Dalam kunjungan terakhir ke DoKomi, kami berkesempatan berbincang dengan Light dari “Hana no Machi,” sebuah komunitas yang mendedikasikan diri untuk menyajikan berbagai kegiatan kebudayaan Jepang di sebuah ruangan khusus dalam konvensi di Jerman tersebut. Kelompok ini dikenal luas berkat suasana ruangan yang unik dan nyaman bagi para tamu, serta beragam pertunjukan menarik yang memadukan unsur budaya tradisional dan modern Jepang.
Melalui wawancara ini, kami mengulas awal mula terbentuknya Hana no Machi, perjalanan serta evolusi mereka dari tahun ke tahun, hingga pesan emosional yang ingin disampaikan kepada setiap pengunjung.
Beberapa bagian dari wawancara ini telah disunting agar lebih mudah dipahami.
Bagaimana awal mula terbentuknya Hana no Machi dan alasan memilih konsep geisha?
Konvensi di Jerman umumnya sudah sangat kaya dengan konten seputar anime dan manga. Namun, para pendiri kami, Ruby dan Hikari, menyadari bahwa penawaran terkait tradisi dan budaya Jepang yang autentik masih tergolong minim. Khususnya suasana hangat di kediaman teh tradisional seperti yang ada di Kyoto, yang belum banyak mereka temui sebelumnya. Menikmati secangkir teh hangat, bersantai sambil menonton pertunjukan, serta menemukan ketenangan adalah nilai-nilai yang selalu dijunjung tinggi dalam filosofi Jepang.
Mereka ingin menghadirkan suasana tersebut sebagai inti dari area baru ini—sebuah tempat untuk merasakan dunia yang berbeda di tengah keriuhan konvensi, tempat beristirahat dan membenamkan diri dalam pengalaman menenangkan. Nama Hana no Machi sendiri sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan distrik geisha “hanamachi”, melainkan sebuah kebetulan yang menyenangkan karena berarti “kota bunga,” yang menggambarkan tempat yang indah dan beragam.

Apa saja cakupan kegiatan yang kalian hadirkan, dan kriteria apa yang digunakan dalam memilih tema serta pertunjukan?
Kami selalu berupaya merancang program yang sangat bervariasi. Kami sangat beruntung memiliki tim yang multitalenta dan penuh semangat, yang membawa beragam keahlian serta minat ke dalam kelompok. Mulai dari ikebana, origami, permainan alat musik koto, seni peran, hingga seni vokal Jepang, semuanya ada. Setiap tahun, kami selalu menentukan tema utama, seperti geisha dan maiko, modernitas, atau kisah-kisah tradisional seperti kebangkitan dewi matahari, lalu merancang setiap penampilannya agar selaras dengan tema tersebut.
Suasana seperti apa yang ingin kalian tampilkan kepada pengunjung di acara Hana no Machi?
Kami ingin menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan agar para pengunjung bisa melepas penat fisik maupun mental. Konvensi biasanya berukuran besar dan bising. Di ruang Hana no Machi, dekorasi dan suasananya dibuat ceria namun tetap tenang. Ruangan tersebut dilengkapi dengan kubus lampu warna-warni, di mana para pengunjung dapat duduk bersantai di atas bantalan lantai.
Dekorasi yang diusung kental dengan nuansa klasik Jepang, mulai dari hamparan bunga spider lilies, cabang bunga wisteria, pohon ceri, hingga yang terbaru adalah kuil kayu tempat pengunjung dapat membeli omamori (jimat keberuntungan Jepang) atau omikuji (ramalan nasib Jepang). Hana no Machi hadir untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Jepang.
Bagaimana jalannya acara pertama kalian saat berpartisipasi di DoKomi?
Kami pertama kali ikut serta dalam DoKomi pada tahun 2021. Saat itu, kami memulainya dengan perasaan gugup di tengah pembatasan ketat akibat COVID-19, kapasitas tempat duduk yang dikurangi, serta tim kecil yang hanya beranggotakan tujuh orang penampil. Meskipun demikian, kami menampilkan koreografi pertarungan, kamishibai (teater kertas tradisional Jepang) yang membawakan cerita rakyat klasik Momotaro, tarian grup idola, ikebana, bernyanyi, dan banyak lagi.

Bagaimana perkembangan Hana no Machi dari tahun ke tahun?
Hana no Machi terus berkembang secara konsisten dari tahun ke tahun, dan kami selalu mencoba berbagai hal baru. Kami juga selalu menyesuaikan konten dengan bakat yang dimiliki oleh para anggota. Seperti yang disebutkan sebelumnya, kami telah menampilkan ikebana, origami, teater bayangan tradisional, bincang-bincang informatif tentang kucing atau festival Jepang, pertunjukan geisha dan oiran, monster Yamata no Orochi, hingga drama misteri berlatar periode Edo. Pada satu kesempatan, kami bahkan menghadirkan penampil geisha yang mengajak penonton bermain permainan tradisional langsung di meja. Ada pula pertunjukan rakugo, seni penceritaan tradisional Jepang.
Dari segi musik, variasinya juga sangat kaya: mulai dari lagu tradisional maupun modern yang dimainkan menggunakan koto (siter Jepang), shamisen, shinobue (suling Jepang), hingga musik anime dan manga yang dibawakan melalui viola, gitar, atau kibor. Selalu ada hal baru yang disajikan setiap tahunnya, sehingga banyak pengunjung yang mengatakan bahwa kami adalah sorotan utama dari pengalaman mereka di DoKomi. Tentu saja hal itu membuat kami sangat bahagia. Di luar pertunjukan utama, kami juga memandu acara seperti kontes peragaan busana kimono, konsert idola, dan berbagai aktivitas lainnya.
Kalian menyelenggarakan “Akuma no Mori” untuk DoKomi 2026. Bagaimana ide tersebut bermula?
Benar sekali, kami sempat membawakan acara ini pada tahun 2025 dan 2026. “Akuma no Mori” secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “Hutan Iblis”. Pada tahun 2024, kami sempat membawakan cerita hantu, dan ternyata hal itu menginspirasi banyak anggota kami. Kami memiliki banyak ide bagus, namun konsep tersebut terasa terlalu menyeramkan dan mungkin kurang sesuai dengan konsep kenyamanan Hana no Machi serta batasan usia penonton di bawah 18 tahun.
Dari situlah muncul gagasan untuk mendedikasikan sebuah pertunjukan khusus bertema horor yang diadakan pada larut malam Sabtu dengan tiket masuk terpisah. Tahun ini, tema utamanya diambil dari film The Ring atau versi asli Jepangnya, Ringu. Kami bahkan membutuhkan bantuan khusus untuk menyingkirkan “mayat-mayat” properti yang menumpuk di atas panggung selama pertunjukan berlangsung. Itu adalah pengalaman yang sangat seru.
Tantangan apa saja yang dihadapi saat menyelenggarakan kegiatan ini? Apakah fokus pada anime dan manga menjadi batasan atau keuntungan?
Untungnya, kami memiliki kebebasan penuh dalam menentukan arah konsep dengan mengambil inspirasi dari seni klasik maupun manga dan anime modern. Pada awal kemunculannya, fokus kami murni pada seni tradisional, lalu kami mulai memasukkan unsur modern seperti penampilan idola dan musik anime ke dalam segmen pertunjukan tersendiri.
Tahun ini, untuk pertama kalinya kami mempersembahkan produksi yang didedikasikan khusus untuk satu judul anime: pertunjukan berdurasi 45 menit yang utuh dan terpadu berdasarkan serial The Apothecary Diaries. Pengalaman tersebut sangat menyenangkan, memadukan unsur vokal, seni peran, tarian, serta dialog jenaka. Menurut saya, kami tidak perlu terlalu membatasi diri dan cukup membiarkan kreativitas mengalir bebas, yang pada akhirnya energinya turut dirasakan oleh para penonton.

Apa hal yang paling kalian sukai saat menyambut para pengunjung?
Saya sangat menyukai suasana ramah dan santai di Hana no Machi yang kontras dengan hiruk-pikuk konvensi di luar sana. Kami bahkan menerapkan proses penyambutan ala Jepang. Siapa pun yang pernah berkunjung ke Jepang pasti tahu maksudnya: seseorang menyambut Anda di pintu masuk dengan senyuman hangat, menanyakan jumlah romongan, mengantar ke tempat duduk, dan menunjukkan rasa senang yang tulus atas kehadiran Anda. Sambutan hangat itulah yang ingin kami berikan agar pengunjung merasa seperti berada di rumah sendiri, sesuatu yang jarang ditemukan di panggung atau acara konvensi lainnya.
Bagaimana cara kalian mengajak seseorang yang belum mengenal sama sekali tentang Hana no Machi untuk ikut serta?
Hana no Machi adalah tempat peristirahatan yang tenang di tengah konvensi: sebuah ruang nyaman tempat Anda bisa duduk, bersantai, dan menikmati rangkaian seni budaya Jepang yang beragam. Jika Anda memiliki ketertarikan terhadap Jepang beserta kebudayaan tradisional maupun modernnya, tempat ini adalah destinasi yang tepat.
Adakah momen berkesan selama perjalanan kalian bersama Hana no Machi?
Pada suatu tahun, kami menutup rangkaian acara harian dengan membawakan lagu Country Roads versi Jepang yang telah dimodifikasi. Lirik aslinya yang berbunyi “Ano machi ni tsuzuiteru Ki ga suru” kami ubah menjadi “Hana no Machi ni…” dan seterusnya. Semua anggota kemudian naik ke panggung dan bernyanyi bersama untuk mengucapkan salam perpisahan kepada penonton. Momen itu terasa sangat indah karena merefleksikan kekompakan tim kami, baik yang tampil di atas panggung maupun yang bekerja di balik layar.
Adakah manga atau anime favorit pribadi Anda?
Saya menyukai beberapa judul masa kini, namun bagi saya pribadi belum ada yang mengalahkan karya klasik seperti Angel Sanctuary karena keindahan gaya gambar dan ceritanya, Shaman King karena filosofi dalam manganya, serta Cowboy Bebop sebagai anime berkat konsep dan musiknya yang luar biasa.
Apakah ada pesan yang ingin disampaikan kepada para penggemar Hana no Machi?
Kami sangat menyayangi kalian dan tidak sabar untuk segera berjumpa kembali! Terima kasih telah menjadikan Hana no Machi begitu sukses serta bersedia membagikan kecintaan terhadap budaya Jepang bersama kami.
Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Light dan seluruh tim Hana no Machi yang telah meluangkan waktu untuk berbagi cerita di balik ruangan istimewa yang mereka bangun di dalam konvensi. Jika memiliki kesempatan, pastikan untuk tidak melewatkan berbagai kegiatan menarik mereka di masa mendatang!






