Serial anime terbaru berjudul Sparks of Tomorrow hadir sebagai salah satu tontonan yang paling menarik perhatian musim ini. Diproduksi oleh studio kenamaan Kyoto Animation, serial ini diadaptasi dari novel ringan berjudul 20th Century Electricity Catalog karya Hiro Yuki dengan ilustrasi dari Kazumi Ikeda, serta latar belakang seni oleh Momoka Nagatani. Mengambil latar di alternatif sejarah Jepang awal abad ke-20, cerita ini membayangkan masa ketika tenaga uap mendominasi sementara listrik masih menjadi penemuan baru yang asing layaknya sihir. Melalui perjalanan para karakternya, penonton diajak menyelami gagasan tentang Era Kelistrikan serta berbagai tema mendalam seperti keyakinan, dedikasi pada impian orang terkasih, nihilisme, dan semangat inovasi di tengah era teknologi baru.
Dalam ajang Anime NYC, sejumlah media berkesempatan untuk mewawancarai dua figur penting di balik layar serial ini, yaitu musisi Ginger Root yang menggubah lagu tema penutup, serta Art Director Mao Takayama. Diskusi tersebut mengupas tuntas proses kreatif serta sumber inspirasi dalam menghidupkan karya ini.
Beberapa bagian dari wawancara ini telah disunting agar lebih mudah dipahami. Wawancara dengan Takayama-san dilakukan dengan bantuan seorang penerjemah.
Eksplorasi Visual dan Gaya Seni Khas Kyoto Animation
The Natural Aristocrat: Takayama-san, adegan mana yang menurut Anda paling merepresentasikan gaya visual serial ini? Bagian dunia mana yang paling banyak membutuhkan riset visual?
Takayama-san: Secara pribadi, adegan yang paling mencirikan karya ini adalah pemandangan kota Kyoto. Bangunan-bangunan bergaya lama, jaringan pipa yang membentang di penjuru kota, garis langitnya, hingga permukaan tanah yang tampak sedikit lembap benar-benar menampilkan atmosfer serial yang berkabut, redup, dan misterius.
Adult Swim Central dan Toonami Faithful: Takayama-san, seni latar belakang dalam anime ini terasa sangat tidak biasa. Bisakah Anda ceritakan bagaimana Anda dan tim merancang gaya seni tersebut?
Takayama-san: Ketika menggarap seni latar, kami sangat ingin membuatnya semirip mungkin dengan lukisan cat minyak. Fokus kami tidak hanya pada sapuan kuasnya, tetapi juga komunikasi yang intens antar anggota tim karena pekerjaan ini dikerjakan secara kolektif bukan oleh individu. Setiap kali sebuah karya seni selesai, mereka akan berdiskusi apakah hasilnya sudah pas atau masih bisa ditingkatkan demi mencapai gaya lukisan cat minyak yang diinginkan.
Animation Spaces: Seni latar belakang berhasil menangkap transisi atmosfer Kyoto pada tahun 1906, khususnya kontras antara rumah tradisional kayu dan cahaya inovasi kelistrikan. Bagaimana tim produksi menyeimbangkan akurasi sejarah era Meiji dengan gaya visual khas Kyoto Animation?
Takayama-san: Kami berfokus untuk mempertahankan setiap sapuan kuas pada seni latar belakang dengan mengambil inspirasi dari aliran impresionisme, sehingga garis-garisnya sengaja dibuat agak kabur. Namun, untuk menggambarkan lanskap kota Kyoto yang mungkin belum begitu akrab bagi sebagian penonton, kami memastikan garis bangunannya tetap terlihat jelas. Keseimbangan antara elemen tradisional dan gaya khas studio dijaga dengan teliti pada setiap potongan gambar.

Anime Corner: Sejauh mana Anda menggunakan referensi sejarah saat merancang dunia fisik dalam serial ini? Elemen dunia nyata apa yang dipertahankan dan di bagian mana Anda sengaja menyimpang?
Takayama-san: Sesuai arahan sutradara, kami berusaha menjaga keakuratan historis tata letak kota dan struktur bangunan Kyoto tanpa banyak mengubahnya. Hal yang paling membedakan adalah unsur steampunk, seperti pipa-pipa uap yang melintasi kota serta efek kekaburan udara. Sebagai contoh historis, warga dulunya sering menjemur pakaian di tali jemuran melintang; dalam serial ini, tali tersebut digantikan oleh pipa, dan kami menambahkan lebih banyak cucian kain di atas pipa-pipa tersebut untuk memperkuat kesan atmosfer kotanya.
Anime Trending: Banyak studio animasi mengandalkan studio eksternal untuk seni latar, sementara Kyoto Animation memilikinya secara in-house. Bagaimana keberadaan tim in-house ini memengaruhi budaya dan keahlian studio?
Takayama-san: Keunggulan terbesar dari memiliki tim in-house adalah aspek komunikasi. Terkadang sulit untuk merasionalkan atau merumuskan keinginan sutradara secara verbal, tetapi dengan tim internal, kami bisa langsung menuangkannya ke dalam bentuk visual. Gaya seni yang sangat khas pada proyek ini hanya bisa diwujudkan berkat kolaborasi erat di dalam studio seperti KyoAni.
Unknown Outlet: Warna sangat penting untuk membangun nada psikologis. Apakah Anda menetapkan aturan warna khusus untuk membedakan adegan dramatis yang intens dengan momen sehari-hari yang tenang?
Takayama-san: Secara umum, skema warna yang kami gunakan tetap konsisten, baik untuk adegan serius maupun santai, dengan nuansa keabuan yang kaya warna dan sedikit mendung. Perbedaan utamanya terletak pada sapuan kuas; adegan dramatis menggunakan sentuhan kuas yang lebih kuat, sementara adegan santai digarap dengan sapuan yang lebih lembut.
Animation Spaces: Adakah adegan spesifik dari tiga episode awal yang paling menantang atau berkesan bagi staf untuk diwujudkan?
Takayama-san: Adegan yang membutuhkan tenaga ekstra adalah saat Kihachi membayangkan masa depan dengan lanskap kota futuristik. Tim latar belakang harus menggambar kerumunan orang yang bergerak secara realistis dan memisahkannya dari elemen latar belakang. Proses tersebut sangat rumit namun meninggalkan kesan mendalam bagi kami.
Adult Swim Central dan Toonami Faithful: Bagaimana rasanya menjadi art director untuk sebuah anime untuk pertama kalinya?
Takayama-san: Rasanya sangat sulit. Sebagai seorang art director, saya tidak hanya harus menggambar, tetapi juga dituntut untuk berkomunikasi secara efektif. Aspek-aspek di luar kegiatan menggambar tersebut menjadi tantangan tersendiri yang harus saya pelajari.
The Natural Aristocrat: Apa perubahan terbesar bagi Anda saat beralih dari posisi latar belakang di film Violet Evergarden tahun 2020 menjadi art director di Sparks of Tomorrow?
Takayama-san: Saat menggarap Violet Evergarden, saya masih tergolong baru di industri ini dan lebih banyak menerima revisi dari senior. Sekarang, peran tersebut berbalik di mana saya yang memberikan arahan dan revisi kepada staf. Saya dapat menerapkan seluruh pelajaran berharga dari masa lalu dalam kapasitas saya sebagai art director saat ini.
Yatta-Tachi: Kapan pertama kali Anda mulai menggambar, dan seniman siapa yang paling memengaruhi perkembangan karier Anda?
Takayama-san: Saya sudah menggambar sejak usia sekitar lima tahun. Titik balik saya ingin menjadi seniman latar terjadi saat berusia 14 tahun setelah mengunjungi pameran seni Nizo Yamamoto, art director untuk film-film seperti Castle in the Sky dan Princess Mononoke. Sejak saat itu, karya-karyanya menjadi sumber inspirasi terbesar saya.
Anime Trending: Apa nasihat atau pelajaran terbaik tentang pembuatan seni latar belakang yang pernah Anda terima?
Takayama-san: Pelajaran terpenting adalah untuk terus berpikir saat sedang menggambar. Seni latar belakang harus mampu menonjolkan karakter di bagian depan serta mengarahkan pandangan penonton dengan tepat.

Menyatukan Musik dan Nuansa Era Meiji Bersama Ginger Root
Unknown Outlet: Sparks of Tomorrow memadukan identitas visual yang kuat dengan lanskap musik yang unik. Bagaimana seni dan musik saling melengkapi dalam membangun atmosfer anime ini?
Ginger Root: Saya menulis lagu tersebut tanpa melihat visual animasinya secara langsung. Saya hanya berbekal lukisan dari sang sutradara, catatan tertulis mengenai keinginannya, serta pertemuan daring bersama beliau. Saya sengaja menyelipkan jeda, ketukan drum, interlude, dan bagian koor yang memberikan ruang bagi animator untuk berkreasi. Saya sangat senang melihat hasil akhirnya karena terasa begitu padu, dan fakta bahwa mereka menganimasikan sesuatu berdasarkan musik yang saya tulis merupakan hal yang sangat istimewa.
Takayama-san: Sebagian besar animasi untuk lagu penutup dikerjakan menggunakan teknologi 3D dengan sedikit sentuhan lukisan latar belakang. Sebelum mulai bekerja, kami sempat mendengarkan lagunya terlebih dahulu dan merasa alunan alat musiknya—yang mirip organ pipa—sangat cocok dengan atmosfer misterius serial ini.
Adult Swim Central dan Toonami Faithful: Percakapan seperti apa yang akhirnya membuat lagu Anda terpilih menjadi tema penutup?
Ginger Root: Awalnya saya mengira tawaran tersebut adalah penipuan karena saya adalah penggemar berat anime. Dalam pertemuan dengan tim termasuk sutradara Ota-san, kami sempat membahas kecintaannya pada Lady Gaga, yang tanpa sadar mungkin memengaruhi penulisan lagu saya. Ota-san berpesan agar lagu tema penutup tidak menggunakan instrumen bertema ketimuran, berbeda dengan lagu pembukanya yang menonjolkan nuansa tradisional era Meiji. Beliau menginginkan nuansa elektronik yang menggambarkan masa depan dari kacamata katalog kelistrikan tersebut.
Yatta-Tachi: Anda dikenal sering menggunakan cara unik dalam bermusik, seperti memakai telepon putar tua sebagai mikrofon. Apakah Anda menggunakan instrumen tidak konvensional saat merekam lagu “Soarin'”?
Ginger Root: Lagu “Soarin'” direkam sepenuhnya di kamar tidur tanpa menyewa studio, sehingga memiliki nuansa lo-fi khas karya saya. Saya memang menggunakan telepon lama untuk merekam sebagian vokal. Tantangan terbesar dalam menulis musik untuk televisi adalah kecemasan akan adanya perubahan. Pengalaman mengerjakan proyek untuk NHK sebelumnya mengajarkan saya untuk merekam suara secara langsung menggunakan mikrofon alih-alih VST, agar mudah disunting jika sewaktu-waktu ada revisi, terutama karena harus membuat dua versi yaitu versi pendek dan panjang.
Animation Spaces: Bagaimana Anda memadukan gaya retro khas Anda dengan latar era Meiji awal serta tema penerbangan dan keajaiban yang mengelilingi karakter Kihachi dan Inako?
Ginger Root: Ini adalah kesempatan bagus untuk keluar dari zona nyaman saya. Ketika ditanya apakah mereka menginginkan lagu anime pada umumnya atau lagu khas Ginger Root, mereka menjawab menginginkan karya ala Ginger Root. Jadi, saya memutuskan untuk memadukan 70 persen gaya saya dengan 30 persen elemen anime. Berdasarkan tulisan dan konsep visual dari Ota-san, cerita ini merupakan kisah pertemuan antara anak laki-laki dan perempuan yang tidak bisa berjuang sendirian. Oleh karena itu, lagu ini dimulai dari instrumen tunggal yang perlahan membesar hingga bagian koor dinyanyikan oleh paduan suara penuh, menggambarkan kebutuhan akan dukungan orang lain untuk mencapai impian.
Anime Corner: Dari awal serial ini, karakter mana yang paling melekat di benak Anda, dan tema apa yang paling cocok diterjemahkan ke dalam lagu?
Ginger Root: Saya terinspirasi oleh rasa penasaran yang dihadirkan dalam buku tersebut serta motivasi para karakternya yang memiliki keinginan kuat—baik untuk membalas budi saudaranya, meneladani ibunya, atau sekadar meraih impian mereka. Pesan intinya adalah bahwa setiap orang memiliki keinginan di dalam hidup, di mana sebagian orang gagal jika berjuang sendirian dan berhasil ketika melakukannya bersama-sama.
Unknown Outlet: Adegan penutup sangat krusial karena meninggalkan kesan mendalam bagi penonton selama sepekan penuh. Perasaan apa yang ingin Anda tinggalkan di benak penonton?
Ginger Root: Tim memberi saya referensi dari anime City Hunter di mana lagu tema mulai diputar sebelum adegan berakhir dengan irama yang menghentak. Mereka ingin menghadirkan esensi bahwa petualangan belum usai dan masih banyak misteri yang belum terpecahkan, dibalut dalam ketidakpastian yang digambarkan seperti kota yang diselimuti kabut uap. Ada lirik dalam lagu yang berbunyi, “Namun bersama-sama kita bisa melampaui bintang dan keluar dari uap itu,” agar para penonton merasakan semangat untuk terbang ke langit.
Takayama-san: Saya sependapat dengan Ginger Root, namun saya juga ingin penonton membawa pulang akhir yang memicu pikiran. Saya berharap mereka dapat merenungkan kembali apa yang baru saja terjadi dalam episode tersebut serta menebak apa yang akan terjadi di masa depan.
Anime Trending: Bagaimana Anda mengatasi rasa jenuh atau hambatan kreatif (creative block) di tengah kesibukan memegang berbagai peran?
Ginger Root: Tahun lalu saya sempat mengalami kejenuhan kreatif. Di tengah situasi itu, saya harus mengingatkan diri sendiri mengapa saya mulai bermusik sejak awal, yaitu karena saya menikmatinya dan melakukannya untuk bersenang-senang. Cara terbaik untuk mengatasi kebuntuan adalah dengan berjalan-jalan dan tidak terlalu keras pada diri sendiri jika sebuah lagu tidak langsung selesai dalam semalam. Beristirahat sehari atau dua hari seringkali memberikan sudut pandang baru yang segar.
Yatta-Tachi: Bagaimana pengalaman masa lalu Anda dengan karya-karya Kyoto Animation, dan bagaimana perasaan Anda bisa berkolaborasi dengan studio ini?
Ginger Root: Saya sangat menyukai karya-karya Kyoto Animation seperti K-On!, Nichijou, dan Violet Evergarden. Menariknya, saat belajar bahasa Jepang selama pandemi COVID-19, buku pertama yang berhasil saya baca adalah Hibike! Euphonium, yang kemudian saya ketahui diadaptasi oleh Kyoto Animation. Bisa bekerja sama dengan studio yang memproduksi karya favorit saya adalah sebuah kehormatan yang luar biasa, dan saya tentu sangat terbuka untuk kesempatan kolaborasi lainnya di masa mendatang.









