Home / Game / Microsoft Berikan Penjelasan Suram Terkait Kontroversi Xbox Cloud Gaming

Microsoft Berikan Penjelasan Suram Terkait Kontroversi Xbox Cloud Gaming

xbox cloud gaming composite red yellow composite with device silhouettes grdb illustration

Informasi terbaru dari lingkaran dalam Microsoft mengungkapkan bahwa pembatasan baru pada layanan Xbox Cloud Gaming secara internal dikaitkan dengan lonjakan tren AI. Temuan ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai posisi Xbox dalam prioritas semester kedua tahun 2026 bagi Microsoft, sekaligus mengungkap batas penggunaan di mana layanan yang sebelumnya dikenal sebagai xCloud tersebut mulai merugi.

Microsoft pertama kali mengumumkan batasan penggunaan Xbox Cloud Gaming pada 3 September, dengan jadwal penerapan mulai November, sekitar enam tahun setelah fitur cloud gaming pertama kali diintegrasikan ke dalam Game Pass Ultimate pada 15 September 2020. Jatah bulanan yang baru ditetapkan adalah 15 jam untuk paket Ultimate, 10 jam untuk Premium, dan 5 jam untuk Essential. Pelanggan nantinya diizinkan membeli tambahan waktu jika kuota tersebut habis. Meski demikian, Microsoft belum merinci harga untuk pembelian tambahan waktu tersebut dan memperkirakan kebijakan ini hanya berdampak pada sekitar 4% dari total pelanggan Game Pass. Perusahaan juga memberikan kelonggaran berupa jaminan transisi bagi pengguna lama di wilayah tertentu, sementara kebijakan utama tetap berjalan.

Xbox Cloud Gaming Dilaporkan Mulai Merugi Setelah 15 Jam Streaming

Pembatasan Pengguna Bulanan Muncul Tanpa Alasan Sembarangan

Menurut laporan dari jurnalis sekaligus pengamat lama Microsoft, Jez Corden, Xbox Cloud Gaming mulai mengalami kerugian finansial begitu seorang pengguna melampaui 15 jam pemakaian dalam sebulan. Berdasarkan narasumber internal yang enggan disebutkan namanya, ambang batas 15 jam ini dipicu oleh kebutuhan komputasi kecerdasan buatan yang terus meningkat. Akibatnya, alokasi rak server Azure untuk keperluan selain AI menjadi semakin sulit dipertanggungjawabkan secara internal. Penjelasan ini jauh lebih spesifik daripada pernyataan resmi Microsoft yang sebelumnya Csanya menyebutkan bahwa biaya operasional cloud gaming membengkak seiring durasi bermain pengguna yang semakin panjang.

xbox-cloud-gaming-improvements-new-games-4k-streaming-report_2

Laporan tersebut tidak mengindikasikan bahwa Microsoft serta-merta mengganti seluruh perangkat keras cloud Xbox dengan server AI. Corden menjelaskan bahwa server-server tersebut sebenarnya masih dapat menjalankan beban kerja AI di luar jam sibuk, tetapi tidak dioptimalkan untuk itu. Kendala utamanya adalah biaya kesempatan (opportunity cost) dari penggunaan kapasitas pusat data untuk bermain game di tengah lonjakan permintaan AI. Laporan keuangan terbaru Microsoft memperkuat pandangan ini, di mana permintaan layanan Azure masih melampaui pasokan meskipun perusahaan telah menambah 31 pusat data baru serta kapasitas sebesar satu gigawatt pada kuartal fiskal keempat, dengan belanja modal mencapai USD 41 miliar. Tekanan ini datang saat penggunaan cloud gaming melonjak 45% dari tahun ke tahun pada Desember 2025, seiring langkah Microsoft memperluas dukungan streaming untuk game yang sudah dimiliki oleh pengguna.

Pembatasan Xbox Cloud Gaming Terjadi di Tengah Perombakan Ekosistem Xbox

Model baru yang berlaku bulan November mendatang tetap memperluas akses cloud gaming dengan mengizinkan pengguna non-subskripsi untuk membeli waktu streaming bagi game resmi yang mereka miliki secara terpisah, meskipun anggota Game Pass harus merelakan akses tanpa batas mereka. Sejumlah pelanggan setia di Australia, Brasil, dan Polandia dilaporkan masih bisa menikmati streaming tanpa batas untuk sementara waktu, sementara pemberitahuan di Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa batasan tersebut akan langsung diberlakukan. Kebijakan ini lebih condong sebagai pengecualian regional sementara alih-alih pembatalan kebijakan secara keseluruhan. Perubahan ini berjalan seiring upaya CEO Xbox, Asha Sharma, untuk memulihkan kondisi keuangan setelah keputusan harga Game Pass sebelumnya, di mana akuisisi dan retensi pengguna menunjukkan peningkatan pascalenjakan penurunan harga langganan pada musim semi 2026.

Langkah pemulihan ini menyusul tahun fiskal 2026 yang penuh tantangan, di mana pendapatan sektor gaming Microsoft merosot USD 1,7 miliar atau sekitar 7%, termasuk penurunan 5% pada lini konten dan layanan serta anjloknya penjualan perangkat keras sebesar 29%. Kendati demikian, Sharma tetap optimis bahwa Xbox berada di jalur yang tepat untuk kembali bertumbuh pada akhir tahun fiskal 2027. Di sisi lain, Microsoft masih menyisakan ruang untuk penyesuaian lanjutan pada layanan cloud mereka dan belum mengumumkan sejumlah detail penting mengenai perombakan besar di bulan November 2026, terutama menyangkut struktur harga untuk pembelian tambahan kuota waktu bermain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *