Menjelang penampilan perdananya di Italia, komponis, produser, serta musisi kenamaan Yoko Kanno membagikan berbagai pandangan menarik dalam sebuah wawancara eksklusif. Sang seniman dijadwalkan hadir sebagai salah satu bintang tamu utama dalam ajang Lucca Comics & Games untuk menyapa para penggemarnya. Selain itu, ia juga akan membawakan proyek solo bertajuk PIANO ME yang memadukan permainan piano langsung dengan tata visual di Teatro Nazionale, Milan.
Direktur festival Emanuele Vietina mengungkapkan antusiasmenya terhadap kehadiran sang komponis:
Kami telah lama memimpikan kehadiran Yoko Kanno di Lucca Comics & Games, dan impian tersebut akhirnya terwujud bertepatan dengan perayaan hari jadi kami yang ke-60. Di Lucca, selama hampir dua dekade—mulai dari kunjungan pertama Nobuo Uematsu pada tahun 2007 hingga kehadiran Eimear Noone dan Yoko Shimomura—kami selalu merayakan nama-nama besar musik simfoni kontemporer di kampung halaman Giacomo Puccini. Dari Cowboy Bebop, Escaflowne, dan Ghost in the Shell hingga karya-karyanya di dunia game, Yoko Kanno telah menggubah gubahan legendaris yang kini menjadi tonggak sejarah musik serta anime.
Dikenal luas melalui karya-karyanya di berbagai industri, Kanno telah membentuk lanskap audio untuk berbagai judul populer seperti Cowboy Bebop, Ghost in the Shell: Stand Alone Complex, Macross Frontier, Darker than Black, dan Genesis of Aquarion. Dalam kesempatan ini, ia berbicara mengenai sumber inspirasi, proses kreatif, serta perjalanan kariernya.
Wawancara ini dilakukan dengan bantuan seorang penerjemah.

Q: Seandainya hidup Anda diangkat menjadi sebuah anime, genre musik seperti apa yang akan menjadi jalur suaranya? Apakah ada musisi tertentu yang ingin Anda libatkan?
A: Soundtrack dalam hidup saya sebenarnya tidak membutuhkan melodi. Efek suara saja sudah cukup—seperti kicauan burung, suara hewan, serta deru angin dan ombak.
Q: Sebagai seorang pecinta buku, jika Anda berkesempatan menggubah musik untuk adaptasi anime dari sebuah buku, proyek apa yang ingin Anda kerjakan dan seperti apa nuansanya?
A: Saya lebih tertarik untuk menggarap dunia yang berada sebelum kata-kata terbentuk. Saya ingin bereksperimen dengan suara-suara yang mencekam, suara asing hasil distorsi mesin, serta berbagai bunyi alam yang diolah kembali. Hal seperti itu jarang sekali bisa saya lakukan.
Q: Anda sempat menyebutkan betapa pentingnya bepergian untuk mencari inspirasi, yang membawa Anda mengunjungi New Orleans, Islandia, dan Brasil. Seberapa pentingkah bagi seorang komponis untuk mengenal dunia secara langsung?
A: Ada banyak hal yang tidak bisa dipahami hanya melalui rekaman video atau buku panduan sampai kita mendatangi tempatnya secara langsung. Mulai dari aroma, kelembapan, cita rasa, hingga atmosfer suara sebuah kota. Dalam kasus saya, saya sering mendapat kesempatan untuk bermain musik bersama seniman lokal, dan ada hal-hal yang baru bisa dimengerti setelah kita bermusik bersama—seperti rasa waktu, interpretasi karya, hingga pengaturan napas. Bahkan, perjumpaan singkat dengan seekor kucing liar di tempat yang saya kunjungi selalu memberikan penemuan baru.
Q: Apakah ada kedatangan ke negara lain yang kancah musiknya ingin Anda jelajahi namun belum sempat dikunjungi?
A: Jika berbicara soal ritme, saya merasa masih harus banyak belajar. Saya ingin pergi ke Afrika untuk merasakan langsung sumber asal mula ritme di dalam tubuh saya sendiri.
Q: Berbicara mengenai hal tersebut, saya berasal dari Peru: apakah Anda familiar dengan musik tradisional Peru?
A: Saat ini saya sudah jarang menyaksikan pertunjukan semacam itu, tetapi saya ingat pernah melihat orang-orang asal Peru mengenakan pakaian tradisional di kawasan seperti Shibuya, Jepang. Saat menyaksikan mereka tampil, saya merasakan embusan angin yang kering. Pengetahuan saya tentang musik Peru masih terbatas, jadi saya akan senang jika Anda bisa menceritakan lebih banyak. Omong-omong, saya pernah mencicipi makanan di restoran Peru, dan rasanya sangat lezat hingga membuat saya ketagihan.
Q: Dari jawaban Anda mengenai proses pembuatan musik di masa kecil, saya mendapat kesan bahwa Anda menjalani prinsip bahwa pekerjaan terbaik dilakukan sendiri. Apakah sikap ini juga terbawa dalam kehidupan Anda di luar musik?
A: Saya tidak yakin apakah makna “benar” di sini tersampaikan dengan tepat, tetapi saya memang menikmati proses mengerjakan segala sesuatu dengan tangan sendiri—mulai dari menulis partitur hingga bermusik bersama orang lain. Saya menyukai kapalan di jari akibat memegang pensil, dan baik saat memasak maupun memilih pakaian, saya menghargai setiap kesalahan yang terjadi.
Q: Jika seorang kreator meminta Anda mengisi musik untuk adaptasi anime dari karya mereka, elemen apa saja yang akan menarik perhatian Anda? Cerita seperti apa yang Anda cari?
A: Sebelum memikirkan isi cerita dari sebuah karya, saya mempertimbangkan apakah saya bersedia mendedikasikan sebagian hidup saya bersama sang penciptanya. Waktu kita terbatas. Bekerja sama berarti menjalani perjalanan batin bersama orang-orang yang terlibat di dalam proyek tersebut. Pertanyaannya adalah apakah saya siap untuk hal itu pada saat itu.
Q: Informasi penting apa saja yang Anda perlukan mengenai seorang karakter agar dapat menggubah tema musik pribadinya?
A: Saya tidak mungkin memahami seorang karakter lebih baik daripada penulis asli atau perancangnya. Saya mungkin bisa membayangkan seperti apa kepribadian karakter tersebut, tetapi di tingkat itu, semua orang Cuma akan memiliki kesan yang kurang lebih sama. Saya lebih memilih untuk memahami perasaan dari figur penting di balik karya tersebut—baik penulis asli maupun sutradara—serta menelaah aspek apa dari sang sutradara yang direpresentasikan oleh karakter tertentu.
Q: Anda pernah membandingkan pengalaman bekerja sama dengan sutradara anime Jepang dengan pendekatan ala Hollywood. Seperti apa lingkungan kerja ideal menurut Anda untuk menggubah musik anime?
A: Secara pribadi, saya merasa lingkungan produksi di Jepang—di mana hanya segelintir orang yang memegang kendali inti sebuah karya—sangat cocok untuk saya, meskipun hal itu terkadang bisa berujung pada sikap egois dan berbagai kendala di tengah jalan.
Q: Saya sempat menyaksikan konser Anda bersama SEATBELTS di Manga Barcelona tahun lalu, di mana terpancar semangat yang begitu menular selama penampilan tersebut. Perasaan seperti apa yang hanya bisa ditangkap melalui pertunjukan langsung?
A: Ada jenis suara yang tidak akan pernah tercipta tanpa adanya keselarasan yang ajaib: hari itu, tempat itu, kehadiran Anda di sana, serta kondisi kami yang sehat saat bermusik. Keindahan itu hanya bertahan sepersekian detik, dan saya ingin masi bersyukur atas momen singkat tersebut.
Q: Menurut Anda, apa alasan di balik musik Cowboy Bebop yang tetap memikat bahkan bagi penonton masa kini?
A: Saya merasa takjub karena selama hampir tiga tahun dekade karya ini terus dicintai seolah-olah ia adalah sesuatu yang baru. Hal itu sepenuhnya berkat kecintaan sang sutradara, Shinichiro Watanabe, terhadap musik.
Q: Lagu “The Real Folk Blues” memadukan dorongan kuat untuk bernyanyi bersama dengan nuansa melankolis yang sulit diungkapkan. Seberapa besar unsur tersebut direncanakan sebelum penayangan anime-nya? Apakah menurut Anda itu adalah inti dari jiwa jazz dan blues?
A: Sutradara Watanabe memilih lagu ini untuk bagian penutup, tetapi saat itu saya pribadi mengira pendekatan estetika yang lebih kering akan terasa lebih keren. Dalam artian tertentu, itu bukanlah nuansa yang saya bayangkan sebelumnya, namun lagu tersebut sangat cocok dengan kepekaan sang sutradara. Seiring berjalannya waktu, saya akhirnya bisa memahami perasaan beliau. Sutradaralar, bukan saya, yang merupakan jiwa dari jazz dan blues itu sendiri.
Q: Dulu Anda pernah membahas makna menjadi manusia dalam konteks Ghost in the Shell: Stand Alone Complex. Bagaimana pandangan Anda terhadap perkembangan AI saat ini? Apakah menurut Anda teknologi ini memengaruhi kreativitas para komponis modern?
A: Setiap teknologi baru pasti dapat memengaruhi segala bidang. Karena saya sendiri menggunakan AI untuk keperluan administrasi dan tugas lainnya, saya sering merenungkan hal ini: “AI tidak bisa merasa sakit; manusia bisa”—serta memikirkan apa arti dari rasa sakit itu sendiri.
Q: Terakhir, apa yang bisa diharapkan oleh para penonton di Lucca Comics & Games dari kehadiran Anda tahun ini? Dan apa pula yang menanti para penonton di konser PIANO ME di Milan?
A: Lucca adalah kota yang belum pernah saya kunjungi, jadi saya sangat menantikannya. Mengingat Lucca Comics & Games adalah salah satu ajang terbesar di Eropa, saya ingin merasakan skala serta energi dari orang-orang yang hadir di sana. Saya juga akan tampil di Milan, yang menandai konser perdana saya di Italia. Saya sudah lama mengagumi ekspresi musikal dari para komponis asal Italia seperti Puccini dan Ennio Morricone. Gagasan untuk tampil di sana membuat hati saya berdebar gembira. Saya berharap para penonton dapat bernyanyi bersama, bersantai, dan menikmati pertunjukan tersebut.
Kami ingin menyampaikan apresiasi kepada Lucca Comics & Games serta Yoko Kanno yang telah memungkinkan terlaksananya wawancara ini. Kami sangat antusias menyambut kehadirannya di Italia tahun ini dan berharap dapat kembali melihat penampilannya di kesempatan mendatang.
Jika Anda ingin menikmati secara langsung pertunjukan PIANO ME yang digagas dan diproduksi sendiri oleh Yoko Kanno, tiket untuk konser di Milan sudah mulai dijual.
Feature Image: © 2013 Meow on the Bridge, foto oleh Maki Umaba.







