Adaptasi anime dari STEEL BALL RUN JoJo’s Bizarre Adventure mengangkat bagian ketujuh dari manga populer karya Hirohiko Araki. Seri ini memiliki latar, kemampuan, dan struktur cerita yang sangat berbeda serta menonjol dibandingkan bagian-bagian sebelumnya. Pendekatan perilisannya pun terbilang unik; bagian pertama atau 1st STAGE tayang perdana secara global di Netflix pada 19 Maret 2026, sementara 2nd dan 3rd STAGE dijadwalkan hadir secara mingguan mulai 25 September di tahun yang sama.
Episode pembuka yang berdurasi spesial selama 47 menit sukses memikat para penggemar sekaligus menetapkan arah bagi tahapan cerita berikutnya. Dalam ajang Anime Expo, kami berkesempatan mewawancarai dua tokoh penting di balik layar produksi ini, yaitu Yugo Kanno selaku penata musik sejak bagian JoJo’s Bizarre Adventure Stardust Crusaders, serta Noriko Dohi yang terlibat dalam proses produksi sejak JoJo’s Bizarre Adventure Golden Wind. Perbincangan tersebut mengupas tuntas proses kreatif musik, pemilihan staf, hingga keputusan menggunakan model penayangan paruh musim.
Beberapa bagian dari wawancara ini telah disunting agar lebih mudah dipahami dan dibantu oleh seorang penerjemah.
Bagaimana awal mula Anda mengenal JoJo’s Bizarre Adventure, dan apa kesan pertama Anda terhadap seri ini?
Dohi-san: Saya pertama kali bersentuhan dengan JoJo saat mulai bekerja untuk Golden Wind. Waktu kecil saya tidak begitu tahu tentangnya. Saya sempat menonton beberapa bagian animenya, dan banyak orang bilang saya sangat beruntung baru mengenal JoJo saat dewasa karena karya ini memang luar biasa.
Kanno-san: Kalau saya sudah mengenalnya sejak kecil karena rutin membaca Weekly Shonen Jump. Di masa sekolah dasar, isinya agak sulit saya pahami, tetapi saat masuk sekolah menengah pertama, saya mulai mengerti. Ketertarikan saya semakin mendalam saat membaca Part 3, Stardust Crusaders, dan itulah momen pertama saya benar-benar terlibat dengan seri ini.

©LUCKY LAND COMMUNICATIONS/SHUEISHA, JOJO’s Animation SBR Project
Kanno-san, setiap bagian dalam seri ini memiliki gaya yang khas. Bagaimana proses Anda dalam menentukan gaya tersebut dan menerjemahkannya ke dalam bentuk musik?
Kanno-san: Untuk Part 7, STEEL BALL RUN, saya melihatnya sebagai kisah tentang pertumbuhan dua orang. Ceritanya berfokus pada perlombaan lintas benua serta kemunculan berbagai jenis Stand. Saya mencari kata kunci tertentu untuk memahami inti cerita tersebut. Setelah intinya ketemu, proses selanjutnya menjadi lebih cepat. Tantangannya ada pada pesan karya Mr. Araki yang sangat mendalam dan kadang sulit diuraikan, sehingga menemukan kata kunci adalah hal utama yang saya fokuskan.
Dohi-san, sebagai produser, apa hal paling penting saat mengadaptasi manga ini menjadi anime? Pelajaran apa dari Golden Wind and Stone Ocean yang dibawa ke STEEL BALL RUN?
Dohi-san: Karya asli dari Mr. Araki sangat fantastis, mulai dari pandangan dunianya, alur cerita, hingga gaya gambarnya. Menjaga keaslian tersebut dalam anime adalah hal yang krusial. Namun, sekadar setia pada sumber asli saja tidak cukup untuk menghasilkan anime yang bagus; diperlukan analisis serta pemahaman yang mendalam agar maksud asli dari karya tersebut tersampaikan secara utuh kepada penonton.
Kanno-san, sejak Stardust Crusaders, musik dalam seri ini sering memasukkan unsur jazz dan funk. Bisa ceritakan bagaimana Anda membawanya ke dalam seri ini?
Kanno-san: Musik klasik biasanya memberikan aksen pada ketukan pertama, sementara jazz dan funk memberi penekanan pada ketukan kedua dan keempat atau yang sering disebut sebagai sisi lain dari tempo. Dunia JoJo yang dinamis dan modis tidak akan bisa diungkapkan hanya dengan musik rock atau klasik. Sejak kecil saya terbiasa mendengarkan koleksi piringan hitam jazz orang tua saya, dan hal itu seolah mengalir dalam darah musik saya.
Dohi-san, sejauh mana tim produksi bekerja sama dengan ahli sejarah Amerika untuk memastikan latarnya akurat?
Dohi-san: Kami melibatkan seorang konsultan bernama Hidekazu Nishikawa yang merupakan ahli sejarah Amerika. Beliau memeriksa naskah kami untuk memastikan kesesuaian realitasnya. Beberapa hal yang kami sesuaikan di antaranya adalah nilai mata uang yang jauh lebih tinggi pada masa itu, serta penggunaan satuan mil alih-alih kilometer agar lebih relevan dengan penonton Amerika dan latar waktunya. Hal ini sudah kami diskusikan sejak tahap penulisan naskah.
Kanno-san, apakah ada pengaruh genre lain yang Anda terapkan khusus untuk STEEL BALL RUN?
Kanno-san: Tema besar perjalanan lintas benua membuat saya memikirkan unsur musik western, di samping tetap mempertahankan elemen jazz dan funk. Berbekal pengalaman dari bagian 3, 4, dan 5, saya mulai menemukan ciri khas musik JoJo. Saya mempertahankan nuansa tersebut tetapi membuatnya terasa lebih megah demi mencerminkan skala perlombaan. Saya juga menyelipkan suara putaran bola di beberapa bagian lagu tema, yang bisa dinikmati oleh para pendengar soundtrack-nya.

©LUCKY LAND COMMUNICATIONS/SHUEISHA, JOJO’s Animation SBR Project
Dohi-san, bagaimana pertimbangan tim dalam memilih staf, dan bagaimana menyeimbangkan antara staf lama yang berpengalaman dengan wajah-wajah baru?
Dohi-san: Kami mempercayakan posisi sutradara STEEL BALL RUN kepada Kimura-san—yang sebelumnya menggarap Golden Wind—karena beliau sangat mencintai STEEL BALL RUN dan secara pribadi mengajukan diri untuk mengerjakannya bersama Sutradara Takahashi.
Kanno-san: Omong-omong, semua kreator Jepang sebenarnya ingin mengerjakan proyek JoJo.
Dohi-san: Tapi tidak ada yang datang langsung untuk melamar! Padahal saya berharap lebih banyak orang yang mau menyatakannya secara terbuka.
Kanno-san, apa saja kesulitan terbesar dalam menggubah musik untuk seri ini?
Kanno-san: Saya merasakan tekanan yang datang dari seluruh dunia.
Dohi-san: Saat acara Dance with STEEL BALL RUN, saya ingat Anda berkata, “Inilah yang sudah kalian nantikan.”
Kanno-san: Bagian ini bisa dibilang sebagai proses kreatif yang paling menyiksa bagi saya. Saya seperti terkena “kutukan Part 5” karena lagu tema bagian tersebut sempat viral secara global. Ekspektasi penggemar yang begitu tinggi membuat ini menjadi pertarungan mental yang berat, tetapi hasil akhir yang saya ciptakan kali ini bahkan melampaui Part 5, dan saya merasa sangat lega.
Dohi-san, bisakah Anda menjelaskan alasan di balik keputusan merilis seri ini dalam format paruh musim (split-cour)?
Dohi-san: Ini adalah produksi anime yang sangat sulit, terutama karena adegan pacuan kuda harus digambarkan secara realistis, yang membutuhkan kerja keras luar biasa dan akting pengisi suara yang prima. Mengingat sumber aslinya yang cukup panjang, kami tidak bisa memforsir para animator untuk mengerjakannya secara terus-menerus tanpa henti. Itulah sebabnya kami memilih format paruh musim.
Meskipun penggemar tentu ingin langsung menonton kelanjutannya setelah 1st STAGE dirilis pada bulan Maret lalu, kami menyadari bahwa episode pembuka tersebut berfungsi paling baik sebagai pengenal untuk menarik minat penonton. Untuk jadwal selanjutnya, pengumuman hari ini mencakup semua informasi yang bisa kami bagikan. Selama masa penantian, ketahuilah bahwa tim staf bekerja dengan sangat keras di balik layar untuk menghadirkan tayangan terbaik bagi Anda.
Kami menyampaikan apresiasi kepada Yugo Kanno dan Noriko Dohi yang telah meluangkan waktu di sela-sela Anime Expo, serta kepada seluruh tim produksi STEEL BALL RUN. Bersamaan dengan pengumuman jadwal penayangan tahap berikutnya pada 25 September, sebuah trailer terbaru juga telah diluncurkan dalam ajang tersebut.








