Anime adaptasi dari karya mangaka legendaris Hiromu Arakawa, yaitu Daemons of The Shadow Realm, menjadi salah satu tontonan yang paling dinantikan musim ini. Hiromu Arakawa sendiri sangat dikenal luas berkat mahakaryanya, Fullmetal Alchemist. Mengingat pengaruh besar dan kualitas dari karya terdahulunya, banyak pihak yang menaruh harapan tinggi agar Daemons of the Shadow Realm dapat menghadirkan standar kualitas serupa dan bertindak sebagai penerus spiritual. Cerita berlatar di sebuah dunia pra-modern di mana sekelompok orang tertentu mampu mengendalikan makhluk supernatural bernama Daemons. Di sebuah desa bernama Higashi, lahirlah sepasang anak kembar yang “terlahir di antara siang dan malam” bernama Yuru dan Asa, yang diramalkan akan memegang kekuatan besar di masa depan.
Menjelang penghujung musim penayangan anime ini, kami berkesempatan mewawancarai dua pengisi suara dari versi sulih suara bahasa Inggrisnya: Ben Stegmair, pengisi suara Yuru, dan Molly Zhang, pengisi suara Asa. Kami berbincang-bincang mengenai pendekatan mereka dalam membawakan karakter masing-masing, cara mereka mendalami berbagai sisi kepribadian karakter, serta alasan di balik memikatnya alur cerita Daemons of the Shadow Realm.
Beberapa bagian dari wawancara ini telah disunting demi kejelasan. Wawancara ini mengandung sedikit detail plot cerita Daemons of the Shadow Realm.
Proses Kreatif di Balik Pengisian Suara
Q: Pertanyaan pertama untuk kalian berdua, arahan dan bimbingan awal seperti apa yang kalian terima saat menentukan karakter suara yang tepat serta hubungan di antara keduanya?
Ben Stegmair: Jujur saja, sutradara kami yaitu Shawn Gann selalu menginginkan orang-orang yang merasa nyaman dengan ciri khas suara alami mereka sendiri. Dia tidak akan memilih kami jika suara natural kami dirasa tidak cocok dengan karakternya. Khusus untuk saya, saya sudah sering bekerja sama dengan Shawn di berbagai proyek sebelumnya, jadi kami sudah saling memahami. Bahkan jika Shawn hanya mengangguk, saya sudah langsung paham apa yang dia inginkan. Jadi, tidak terlalu banyak arahan rumit yang diberikan. Namun, saya tahu bahwa Arakawa selalu menulis karakter yang memiliki kedalaman dan lapisan emosi yang kaya. Masing-masing memiliki impian, tujuan, dan hasrat tersendiri. Untuk Yuru, saya membagi perannya menjadi tiga tipe: Yuru yang santai, Yuru yang polos saat pertama kali mengenal dunia luar dan sangat menyayangi keluarganya, serta Yuru sebagai pelindung sekaligus pemburu. Shawn sangat peka, dan jika sebuah dialog membutuhkan nuansa tertentu, dia akan langsung mengarahkannya.
Molly Zhang: Seperti yang dikatakan Ben, Shawn lebih menyukai penampilan yang terkesan natural. Dalam industri anime, seringkali pengisi suara harus mengubah suara mereka agar terdengar seperti karakternya. Namun dalam kasus ini, Shawn mencari suara yang secara alami memang cocok dengan karakternya alih-alih sekadar berakting secara berlebihan. Saya sangat menikmati proses ini. Untuk karakter Asa di dalam sangkar yang merupakan versi lebih muda, saya memang sengaja mengubah suara agar terdengar lebih kekanak-kanakan dan tidak seperti Asa versi remaja. Ada parodi yang menarik di situ karena bentuk tersebut adalah tiruan, jadi saya menggunakan suara tiruan juga. Sementara untuk Asa yang asli, saya menggunakan suara natural saya dan bereaksi sesuai dengan sifat karakternya.

Kesan Terhadap Manga dan Premis Cerita
Q: Apakah kalian sudah membaca manganya terlebih dahulu, dan bagaimana reaksi pertama kalian terhadap premis cerita serta plot twist awalnya?
Ben Stegmair: Saya sudah menjadi penggemar manga ini sejak tahun 2021 atau awal 2022. Saya langsung jatuh cinta padanya sejak bab pertama. Hal yang paling saya sukai dari karya Arakawa adalah bagaimana beliau mengambil premis yang sangat unik dan luar biasa, tetapi tetap menyajikan cerita dengan karakter yang sangat manusiawi. Berkarya dalam cerita garapan Arakawa dan Bones ini merupakan kehormatan terbesar dalam karier saya sejauh ini.
Molly Zhang: Awalnya saya belum membaca manganya. Pengenalan pertama saya terjadi saat Crunchyroll mengadakan pemutaran perdana khusus untuk episode pertama dari berbagai serial. Saya menontonnya bersama Ben dan beberapa teman pengisi suara lainnya. Plot twist di episode pertama benar-benar di luar dugaan karena saya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang sumber aslinya. Selepas menonton, kami langsung membahas betapa luar biasanya cerita tersebut. Sekarang, saya tentu saja sudah membaca manganya dan menjadi penggemar berat serial ini.

Menghidupkan Sisi Komedi dan Ketegangan
Q: Ben, sebagai Yuru, Anda sering kali berada dalam posisi kewalahan menghadapi kehidupan modern karena belum pernah mengalaminya. Untuk adegan-adegan yang memadukan unsur komedi dan keseriusan, bagaimana pendekatan Anda?
Ben Stegmair: Hal terpenting adalah kehati-hatian serta pemahaman konteks dari dialog tersebut. Saya selalu melihat baris kalimat sebelum dialog saya, konteks situasinya, serta ekspresi yang ditampilkan oleh animasinya. Dari situ, saya bisa menakar seberapa besar unsur komedi atau keabsurdan yang harus dikeluarkan. Sutradara kami, Shawn, sangat handal dalam membantu menyelaraskan dan menyempurnakan nada suara tersebut, jadi saya tidak bekerja sendirian.
Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada para pengisi suara Daemons of The Shadow Realm yang telah meluangkan waktu untuk berbincang dengan kami, serta Crunchyroll yang telah mengkoordinasikan wawancara ini. Daemons of the Shadow Realm dapat disaksikan secara streaming melalui Crunchyroll.








