawancarai dan apa pertanyaan yang diajukan?
  • Bagaimana cara menjangkau mereka secara realistis dan dalam bahasa apa?
  • Mengapa wawancara dengan orang-orang tersebut penting? Siapa pihak yang akan terbantu?
Melakukan eksperimen
  • Variabel apa saja yang ingin diukur dan bagaimana cara mengukurnya?
  • Bagaimana cara melaksanakan eksperimen tersebut secara logis?
  • Mengapa eksperimen ini penting untuk dilakukan?
  • Siapa pihak yang akan terbantu?

Anda dapat berfokus pada salah satu metode di atas atau menggabungkan beberapa metode sekaligus. Pastikan untuk menjelaskan bagaimana penelitian Anda akan memberikan kontribusi pada bidang ilmu yang sudah ada, cantumkan sumber referensi Anda, serta tekankan bagaimana keberadaan Anda di Jepang dan bimbingan dari para profesor di sana akan mempermudah pelaksanaan rencana tersebut.

Selain itu, jika Anda memiliki kemampuan bahasa Jepang yang memadai, Anda diperbolehkan mengirimkan versi terjemahan bahasa Jepang dari rencana penelitian Anda. Secara pribadi, saya menerjemahkan rancangan berbahasa Inggris milik saya ke dalam bahasa Jepang akademis, kemudian membaginya ke dalam beberapa bagian untuk diunggah ke platform Lang8—yang kini dikenal sebagai HiNative—agar dapat dikoreksi oleh para penutur asli. Saya menghabiskan waktu berpekan-pekan untuk mengerjakannya, sehingga hal ini tidak disarankan apabila kemampuan bahasa Jepang Anda belum berada di tingkat menengah-maju. Langkah ini pun sebenarnya tidak bersifat wajib, terutama jika Anda berniat mengikuti program berbahasa Inggris. Namun, jika Anda berhasil melakukannya, hal tersebut tentu akan memberikan kesan yang sangat baik bagi para penilai.

Jika berminat, Anda bahkan dapat menyertakan linimasa per semester atau per bulan yang mencakup keseluruhan durasi dua hingga tiga tahun kunjungan Anda. Para pewawancara memahami bahwa rencana Anda kemungkinan akan mengalami penyesuaian setibanya di Jepang setelah mengetahui kondisi riil di lapangan—saya bahkan tidak berani melihat kembali linimasa saya sendiri karena begitu banyaknya target yang tidak terlaksana. Jadi, jangan merasa khawatir apabila proses pembuatannya terasa seperti merancang cetak biru dengan mata tertutup. Pada tahap ini, panitia penilai hanya ingin melihat sejauh mana dedikasi Anda dalam menyusun rencana penelitian pendahuluan yang terperinci dan masuk akal, meskipun nantinya dapat mengalami perubahan seiring waktu.

2. Mengisi Formulir Preferensi Penempatan

Selain merinci apa yang ingin Anda teliti, Anda juga harus memberitahukan kepada MEXT di mana Anda ingin melaksanakan penelitian tersebut. Anda diperbolehkan mencantumkan hingga tiga program pascasarjana yang ingin dituju berdasarkan urutan prioritas pada Formulir Preferensi Penempatan. Meskipun demikian, pihak pemerintah kerap kali tidak memilih opsi pertama Anda, khususnya jika universitas tersebut merupakan institusi swasta, sehingga pastikan Anda benar-benar ikhlas apabila ditempatkan di universitas mana pun dalam daftar tersebut. Selain itu, sangat disarankan untuk mencantumkan tiga universitas sekaligus alih-alih hanya satu atau dua. Memberikan beberapa pilihan kepada pemerintah akan memperbesar peluang kedutaan untuk memberikan rekomendasi bagi Anda.

Anda juga dapat menuliskan nama profesor yang ingin Anda jadikan sebagai pembimbing di masing-masing universitas. Jika Anda telah menghubungi mereka sebelumnya, itu adalah hal yang sangat baik! Anda sebaiknya mengirimkan surel untuk mendapatkan persetujuan awal dari mereka sebelum tahap wawancara (informasi lebih lanjut akan dibahas nanti), namun pada tahap ini Anda tetap diperbolehkan mencantumkan nama mereka. Perlu diingat bahwa Anda akan menyerahkan kembali formulir ini apabila lolos seleksi tahap pertama, sehingga Anda masih memiliki kesempatan untuk mengubah universitas atau memperbarui urutan prioritas pada saat itu.

3. Surat Rekomendasi

Bagaimana panitia MEXT dapat menilai apakah Anda memiliki kapasitas yang memadai untuk mewujudkan target akademis yang telah dipaparkan dalam proposal? Salah satunya dinilai melalui surat rekomendasi dari rektor atau dekan dari perguruan tinggi terakhir yang Anda tempuh, atau dari mantan pembimbing akademik Anda (yakni dosen mana pun). Singkatnya, carilah pejabat kampus yang dapat mengapresiasi pencapaian luar biasa serta kepribadian unggul Anda. Sebagai contoh, saya meminta dosen bahasa Jepang dari masa kuliah sarjana untuk menuliskan surat tersebut. Formatnya bebas, namun pastikan surat tersebut menggunakan kop resmi institusi serta dibubuhi tanda tangan sebelum dikirimkan di dalam amplop tertutup.

4. Sertifikat Kesehatan

Sebagaimana lumrahnya berbagai urusan yang berkaitan dengan Jepang, Anda juga diwajibkan memiliki kondisi kesehatan yang prima. Cetaklah formulir Sertifikat Kesehatan MEXT dan mintalah dokter atau tenaga medis yang berwenang untuk mengisinya selengkap mungkin. Anda akan diminta untuk melalui beberapa pemeriksaan medis yang tidak biasa—seperti rontgen dada, tes darah, dan sampel urine—sehingga proses ini harus diselesaikan lebih awal agar hasil pemeriksaan sempat keluar tepat waktu. Sebagian dokter terkadang merasa kebingungan saat melihat formulir tersebut yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Jepang, serta mempertanyakan banyaknya jenis pemeriksaan yang diminta. Oleh karena itu, disarankan untuk mendatangi dokter keluarga yang sudah Anda kenal baik atau fasilitas kesehatan tepercaya yang memiliki peralatan lengkap agar prosesnya berjalan selancar mungkin. Menyerahkan sampel cairan tubuh memang bukan hal yang menyenangkan, tetapi kuatkan tekad Anda demi tujuan yang mulia ini.

5. Transkrip Akademik

Anda telah membuktikan diri memiliki kesehatan yang baik dan kecakapan yang diakui oleh pejabat kampus—lalu bagaimana dengan nilai akademis Anda? MEXT mewajibkan penyerahan transkrip nilai dari setiap jenjang pendidikan tinggi yang telah Anda selesaikan, keterangan sistem penilaian di perguruan tinggi asal, salinan ijazah atau surat keterangan lulus sementara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *